Dari Soekarno hingga Prabowo: Watak dan Kelucuan Politik Kita
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan
Saya hidup dalam beberapa era kepemimpinan nasional. Kali ini, saya ingin menulis tentang kepribadian para presiden berdasarkan impresi saya dari berbagai bacaan serta pengamatan atas penampilan mereka ketika berpidato di ruang publik. Saya tidak terlalu mengingat Soekarno. Pengetahuan saya tentang dirinya hanya saya peroleh dari berbagai bacaan dan dari pidato-pidatonya yang pernah saya dengarkan melalui kaset rekaman yang dahulu beredar secara terbatas.
Konon, Soekarno adalah sosok humoris, ramah kepada bawahan, gemar berdiskusi, serta memiliki kecintaan yang mendalam terhadap seni, budaya, dan simbol-simbol kebangsaan. Ia memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, berani mengambil keputusan besar, dan sangat memperhatikan martabat bangsa di hadapan dunia. Meski demikian, ia terkadang mudah marah, tetapi mampu mengakui kesalahan dan meminta maaf. Ia juga pribadi yang hangat, egaliter, dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.
Setelah Soekarno, kepemimpinan nasional beralih kepada Soeharto. Berbeda dengan watak presiden sebelumnya, ia memimpin dengan gaya tenang dan penuh perhitungan. Dalam menghadapi berbagai persoalan, ia senang mendengarkan dan memiliki kemampuan mengendalikan emosi yang sangat kuat. Kehidupan sehari-harinya cenderung sederhana, disiplin, dan dekat dengan budaya Jawa yang menekankan sikap halus, kehati-hatian, serta pengendalian diri. Dalam kesehariannya, ia dikenal cukup tertutup.
Setelah berkuasa selama 32 tahun, Soeharto pun tumbang dan digantikan oleh B.J. Habibie, seorang teknokrat dan ilmuwan yang mengandalkan rasionalitas, data, serta pendekatan teknologi dalam mengambil keputusan. Ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, kebiasaan membaca, serta semangat belajar yang tidak pernah padam. Tidak heran jika ia dikenal perfeksionis, sangat disiplin terhadap waktu, dan tidak segan mengoreksi berbagai detail kecil yang dianggapnya kurang tepat. Namun, ia juga pribadi yang hangat, mudah bergaul, dan senang berdiskusi dengan siapa saja, termasuk mahasiswa dan staf junior. Ia memiliki empati kuat terhadap pengembangan sumber daya manusia serta keyakinan bahwa kemajuan bangsa harus dibangun melalui ilmu pengetahuan.
Habibie digantikan oleh Abdurrahman Wahid. Inilah satu-satunya presiden yang kerap saya jumpai secara langsung. Saya pernah bersalaman, mendengarkan nasihat dan leluconnya, bahkan menikmati hidangan yang disajikan di Istana Negara. Ia memiliki daya ingat yang luar biasa, terutama tentang buku, sejarah, dan tokoh-tokoh dunia yang pernah dibacanya. Sikap kesehariannya rendah hati dan tidak terlalu memedulikan formalitas jabatan. Ia dapat bergaul akrab dengan siapa saja tanpa memandang status sosial. Setahu saya, ia seorang pemaaf dan tidak menyimpan dendam terhadap orang lain. Kecintaannya pada sastra, musik, sepak bola, dan humor hingga kini sulit ditemukan tandingannya. Perpaduan antara kecerdasan intelektual, keberanian moral, rasa kemanusiaan yang tinggi, dan selera humor yang khas menjadikan Gus Dur salah satu pemimpin Indonesia dengan kepribadian yang unik dan sulit dibandingkan dengan tokoh lain.
Gus Dur hanya menjabat selama satu tahun sembilan bulan sebelum digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Saya beberapa kali sempat bertemu dan berjabat tangan dengannya sebelum ia menjadi Wakil Presiden. Kesan saya, ia pendiam dan sulit ditebak. Kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh tekanan politik pada masa Orde Baru, yang membentuk daya tahan mentalnya menjadi kuat dan membuatnya teguh pada pendirian. Ia memiliki intuisi politik yang tajam dan cermat dalam mengamati situasi sebelum mengambil keputusan. Karakternya sabar, konsisten, dan bekerja tanpa banyak retorika. Dalam keseharian, ia gemar memasak, memperhatikan urusan rumah tangga. Sisi yang jarang tampak dalam citra publiknya sebagai pemimpin politik.
Megawati dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden secara langsung. Meski berlatar belakang militer, ia adalah sosok yang tenang, santun, dan terukur dalam berbicara. Ia gemar mencatat berbagai peristiwa penting secara rinci, menunjukkan sifat yang reflektif dan terorganisasi. Ia juga berdisiplin tinggi, gemar membaca, serta memiliki minat yang kuat pada seni, sastra, dan musik. Dalam kesehariannya, ia adalah pribadi yang sabar, teliti, dan cenderung mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan. Ia terbiasa merenungkan berbagai persoalan, lebih hati-hati dibandingkan banyak pemimpin politik lainnya.
Joko Widodo secara mengejutkan berhasil menggantikan SBY. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan rakyat, meskipun kepribadiannya tidak selalu mudah dibaca. Berdasarkan berbagai kesaksian, Jokowi merupakan pribadi yang sabar, tidak mudah terpancing emosi, dan lebih mengutamakan pendekatan praktis daripada perdebatan panjang. Ia lebih suka mendengar, memberi ruang bagi orang lain untuk menyampaikan pandangan, serta dikenal sebagai pekerja keras yang tekun mengejar target. Kebiasaannya turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi nyata menjadi ciri khas yang melengkapi kesederhanaan, kesabaran, dan pragmatismenya sebagai pemimpin.
Prabowo Subianto menggantikan Jokowi setelah menempuh perjalanan politik yang panjang. Ia dikenal sangat gigih dalam upayanya meraih kursi presiden. Sejak 2004, ia telah mengikuti berbagai pencalonan dan kontestasi politik tingkat nasional, sedikitnya lima kali. Akhirnya berhasil menjadi presiden. Bagaimana kesan pembaca terhadap watak Prabowo yang tampak di ruang publik? Silahkan pembaca menilainya sendiri.
Memilih Tertawa
Kesan menonjol saya terhadapnya adalah spontanitas yang sering kali menjadi lucu. Pengalaman ini berbeda dengan era Gus Dur; dulu saya menyimak pidato Gus Dur sambil menunggu humor cerdas apa yang akan muncul di sela-selanya. Kini pada era Prabowo, setiap kali ia berpidato, saya juga menunggu spontanitas lucu yang akan muncul. Keesokan harinya, saya masih menanti klarifikasi dari para pengamat, juru bicara, dan orang-orang terdekatnya. Jangan-jangan, orang-orang terdekatnya harus pontang-panting dan berpikir keras untuk menyusun klarifikasi yang tepat sesuai nalar publik.
Salah satu pernyataan Prabowo yang lucu dan menarik adalah ketika ia mengatakan bahwa rakyat tidak akan terpengaruh oleh kenaikan dolar terhadap rupiah. Mendengar itu, saya justru berpikir bahwa bukan hanya fluktuasi dolar yang tidak banyak berpengaruh, pergantian presiden pun tidak selalu berpengaruh bagi kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia.
Para pembela Prabowo hendaknya dapat berbesar hati terhadap pandangan yang berbeda ya. Alangkah baiknya jika ruang publik diwarnai oleh perbedaan pendapat yang tidak berujung pada kemarahan, ancaman, atau perundungan. Warga dapat mengkritik tanpa rasa takut, sementara para pemimpin dapat menerima kritik tanpa merasa harga dirinya runtuh. Dalam suasana seperti itu, kehidupan warga negara Indonesia akan terasa lebih menyenangkan.
Saat ini, ruang publik kerap dipenuhi oleh tafsir dan klarifikasi atas maksud pernyataan presiden. Inilah ironi yang membuat politik Indonesia terasa lucu. Jika komedian bekerja keras menyusun lelucon, dalam politik sering kali muncul kelucuan tanpa direncanakan. Bahkan, politik kerap lebih lucu daripada panggung komedi. Bedanya, di komedi kita tertawa karena terhibur, sedangkan dalam politik kita tertawa agar tidak terlalu kecewa.

