Dakwah Tidak Akan Lancar Tanpa Dukungan Budaya

Suara Muhammadiyah

17 June 2026

356
Dr KH Tafsir, MAg

Dr KH Tafsir, MAg

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Sebagian kalangan nun jauh di sana memandang Muhammadiyah anti budaya. Justifikasi itu dipatahkan oleh Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

“Saya ini Ketua PWM Jawa Tengah, tapi dapat penghargaan dari Paguyuban Pasinaon Jawi. Penghargaanya berupa keris,” ucap Tafsir, Selasa (16/6) saat Soft Opening ‘Aisyi Tower Klaten.

Lebih dari itu, belum lama ini, kata Tafsir, ia baru saja mendapat SK dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai pengawas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

“Saya pikir hubungannya apa,” seloroh Tafsir.

Ia sempat merenung untuk mencari titik temu dari itu semua. “Nyambungnya di mana?” tanyanya. Ia menemukan jawabannya setelah bertanya ke Paguyuban Pasinaon Jawi. 

“Karena sering bicara hubungan antara Islam dan budaya. Hubungan antara Muhammadiyah dan budaya,” tekannya.

Bagi Tafsir, ini sangat penting dalam dakwah. “Karena dakwah tidak mungkin lancar tanpa dukungan budaya,” tegasnya. Sehingga agama apa pun di dunia ini, menurutnya, agama yang telah dibudayakan.

“Tidak ada agama yang murni terlepas dari budaya (kultur) obyek dakwahnya,” imbuh Tafsir.

Mencontohkan agama Kristen, yang disebutnya mendominasi di wilayah Eropa. Kenapa? “Karena Kristen mengubah wajah dari Arab ke Eropa,” bebernya.

Sehingga kemudian yang muncul merupakan kultur Eropa, bukan kultur Arab. “Walaupun Kristen turun di Betlehem,” ujarnya, yang menyebut wajah budaya Arab dalam tradisi Kristen menjadi semakin samar akibat kuatnya pengaruh dan proses Eropanisasi.

“Itu yang kemudian orang Eropa nyaman dengan Kristen. Sehingga seolah-olah Eropa identik dengan Kristen,” terang Tafsir.

Demikian pula halnya dengan Bali. Menurut Tafsir, secara tegas dinyatakan bahwa Bali bukanlah Hindu. “Tetapi memasuki Sandyakala ning Majapahit: sirna ilang kertaning bumi,” ujarnya. Dalam proses sejarah berikutnya, Islam masuk dan menyebabkan transformasi budaya Jawa menjadi muslim.

Perbedaan utama antara Bali dan Jawa terletak pada trajektori keagamaan keduanya: Jawa mengalami Islamisasi yang mengubah identitas budaya dominan menjadi Muslim, sedangkan Bali mempertahankan tradisi dan kepercayaan yang kemudian dikenal sebagai Hindu Bali. 

Akibatnya, meski kedua wilayah berdekatan dan saling berinteraksi secara budaya, identitas keagamaan dan bentuk praktik spiritual mereka berkembang secara berbeda. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal Pimpinan Pusat Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

2 November 2023

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Aisyiyah Kalimantan Tengah  menggelar rapat....

Suara Muhammadiyah

6 January 2024

Berita

REMBANG, Suara Muhammadiyah- Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq menga....

Suara Muhammadiyah

10 May 2025

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - “Kita hadir di sini bukan sekadar meresmikan bangunan fisik, teta....

Suara Muhammadiyah

11 July 2025

Berita

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Prof.DR.HAMKA (Uhamka) bersama dengan Wak....

Suara Muhammadiyah

17 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah