Dadang Kahmad Dorong MPI Kuasai Ruang Informasi

Suara Muhammadiyah

17 July 2026

58
Rakernas MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah di UMP

Rakernas MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah di UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dadang Kahmad, mengatakan bahwa saat ini Muhammadiyah belum menjadi rujukan utama masyarakat dalam dakwah digital. Padahal, menurutnya, era saat ini merupakan momentum bagi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) untuk memimpin penyebaran Islam Berkemajuan melalui ruang digital. 

Hal itu disampaikan Dadang saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2026). 

Menurut Dadang, dakwah Muhammadiyah tidak lagi cukup dilakukan dari mimbar ke mimbar. Dakwah kini harus hadir melalui buku, jurnal, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). 

"Majelis Pustaka dan Informasi sesungguhnya merupakan jantung dakwah Muhammadiyah. Dakwah pada zaman sekarang tidak cukup dilakukan hanya dari mimbar ke mimbar, tetapi harus berlangsung melalui buku, jurnal, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital hingga kecerdasan artifisial. Siapa yang menguasai ruang informasi, ia memiliki peluang besar membentuk cara berpikir masyarakat," kata Dadang. 

Ia menilai, masyarakat kini hidup di era banjir informasi. Berbagai platform digital membuat informasi mudah diakses, namun tidak selalu diiringi dengan kebijaksanaan, etika, maupun kebenaran. 

Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh menjadi korban disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, maupun polarisasi sosial. Sebaliknya, Muhammadiyah harus tampil sebagai sumber informasi yang terpercaya, mencerahkan, menenangkan, dan mempersatukan. 

Dadang juga menegaskan pentingnya prinsip tabayun atau verifikasi informasi sebagaimana diajarkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6. Menurutnya, prinsip tersebut bukan hanya fondasi komunikasi Islam, tetapi juga menjadi dasar jurnalisme modern. 

Belum Memimpin Dakwah Digital 

Dalam sambutannya, Dadang mengaku prihatin karena Muhammadiyah belum menjadi pemain utama di ruang dakwah digital. 

Ia mencontohkan, berbagai pertanyaan mendasar mengenai ajaran Islam yang dicari masyarakat melalui mesin pencari maupun AI masih lebih banyak menampilkan sumber dari kelompok lain dibandingkan Muhammadiyah. 

"Ketika kita bertanya di Google atau AI tentang kaifiyat salat dhuha atau salat rawatib, yang muncul bukan Muhammadiyah. Ini harus menjadi evaluasi agar Muhammadiyah menjadi rujukan utama dalam menjawab persoalan-persoalan fundamental keagamaan," ujarnya. 

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan dakwah digital Muhammadiyah masih tertinggal. Bahkan, akun media sosial milik media Muhammadiyah maupun portal resmi Persyarikatan dinilai belum memiliki jangkauan yang seharusnya. 

"Saya ingin pimpinan Muhammadiyah sadar bahwa menyebarkan dakwah hari ini harus melalui media digital. Kita harus menjadi leading di ruang informasi," tegasnya. 

AI Harus Dimanfaatkan untuk Dakwah 

Dadang juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang dinilai akan mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga berdakwah. 

Menurutnya, Muhammadiyah tidak boleh memandang AI sebagai ancaman semata, tetapi harus mampu memanfaatkannya secara kritis berdasarkan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan etika kemanusiaan. 

Ia berharap Rakernas MPI mampu menyusun peta jalan transformasi digital Muhammadiyah yang mencakup penguatan literasi digital warga Persyarikatan, pengembangan arsip digital dan perpustakaan Muhammadiyah, penguatan media Muhammadiyah sebagai rujukan publik, pengembangan konten dakwah yang kreatif dan mudah dipahami generasi muda, serta penyusunan pedoman etika pemanfaatan AI. 

"Konten dakwah kita jangan rumit. Generasi sekarang menginginkan konten yang mudah dipahami, kreatif, dan cepat diakses. AI harus dimanfaatkan untuk menyebarkan Islam Berkemajuan dan nilai-nilai kemanusiaan," kata Dadang. 

Di akhir sambutannya, Dadang mengajak seluruh unsur Muhammadiyah menjadikan MPI sebagai pusat pengembangan literasi, dokumentasi sejarah Persyarikatan, penguatan media digital, penerbitan ilmiah, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang komunikasi dan informasi. 

Menurutnya, jika seluruh majelis, lembaga, organisasi otonom, dan amal usaha Muhammadiyah bekerja secara kolaboratif, maka dakwah digital Muhammadiyah akan semakin luas jangkauannya serta semakin besar manfaatnya bagi bangsa dan kemanusiaan. (thar/diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di Kota Yogyakarta terdapat 16 Musholla ‘Aisyiyah (MA) yang t....

Suara Muhammadiyah

23 March 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

30 November 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bangunan ternyata menjadi salah satu penyumbang terbesar kons....

Suara Muhammadiyah

21 August 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tidak bisa dinafikan, saat ini dunia media benar-benar mengha....

Suara Muhammadiyah

20 January 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) bersama Asosiasi Ten....

Suara Muhammadiyah

8 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah