Dari Simpang Lima, Membaca Jalan Dakwah Senam Sang Surya
Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)
Opening Ceremony Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang menyuguhkan sebuah pemandangan yang menarik. Ribuan anggota Tapak Suci berkumpul dalam sebuah perhelatan kolosal. Namun, di antara berbagai atraksi yang mengiringi pembukaan Muktamar, ada satu yang layak dibaca lebih jauh yaitu Senam Sang Surya.
Sekilas, ia hanyalah senam untuk lanjut usia. Tetapi bagi Tapak Suci dan Muhammadiyah, Senam Sang Surya sesungguhnya dapat dibaca sebagai sebuah peluang untuk membuka ruang pengabdian yang lebih luas.
Selama ini, ketika berbicara tentang Tapak Suci, perhatian publik lebih banyak tertuju pada pencak silat, dari latihan, pembinaan atlet, kejuaraan, prestasi, dan berbagai aktivitas perguruan di gelanggang. Itu merupakan bagian penting dari perjalanan Tapak Suci.
Namun, Tapak Suci sesungguhnya memiliki potensi lebih luas, karena dapat hadir dalam olahraga masyarakat. Dan dari olahraga masyarakat itu, terbuka ruang baru bagi dakwah kultural Muhammadiyah.
Dari gelanggang ke ruang masyarakat
Senam Sang Surya memiliki perjalanan yang menarik. Sejak tahun 2010, Pimpinan Pusat Tapak Suci sudah menyusunnya. Senam Sang Surya terdiri dari 12 bentuk gerakan, diiringi instrumen musik Hymne Muhammadiyah Sang Surya, dengan pengaturan nafas serta dibarengi kontraksi dan relaksasi otot.
Pendekar Rony Syaifulloh dari Surakarta, mengungkapkan kesannya melalui kanal youtubenya bahwa senam ini insya Allah dapat membantu kita menjaga tubuh tetap fit. Dengan kondisi kebugaran yang terjaga, akan merasa bahagia dalam menikmati hidup.
Sebagai akademisi olahraga yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pencak silat dan keolahragaan, Rony dengan seijin dari Majlis Guru Tapak Suci Putera Muhammadiyah, pada tahun 2021 telah mengembangkan dan mengemas senam ini dalam bentuk video untuk membantu masyarakat tetap bugar dan terhindar dari wabah pandemi covid 19.
Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan di Fakultas Kodokteran Universitas Muhammadiyah Semarang menarik simpulan bahwa Senam Sang Surya efektif untuk pencegahan penyakit stroke, dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan yang signifikan terhadap kualitas hidup dari responden setelah dilakukan senam selama 3 periode. Hal itu diungkapkan dalam Jurnal Pengabdian Sosial Volume 4, Nomor 2, Juli 2024 dalam laporan penelitian berjudul Pelatihan Senam Sang Surya Pencegahan StrokeMelalui Pengukuran Kualitas Hidup Metode Whoqol di Klinik Pratama Unimus.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan tersebut. Keilmuan yang tumbuh dari lingkungan Tapak Suci ternyata dapat dikembangkan menjadi aktivitas olahraga yang tidak hanya ditujukan kepada pesilat, namun dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Pada skala lokal, di Kabupaten Banjarnegara senam sang Surya telah dipraktikkan di lingkungan masyarakat, termasuk oleh kalangan lanjut usia, ibu-ibu Aisyiyah dan bapak-bapak Muhammadiyah. Ini menunjukkan bahwa senam tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai aktivitas kebugaran masyarakat.
Persoalannya bukan lagi apakah Senam Sang Surya dapat dikembangkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa potensi itu belum dimanfaatkan secara lebih luas?
Di sinilah pekerjaan rumah Tapak Suci pasca-Muktamar XVI perlu dimulai. Senam Sang Surya jangan berhenti sebagai aktivitas yang dikenal terbatas di lingkungan Banjarnegara saja. Jika memang telah menjadi produk perguruan, maka sudah waktunya mendapatkan pengelolaan dan pengembangan yang lebih sistematis.
Pimpinan Pusat Tapak Suci memiliki posisi strategis untuk membawa senam ini keluar dari lingkungan internal perguruan. Caranya tidak harus dilakukan sendirian, semangat kolaborasi Muhammadiyah perlu dikedepankan.
Tapak Suci dapat menggandeng Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mengembangkan Senam Sang Surya sebagai bagian dari olahraga masyarakat. Pada saat yang sama, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dapat dilibatkan untuk mengembangkan sisi dakwahnya.
Di sinilah kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya. Setiap unsur tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Masing-masing memiliki kompetensi, jaringan, dan medan pengabdian yang dapat saling melengkapi.
Tapak Suci memiliki sumber daya manusia dan tradisi keolahragaan. LPO memiliki kompetensi pengembangan olahraga. LDK memiliki pengalaman menggarap komunitas dan dakwah di tengah masyarakat.
