Cahaya di Balik Air Mata: Menemukan Penghiburan Surgawi dalam Perjalanan Isra Mi’raj
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Dalam lembaran sejarah Islam, tidak ada peristiwa yang lebih penuh keajaiban dan misteri selain Isra Mi’raj—sebuah perjalanan malam melintasi ruang dan waktu yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, sebuah pertanyaan besar sering kali muncul di benak kita: bagaimana sebenarnya hakikat perjalanan luar biasa ini? Apakah Rasulullah menjalaninya secara fisik melintasi cakrawala, ataukah ini merupakan sebuah singkapan spiritual yang teramat dalam?
Perdebatan mengenai sifat perjalanan ini sebenarnya telah ada sejak masa awal Islam. Al-Quran dalam Surah Al-Isra ayat 1 memberikan gambaran yang megah: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami..."
Mayoritas ulama dan umat Islam meyakini pandangan tradisional bahwa perjalanan ini terjadi secara fisik dan ruhani. Artinya, tubuh dan jiwa Nabi benar-benar berpindah dari Makkah ke Yerusalem, lalu naik ke langit tertinggi. Namun, sejarah juga mencatat pandangan lain yang sangat menarik. Beberapa sahabat terdekat, termasuk Aisyah r.a., cenderung melihat peristiwa ini sebagai sebuah visi spiritual (ru’ya) yang sangat nyata. Dalam pandangan ini, meski jasad beliau tetap berada di tempatnya, jiwa beliau mengalami perjalanan yang melampaui batas-batas dunia materi.
Menengahi hal ini, Ibnu Ishaq, sejarawan biografi Nabi yang paling awal, memberikan catatan yang sangat bijak. Beliau menegaskan bahwa apa pun metodenya—apakah itu tubuh dan jiwa atau jiwa saja—pengalaman tersebut adalah sebuah realitas yang absolut. Bagi Rasulullah, pertemuan itu nyata, tanda-tanda kebesaran Tuhan itu nyata, dan pesan yang dibawa kembali ke bumi pun nyata adanya. Inilah inti yang paling penting bagi keimanan kita.
Memahami Isra Mi’raj tidak lengkap tanpa melihat konteks emosional yang melatarbelakanginya. Peristiwa ini bukanlah sebuah "pertunjukan kekuasaan" tanpa alasan, melainkan sebuah penghiburan surgawi (divine consolation).
Sesaat sebelum perjalanan ini terjadi, Nabi Muhammad SAW berada dalam titik terendah dalam hidupnya yang dikenal sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Bayangkan beban yang beliau pikul adalah kehilangan pelindung (pamannya, Abu Thalib, yang menjadi perisai politik dan sosialnya, wafat); kehilangan belahan jiwa (Khadijah r.a., istri tercinta sekaligus pendukung moral utamanya, juga berpulang); penolakan yang menyakitkan (saat beliau mencoba mencari perlindungan ke kota Tha’if, beliau justru diusir, dihina, dan dilempari batu hingga terluka)
Di tengah kepungan duka dan penolakan penduduk bumi inilah, Allah SWT mengundang beliau ke langit. Perjalanan malam ini adalah pesan bahwa meski bumi terasa sempit dan penduduknya menolak, seluruh semesta dan Penciptanya menyambut beliau dengan kemuliaan yang tak tertandingi. Isra Mi’raj adalah bukti bahwa setelah kesulitan yang luar biasa, akan selalu ada pengangkatan derajat yang luar biasa.
Perjalanan menuju momen puncak Isra Mi’raj dimulai dari sebuah luka fisik dan batin yang amat perih di kota Tha’if. Dengan harapan mendapatkan perlindungan dan dukungan bagi dakwahnya, Rasulullah SAW justru disambut dengan kebencian yang luar biasa. Penduduk kota tersebut tidak hanya menolak pesannya, tetapi juga mengejek dan melemparinya dengan batu. Sejarah mencatat betapa pilunya momen itu—kaki suci beliau berdarah, dan hatinya pun teriris.
Namun, di sinilah keagungan sifat Nabi Muhammad SAW terpancar. Saat beliau beristirahat dengan penuh luka dan memanjatkan doa yang amat menyentuh kepada Allah, langit seakan ikut menangis. Dikisahkan bahwa Malaikat Penjaga Gunung turun ke bumi, menawarkan sebuah pembalasan yang mengerikan: “Jika engkau mau, ya Muhammad, akan kuhimpit mereka di antara dua gunung ini.”
Jawaban beliau menjadi tinta emas bagi definisi kasih sayang. Tanpa dendam sedikit pun, beliau menolak tawaran itu dan justru mendoakan keturunan mereka agar kelak menjadi penyembah Allah yang Esa. Inilah titik di mana beliau mengukuhkan jati dirinya sebagai Rahmatan lil 'Alamin—rahmat bagi semesta alam—seorang Nabi yang memilih memberikan maaf di saat ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan.
