SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Kehadiran Taman Kanak-kanak di Indonesia yang saat ini bertebaran di banyak tempat, dalam sejarahnya, justru telah dipelopori oleh ‘Aisyiyah. Bukti konkretnya pada tahun 1919, ‘Aisyiyah mendirikan Taman Kanak-kanak yang diberi nama Frobel-tokoh pendidikan anak berkebangsaan Jerman yang dikenal sebagai the founding father pendidikan anak usia dini.
“Sebagai peletak dasar pendidikan anak usia dini dan sebagai pionir pendidikan anak usia dini, saya berharap agar TK ABA di seluruh Indonesia semakin meningkat kualitasnya dan selalu memiliki inovasi dan kreativitas untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak kita,” tegas Abdul Mu’ti.
Diakui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu, menjadi guru TK ABA bukan pekerjaan yang mudah. “Tapi, punya pengaruh yang luar biasa,” bebernya saat Apel Akbar Milad TK ABA ke-107 dan Milad IGABA ke-29 PW IGABA di GOR Jati Diri Semarang, Karangrejo, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Bahkan, tegas Mu’ti, pengaruh guru TK ABA itu justru melebihi pengaruh orang tua. “Apa-apa anak TK itu referensinya kata ibu guru, kata bapak guru,” celetuknya. Di situlah menunjukkan betapa pentingnya peran dari guru Taman Kanak-kanak.
“Ibu-ibu (guru) adalah role model. Karena ibu-ibu adalah teladan bagi para murid. Maka ibu tidak hanya hadir sebagai seorang pengajar, tapi hadir sebagai orang tua,” tekannya dihadapan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah, Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir, dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi.
Anak-anak sangat membutuhkan kehadiran guru TK ABA. Bagi Mu’ti, kehadirannya sebagai paket pelengkap kehidupan yang sarat dengan inspirasi.
“Ibu (guru) hadir sebagai idola. Dan apa yang ibu katakan, apa yang bapak ibu lakukan, semuanya akan menginspirasi anak-anak TK, anak-anak usia dini untuk bercita-cita tinggi bagi masa depannya,” jelas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu. (Cris)