Jika ketiganya bertemu, Senam Sang Surya dapat memiliki wajah baru. Bukan sekadar senam, tetapi olahraga yang menjadi medium dakwah.
Dakwah yang bergerak bersama masyarakat
Ada pelajaran penting dari olahraga masyarakat. Tidak semua orang ingin menjadi atlet. Tidak semua orang datang ke lapangan untuk mengejar medali.
Sebagian masyarakat hanya ingin sehat, bertemu kawan, mengisi waktu, dan menikmati kebersamaan. Kelompok lanjut usia adalah salah satunya.
Saya pernah melihat bagaimana orang-orang tua berlatih senam Tai Chi di kawasan pantai di Bantul. Mereka tidak sedang mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan. Mereka sedang menjaga kebugaran sekaligus membangun kebersamaan.
Muhammadiyah dapat mengambil ruang semacam ini. Senam Sang Surya dapat menjadi salah satu alternatif.
Bayangkan sebuah kegiatan senam Sang Surya para lansia yang tidak berhenti setelah gerakan terakhir. Setelah senam, peserta dapat mengikuti kajian ringan, pemeriksaan kesehatan, silaturahmi, kegiatan sosial, atau aktivitas komunitas lainnya.
Di situ olahraga bertemu dengan dakwah. Dakwah tidak selalu harus dimulai dari mimbar. Kadang-kadang ia dapat dimulai dari sebuah lapangan terbuka, dari gerakan tubuh, dari sapaan, dan dari kebersamaan. Inilah salah satu wajah dakwah kultural yang relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Jika ingin dikembangkan secara serius, Jawa Tengah dapat menjadi titik awal. Senam Sang Surya memiliki akar kuat di Banjarnegara. Karena itu, pengembangannya dapat dimulai dengan membangun sistem pelatihan pelatih atau Training of Trainer (ToT).
Pimpinan Pusat Tapak Suci bersama LPO dan LDK dapat menyiapkan pelatih-pelatih yang tidak hanya menguasai gerakan senam, tetapi juga memahami bagaimana mengelola komunitas dan memasukkan nilai-nilai dakwah dalam kegiatan tersebut.
Dari Jawa Tengah, pelatih dapat disebarkan melalui struktur Muhammadiyah dan Tapak Suci. PWM dan PDM di Jawa Tengah dapat menjadi simpul pengembangan.
Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah Tapak Suci dapat menjadi penggerak di lapangan. Aisyiyah, majelis, lembaga, sekolah, pesantren, dan komunitas Muhammadiyah dapat menjadi ruang pertumbuhan.l
Dengan demikian, gerakannya tidak perlu dimulai dengan sesuatu yang terlalu besar. Satu pelatih melahirkan satu komunitas. Satu komunitas melahirkan komunitas berikutnya. Dari sana, Senam Sang Surya perlahan dapat menyebar ke berbagai daerah.
Karena itu, Senam Sang Surya yang hadir dalam pembukaan Muktamar XVI di Simpang Lima Semarang semestinya tidak hanya dipandang sebagai bagian dari kemeriahan acara.
Ia dapat menjadi pesan kecil tentang masa depan Tapak Suci. Bahwa Tapak Suci tidak harus selalu hadir melalui olahraga prestasi. Ada ruang pengabdian lain yang tidak kalah penting yaitu olahraga masyarakat.
Di ruang itu, Tapak Suci dapat bertemu dengan kelompok lanjut usia, komunitas keluarga, masyarakat umum, dan berbagai kelompok sosial lainnya. Dan ketika perjumpaan itu dikembangkan bersama unsur-unsur Muhammadiyah lainnya, olahraga dapat menjadi pintu masuk bagi silaturahmi, pembinaan, pelayanan sosial, dan dakwah.
Inilah yang membuat Senam Sang Surya menarik untuk dikembangkan. Ia berangkat dari tradisi perguruan, tetapi memiliki kemungkinan untuk bergerak melampaui gelanggang. Berakar pada tradisi, tetapi memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Bukankah semangat seperti itu sejalan dengan cita-cita Muktamar XVI: “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri dan Mendunia”?
Maka, setelah Muktamar usai, jangan biarkan Sang Surya hanya bersinar di Simpang Lima. Bawalah ia ke kampung-kampung, halaman masjid, komunitas lansia, ruang-ruang publik., ke tengah masyarakat yang menjadi gelanggang dakwah persyarikatan.
Dakwah Muhammadiyah membutuhkan banyak jalan untuk sampai kepada manusia. Dan boleh jadi, salah satu jalan itu dimulai dari gerakan sederhana, dengan menggerakkan tubuh, menggerakkan kebersamaan, dan akhirnya menggerakkan dakwah.

