Burhanuddin Muhtadi Optimistis Lazismu Mampu Himpun ZISWAF hingga Rp10 Triliun
SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Masalah Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) Indonesia bukan soal karena kekurangan derma. Satu sisi, "Indonesia termasuk negara dengan negara praktek kedermawanan terkuat se-dunia," ungkap Burhanuddin Muhtadi.
Masalah Ziswaf berikutnya bukan pula adanya ketidakpercayaan pada lembaga. Burhanuddin menyingkap pangkalnya ada kepercayaan yang tidak terhubung.
"Jadi sejauh ini praktek itu baru melekat pada orang per orang, tapi bukan kepada orang terhadap institusi," ujarnya, Jumat (6/11) saat Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Hotel Dafam Semarang, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Executive Director Indikator Politik Indonesia (IPI) ini menyebut, tugas tata kelola bukan memindahkan derma dari masjid ke lembaga, melainkan membangun jembatan.
"Tapi menaikkan mutu tata kelola saluran lokal sekaligus menurunkan jarak sosial lembaga formal," sambungnya.
Burhanuddin memotret praktek kedermawanan di Indonesia. Parameternya seberapa besar derma masyarakat Muslim di negeri ini. Hasilnya estimasi Ziswaf dalam setahun terakhir sebesar Rp. 343T dikeluarkan masyarakat Muslim dewasa dalam 12 bulan terakhir dalam bentuk zakat fitrah, zakat maal, sedekah, kurban, dan wakaf.
"Angka ini setara dengan derma sukarela yang mengalir setiap tahun tanpa paksaan negara," uraian, menggarisbawahi temuan Burhanuddin bahwa estimasinya sangat tinggi, didominasi derma ritel bernilai kecil, dan aliran ke lembaga formal sangat kecil.
"Hampir seluruh Muslim di Indonesia membayar zakat fitrah 98,5%. Yang mengatakan mengaku melakukan infak dan sedekah juga besar 74,8%," ulas Guru Besar Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Zakat fitrah dan infak/sedekah ini disebut Burhanuddin, sebagai praktek derma yang minim dengan interaksi lembaga formal. Sementara, untuk kurban yang melakukan sebesar (10,2%), zakat maal (9,3%), dan wakaf (5,8%).
"Kalau kita lihat lembaga-lembaga Ziswaf itu umumnya bergerak di kurban, zakat maal, dan wakaf," bebernya.
Menurut Burhanuddin, sebagian besar dana filantropi masih disalurkan melalui lembaga informal. Sementara, untuk lembaga formal baik BAZNAS, Lazismu, belum menjadi pilihan utama umat Islam.
Karena itu, Burhanuddin mendorong Lazismu dapat meningkatkan penetrasi dan memperluas keterlibatannya dalam praktek filantropi. Yakni dengan meningkatkan kedekatan dan pengenalan Lazismu di tengah masyarakat.
"Lazismu ini tingkat kepercayaan paling tinggi di antara lembaga-lembaga negara seperti BAZNAS. Jadi ini modal sosial yang bagus buat Lazismu," tegasnya.
Namun, di satu sisi, tingginya kepercayaan itu belum berbanding lurus dengan tingkat pengenalan masyarakat terhadap eksistensi Lazismu.
Bahkan, dikalangan Muhammadiyah sendiri, katanya, belum seluruhnya mengetahui belum seluruhnya mengetahui Lazismu sebagai lembaga penghimpunan dan penyalur dana Ziswaf.
"Jadi, tingkat kepercayaannya tinggi, tetapi banyak yang belum tahu bahwa Lazismu itu menyalurkan dan mengumpulkan Ziswaf," tuturnya.
Pada saat yang sama, Lazismu diminta untuk memperbanyak best practice dari program pemberdayaan yang dilakukan. Menurut Burhanuddin, berbagai raihan keberhasilan Lazismu dalam membantu masyarakat, baik melalui pemberdayaan ekonomi, pengembangan UMKM, pengentesan kemiskinan, maupun pemberian beasiswa, perlu dipublikasikan secara lebih luas.
"Jadi jangan terlalu "rendah hati", jangan terlalu tawadhu', karena kalau terlalu tawadhu' orang tidak tahu bahwa Lazismu sudah melakukan banyak hal," tekannya.
Publikasi itu, lanjutnya, sangat penting untuk mendorong penyaluran Ziswaf yang lebih tersistematisasi dan terorganisir dan memiliki dampak jangka panjang.
"Jadi kalau misalnya lewat informal, apalagi sifatnya konsumtif, itu dampak atau outcome-nya itu tidak langsung, tidak bisa dirasakan untuk jangka panjang," ujarnya.
Burhanuddin berharap Lazismu dapat memperkuat perannya sebagai lembaga penghimpunan sekaligus penyalur Ziswaf yang profesional dan berdampak. Bahkan, ia yakin dan optimis, Lazismu mampu menghimpun dana tidak hanya Rp.1T, tapi tembus Rp.10T.
"Lazismu ini menjadi satu lembaga pengumpul dan sekaligus distributor ziswaf sebagai instrumen penting untuk pemberdayaan umat," tandasnya. (Cris)