YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Nabi Muhammad Saw merupakan sosok yang sangat mulia dan telah memberikan suluh keteladanan kepada umat manusia sejagat. Tak ayal, bila banyak menaruh atensi khusus dengan mengekspresikan kecintaan kepadanya.
“Apakah kita cinta Rasul? Tanya Agus Taufiqurrahman. Jawaban di permukaan kentara, amat dan sangat mencintai. Bukti konkretnya apa? “Kami sering membaca selawat,” ujar Agus.
Demikian tidaklah keliru, sebab telah menjadi bagian instrumen Al-Qur’an. “Membaca selawat perintah Al-Qur’an,” tambahnya. Bahkan, disebut Agus, selawat dapat menghubungkan hati dengan Rasul. “Maka kita berselawat, berselawat dengan baik,” tuturnya.
Yang jadi soalan kemudian, sudah berselawat, tetapi menampilkan laku yang devian di kehidupan. Di sinilah perlu atensi secara saksama dalam pengejawantahan di lapangan.
“Sungguh aneh ketika kita membaca selawat, tetapi cara yang kita pakai tidak seperti yang diajarkan oleh Rasul,” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Jumat (21/8) dalam Pengajian Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid Islamic Center UAD Kampus 4 Yogyakarta.
Di samping itu, gemar mempelajari sirah Nabi yang merangkum catatan komprehensif perjalanan hidupnya dari sebelum kelahiran, masa kecil, masa dewasa, hingga wafatnya.
“Semakin mengenal, semakin cinta,” ucapnya, menambahkan lagi variabel berikutnya, mengikuti dan mengamalkan sunah-sunah yang diteladankannya.
“Itulah bukti nyata cinta kita kepada Rasulullah Saw,” kata Agus.
Dalam tilikan kesehatan, tak dimungkiri, banyak keteladanan yang bisa diserap yakni pertama, aktif bergerak. Sepanjang hidupnya, kata Agus, Nabi Muhammad Saw aktif bergerak dalam berdakwah. “Perbanyak aktif bergerak setiap hari. Tubuh bergerak, hidup jadi berkah,” ujarnya.
Kedua, makan seimbang. Diakui saat ini makan seimbang menjadi persoalan serius. “Kurang albumin (protein utama yang diproduksi oleh organ hati dan ditemukan dalam plasma darah), sekarang sakitnya over nutrisi,” beber Agus. Karena itu, kemampuan mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan biologis menjadi penting agar tidak memicu berbagai penyakit.
Ketiga, tidur dan istirahat. Fenomena begadang sampai larut malam menjadi tren saat ini. Aktivitas itu tidak baik bila dilakukan terus-menerus. “Tidur yang cukup adalah kunci pemulihan tubuh dan dan pikiran,” tegasnya. Tidur bukan sekadar istirahat. “Di situ memberi kesempatan tubuh membangun seluruh hal-hal yang harus diperbaiki,” terangnya.
Keempat, berpuasa. Puasa menyehatkan badan, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah. “Jaga sehat agar kuat ibadah, produktif bekerja, dan bermanfaat bagi sesama,” sebut Agus.
Bagi Agus, meneladani Rasulullah Saw tidak hanya diwujudkan melalui pengakuan cinta. Lebih dari itu, kecintaan tersebut harus teraktualisasi dalam perilaku nyata, terlebih dalam menjaga diri agar tetap sehat. (Cris)