Sebagai jawaban atas ketulusan beliau yang hanya mencari "Wajah Allah" di tengah badai penderitaan dunia, Allah memanggilnya ke singgasana tertinggi. Melalui perantara Jibril dan kendaraan Buraq yang kecepatannya melampaui imajinasi manusia, Rasulullah SAW menembus lapisan-lapisan langit dalam sekejap mata.
Puncak dari pendakian spiritual ini terjadi di Sidratul Muntaha, batas akhir dari segala pengetahuan makhluk. Di titik ini, bahkan Malaikat Jibril pun harus berhenti karena tak sanggup melangkah lebih jauh. Namun, Muhammad SAW diizinkan melintasi batas tersebut sendirian untuk mencapai kedekatan yang tak tertandingi. Al-Quran menggambarkan keintiman ini dalam Surah An-Najm (53) ayat 9: “Maka jadilah dia dekat (pada Allah) sejauh dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat lagi.”
Dalam keheningan transendental itu, Allah mewahyukan rahasia-rahasia suci-Nya. Beberapa mufassir meyakini bahwa ayat-ayat terakhir Surah Al-Baqarah yang penuh dengan pesan tanggung jawab dan ampunan diturunkan langsung di hadirat-Nya pada malam yang mulia tersebut.
Di antara semua wahyu yang diterima, ada satu perintah yang kedudukannya sangat istimewa: Salat lima waktu. Jika perintah-perintah syariat lainnya seperti zakat atau puasa turun saat Nabi berada di bumi melalui perantara wahyu, perintah salat mengharuskan Nabi SAW datang langsung menghadap Sang Pencipta.
Hal ini menjadi simbol betapa krusialnya salat dalam kehidupan seorang Muslim. Salat adalah hadiah langsung dari langit, sebuah sarana bagi setiap hamba untuk "bertemu" dan berkomunikasi dengan Tuhannya. Dengan menetapkan lima waktu salat, Allah seolah memberikan jalan bagi setiap umat Muhammad untuk merasakan percikan "Mi'raj" atau kenaikan spiritual setiap harinya, meskipun mereka tetap berpijak di bumi. Peristiwa ini menegaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kehormatan dan jembatan langsung menuju Sang Maha Tinggi.
Salah satu momen paling ikonik dalam fragmen Isra Mi’raj adalah ketika Rasulullah SAW menginjakkan kaki di "Masjid Terjauh" atau Masjidil Aqsa. Di tempat yang kini kita kenal sebagai Kompleks Baitul Maqdis, terjadi sebuah peristiwa yang menggetarkan semesta: Nabi Muhammad SAW berdiri di depan dan mengimami salat yang makmumnya adalah ruh-ruh para nabi dan rasul terdahulu.
Peristiwa ini bukan sekadar pertemuan lintas zaman, melainkan sebuah simbolisme yang amat dalam. Dalam konsep Islam, momen ini menegaskan kedudukan beliau sebagai Imamul Anbiya—pemimpin dari seluruh nabi. Jika para nabi sebelumnya diutus dengan misi yang terbatas pada suku, bangsa, atau wilayah tertentu, Muhammad SAW hadir sebagai nabi universal bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Kepemimpinan beliau dalam salat tersebut menandakan bahwa beliau membawa syariat penyempurna yang tidak hanya membenarkan ajaran para pendahulu, tetapi juga menyatukan seluruh risalah langit dalam satu naungan yang utuh dan berlaku abadi.
Seiring berjalannya waktu, ingatan kolektif umat Islam tertuju pada bulan Rajab, bulan di mana peristiwa agung ini secara tradisional diyakini terjadi—khususnya mendekati malam ke-27. Namun, bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi momentum ini? Apakah ada ritual khusus yang diwajibkan?
Secara tekstual, tradisi Islam tidak menetapkan bentuk ibadah khusus yang bersifat wajib untuk merayakan malam Isra Mi’raj. Namun, ketiadaan ritual formal bukan berarti kehilangan makna. Bagi seorang Muslim, peringatan ini adalah momentum untuk melakukan internalisasi spiritual. Mengingat kembali bagaimana Rasulullah diperlihatkan realitas surga yang penuh kenikmatan serta neraka yang penuh peringatan, seharusnya mampu menggetarkan relung hati yang paling dalam.
Alih-alih sekadar perayaan seremonial, umat Islam diajak untuk menjadikan momen ini sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kualitas diri. Pertama, memperbaiki shalat; mengingat bahwa shalat adalah "oleh-oleh" langsung dari pertemuan dengan Allah. Kedua, zikir dan tilawah; mendekatkan diri kepada Sang Khalik melalui lantunan ayat-ayat suci yang mengisahkan kebesaran-Nya; dan ketiga refleksi sosial; menebar sedekah dan kebaikan, meneladani sifat Rahmatan lil 'Alamin yang ditunjukkan Nabi pasca peristiwa Tha’if.
Pada akhirnya, menghormati Isra Mi’raj adalah tentang menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap helai napas kita. Ini adalah waktu untuk memperbarui iman, memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, dan memastikan bahwa semangat perjalanan cahaya tersebut tetap hidup di dalam dada setiap Muslim sepanjang tahun.

