Cegah Jejak Digital Hancurkan Karier Masa Depan, SMK 1 Muhammadiyah Semarang Bekali Siswa Baru dengan Literasi Siber
SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Ratusan siswa baru SMK 1 Muhammadiyah Semarang mengikuti sesi pembekalan literasi digital yang berfokus pada bahaya rekam jejak digital dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di aula sekolah, Senin (13/7/2026).
Menggandeng Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, kegiatan ini bertujuan membentengi generasi muda dari kesalahan fatal di media sosial yang berpotensi merusak peluang karier mereka di masa depan.
Koordinator Media Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kota Semarang, Agung S Bakti, hadir sebagai narasumber utama. Mantan Direktur Lembaga Riset Keamanan Siber Cissrec.org ini secara lugas membongkar rasa aman palsu para peserta yang kerap merasa tak tersentuh saat menggunakan akun anonim di dunia maya.
"Hanya dalam 60 detik setelah kalian terhubung ke jaringan nirkabel sekolah, aktivitas daring hingga gim apa yang kalian mainkan semalaman bisa dilacak," tegas Agung di hadapan para siswa.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pangkalan data pada server raksasa selalu merekam alamat IP penggunanya. "Di masa depan, tim rekrutmen perusahaan multinasional pasti melacak jejak kelam tersebut. Jangan sampai masa depan dan karier kalian hancur karena kebodohan jempol kalian di hari ini," pesan tegas alumnus program International Visitor Leadership Program (IVLP) bidang Jurnalisme Investigatif dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tersebut.
Ancaman Deepfake dan Bahaya Menjadi "Bot Gratisan"
Selain etika berkomunikasi, pria yang juga berprofesi sebagai Konsultan Media dan Humas dari Indoriset Communication ini turut membedah ancaman hoaks dan manipulasi kecerdasan buatan (deepfake) yang membuat video palsu terlihat sangat nyata. Ia memberikan peringatan keras kepada siswa yang gemar meneruskan informasi tanpa verifikasi.
"Kalau kalian membagikan berita palsu, kalian bukan lagi pengguna teknologi, tapi sudah menjadi bot gratisan bagi penyebar hoaks tersebut," ungkapnya.
Untuk mengatasi jebakan emosional di dunia maya, Agung menawarkan solusi taktis. Setiap kali emosi memuncak akibat konten ekstrem, pengguna wajib menunda respons selama tiga detik. Menurutnya, budaya "Saring sebelum Sharing" adalah kunci utama menjaga rekam jejak digital tetap bersih.
Dalam paparannya, Agung juga menyoroti akar masalah dari komentar reaktif di media sosial, yang sering kali dipicu oleh kondisi psikologis yang lelah akibat kecanduan gim daring. Ia menjelaskan bahwa banyak gim sengaja dirancang untuk membajak hormon dopamin pemain, menyebabkan kelelahan otak kronis yang berujung pada ketidakstabilan emosi.
"Kalau jam tidur kalian berantakan dan kalian marah besar saat main, itu artinya gim tersebut yang memainkan kalian," jelasnya. Ia menuntut para remaja untuk memegang kendali penuh atas gawai mereka agar tidak mudah terpancing emosi yang berujung pada kesalahan fatal di media sosial.
Menanggapi darurat literasi siber di kalangan remaja, Kepala SMK 1 Muhammadiyah Semarang, Lukman Hakim, S.Pd., M.M., menegaskan komitmen institusinya dalam mendidik karakter siswa. Terlebih, sekolah ini baru saja dikukuhkan sebagai "Sekolah Penguat Karakter Inovatif" oleh harian Jawa Pos.
"Godaan dalam dunia digital itu sangat berat. Dalam praktiknya, kita menolak keras normalisasi ucapan buruk yang sering muncul di media sosial. Anak-anak harus tahu mana yang pantas dan tidak pantas dibagikan," ungkap Lukman.
Beliau menambahkan bahwa kehadiran MPI PDM Kota Semarang sebagai pakar edukasi adalah langkah strategis sekolah. "Kami ingin lulusan SMK 1 Muhammadiyah Semarang tidak hanya unggul secara akademis dan vokasi, tetapi juga bertransformasi menjadi penguasa teknologi yang bijak, bukan sekadar budak algoritma," pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, SMK 1 Muhammadiyah Semarang berharap para siswa baru dapat menjadikan literasi digital sebagai fondasi utama dalam memanfaatkan kecepatan dan koneksi internet tanpa batas, demi menunjang kesuksesan karier mereka di masa mendatang.
Berlokasi strategis di jantung Semarang Tengah, SMK 1 Muhammadiyah Semarang bukan sekadar lembaga pendidikan vokasi biasa. Kami adalah kawah candradimuka yang memadukan keunggulan keterampilan teknologi dengan fondasi karakter Islami yang tangguh.
Diakui secara bergengsi sebagai "Sekolah Penguat Karakter Inovatif" oleh harian Jawa Pos, SMK 1 Muhammadiyah Semarang berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya mahir di dunia industri, tetapi juga cerdas secara emosional dan beretika di era digital. (Adib)

