Dakwah Muhammadiyah Harus Adaptif

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
195
Dokumentasi Pribadi oleh Naf

Dokumentasi Pribadi oleh Naf

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta menggelar pengajian bertema tantangan dakwah dan kaderisasi di era perubahan sosial dan teknologi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Dalam pengajian tersebut hadir Dr Bachtiar Dwi Kurniawan, SFilI., MPA., Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai pemateri utama. Ia menyoroti berbagai tantangan dakwah Muhammadiyah di tengah dinamika budaya masyarakat sekaligus pentingnya memperkuat kaderisasi persyarikatan.

Bachtiar menjelaskan bahwa perkembangan berbagai kegiatan budaya di masyarakat menjadi salah satu tantangan dakwah. Ia mencontohkan maraknya festival budaya dan kesenian tradisional yang kembali hidup di sejumlah daerah.

Menurutnya, Muhammadiyah tidak perlu bersikap anti terhadap budaya tersebut. Sebaliknya, budaya perlu diarahkan agar tidak bertentangan dengan nilai tauhid.

“Saya pribadi tidak anti terhadap keseniannya. Tetapi bagaimana budaya itu bisa diarahkan agar tidak bertentangan dengan akidah dan nilai tauhid,” ujarnya.

Selain tantangan budaya, Bachtiar juga menegaskan karakteristik Islam yang didakwahkan Muhammadiyah. Ia menyebutkan bahwa Muhammadiyah mengusung Islam yang rasional, ilmiah, dan berkemajuan.

Dalam praktiknya, warga Muhammadiyah didorong untuk bersikap objektif dan tidak mudah terbawa emosi dalam kehidupan organisasi. Sikap rasional tersebut menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah.

Di sisi lain, Muhammadiyah juga mempromosikan Islam yang moderat atau wasathiyah. Islam yang dimaksud adalah Islam yang seimbang antara dimensi intelektual dan spiritual, antara mikir dan zikir.

Lebih lanjut, Bachtiar menekankan bahwa misi Islam berkemajuan adalah menghadirkan manfaat bagi seluruh umat manusia. Dakwah Muhammadiyah, menurutnya, harus bersifat menggembirakan dan memberikan pelayanan kepada semua kalangan tanpa membedakan latar belakang sosial, budaya, maupun profesi.

Dalam konteks keberlanjutan gerakan, ia menegaskan bahwa kaderisasi menjadi kunci penting bagi masa depan Muhammadiyah. Menurutnya, proses kaderisasi Muhammadiyah selama ini berkembang melalui beberapa fase, yakni keluarga, organisasi otonom (ortom), serta amal usaha Muhammadiyah (AUM).

Pada masa awal berdirinya persyarikatan yang dirintis oleh Ahmad Dahlan, kader Muhammadiyah banyak berasal dari lingkungan keluarga dan sahabat dekat. Ikatan kekeluargaan bahkan menjadi basis kuat dalam membangun rasa memiliki terhadap gerakan Muhammadiyah.

Seiring perkembangan organisasi, peran ortom seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci menjadi sumber penting kader kepemimpinan. Namun, pesatnya perkembangan amal usaha Muhammadiyah membuat kebutuhan kader semakin besar.

Karena itu, Bachtiar menekankan pentingnya pembinaan ideologi dan kaderisasi di lingkungan amal usaha. Perguruan tinggi, rumah sakit, maupun sekolah Muhammadiyah tidak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga ruang pembinaan kader melalui program Al-Islam Kemuhammadiyahan dan kegiatan Baitul Arqam.

Selain itu, ia juga mendorong perluasan basis kaderisasi ke berbagai komunitas masyarakat, seperti komunitas olahraga, seni, maupun kelompok hobi. Melalui pendekatan tersebut, nilai-nilai Islam dan semangat dakwah Muhammadiyah diharapkan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

Menutup pemaparannya, Bachtiar menyinggung tantangan baru di era disrupsi teknologi. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan, internet of things, dan dunia digital menuntut Muhammadiyah untuk mengembangkan model kaderisasi yang lebih adaptif.

“Generasi Muhammadiyah ke depan adalah generasi digital. Maka pengaderan juga harus mampu menjangkau ruang digital,” ujarnya.

Ia menilai bahwa metode kaderisasi seperti Baitul Arqam ke depan dapat dikembangkan secara hibrida dengan memanfaatkan teknologi digital. Dengan cara tersebut, kaderisasi Muhammadiyah diharapkan tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman. (Naf)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 1421 siswa-siswi SMP Muhammadiyah se Daerah Sleman mengi....

Suara Muhammadiyah

2 February 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Islam itu berkemajuan. Hal ini tercermin melalui para pendahulu yang me....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Busyro Muqoddas menyampaikan....

Suara Muhammadiyah

14 November 2024

Berita

CIREBON, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedawung adakan Kunjungan Stu....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Berita

LAMTIM, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Lampung mengada....

Suara Muhammadiyah

15 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah