Cabang Ranting dan Masjid Muhammadiyah Harus Mandiri Ekonomi

Muhammad Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog. Foto: Ganjar
Muhammad Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog. Foto: Ganjar

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Kemandirian ekonomi menjadi salah satu agenda penting Muhammadiyah dalam memperkuat gerakan dakwah. Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) yang memiliki unit usaha mandiri akan lebih berdaya, tidak selalu bergantung pada bantuan, serta mampu menopang kegiatan dakwah dan pelayanan kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jamaludin Ahmad, dalam penutupan Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship yang diselenggarakan LPCRPM PP Muhammadiyah di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Ahad (1/11).

Menurut Jamaludin, penguatan ekonomi bukan sekadar upaya memperoleh keuntungan, tetapi juga jalan untuk mendekatkan masyarakat pada kesejahteraan. Karena itu, CRM harus menjadi ujung tombak dakwah riil yang mampu menghadirkan manfaat langsung bagi umat. Salah satu langkah pentingnya adalah menghidupkan dan mengembangkan unit-unit usaha mandiri.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan dakwah sejak masa Rasulullah juga didukung oleh perpaduan kekuatan intelektual, semangat generasi muda, dan kemandirian ekonomi. Sejumlah sahabat Nabi merupakan sosok muda, cerdas, sekaligus saudagar yang memiliki kekuatan ekonomi untuk mendukung perjuangan Islam.

Semangat serupa juga terlihat dalam sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan. Dalam mengembangkan Muhammadiyah, pendiri Muhammadiyah tersebut dikelilingi generasi muda yang progresif, cerdas, dan memiliki kemampuan ekonomi. Di antara tokoh yang disebut Jamaludin adalah Haji Syarkawi, Haji Sudja, Haji Fakhruddin, dan Haji Tamim.

Menurutnya, KH Ahmad Dahlan juga menjalankan aktivitas dakwah beriringan dengan kegiatan perdagangan. Jejaring ekonomi dan sosial yang dibangun kemudian menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan Muhammadiyah ke berbagai daerah. Kehadiran Muhammadiyah di berbagai wilayah tidak terlepas dari upaya membangun jejaring dan memperkuat basis gerakan dakwah melalui Cabang dan Ranting.

"Dakwah Muhammadiyah akan semakin kuat apabila ada perpaduan antara jiwa muda yang progresif, kecerdasan, dan kekuatan ekonomi. Ketiganya menjadi modal penting untuk menggerakkan Persyarikatan," ungkapnya.

Dari rangkaian workshop tersebut, Jamaludin merumuskan sejumlah agenda strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi Muhammadiyah. Di antaranya membentuk jamaah swadaya Muhammadiyah, mengonsolidasikan konsumsi warga Muhammadiyah agar memiliki daya dukung terhadap usaha sendiri, memberdayakan UMKM, mendirikan usaha mikro, mengembangkan model usaha berbentuk holding, serta mengoptimalkan sinergi antar-Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Ia berharap berbagai gagasan tersebut tidak berhenti sebagai hasil diskusi selama workshop, tetapi ditindaklanjuti menjadi program nyata di tingkat Cabang, Ranting, dan Masjid.

Melalui penguatan ekonomi yang terencana dan kolaboratif, CRM diharapkan semakin mandiri, produktif, dan berdaya. Dengan demikian, kekuatan ekonomi tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga menjadi penopang keberlanjutan dakwah Muhammadiyah menuju Islam berkemajuan. (gsh).