Dari Tabanan, Wamendikdasmen: Revitalisasi Sekolah Investasi Masa Depan Bangsa

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
79
Foto Istimewa

Foto Istimewa

TABANAN, Suara Muhammadiyah — Pagi itu suasana sekolah di Kabupaten Tabanan tampak berbeda. Bangunan yang sebelumnya mengalami berbagai keterbatasan kini berdiri lebih layak dan representatif. Namun bagi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, yang diresmikan bukan sekadar ruang kelas baru atau tembok yang diperbarui. Yang sedang dibangun adalah masa depan Indonesia.

Saat meresmikan program revitalisasi sekolah di Tabanan, Kamis (4/6), Fajar menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari penyediaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bermutu.
“Hari ini kita meresmikan bangunan sekolah yang telah direvitalisasi. Namun sesungguhnya yang kita bangun bukan sekadar ruang kelas, melainkan masa depan Indonesia,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan arah kebijakan pendidikan yang saat ini ditempuh pemerintah. Di bawah agenda pembangunan sumber daya manusia yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto, pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai perluasan akses, melainkan juga peningkatan mutu layanan yang diterima peserta didik.

Dalam kerangka itulah revitalisasi sekolah ditempatkan sebagai investasi strategis. Pemerintah ingin memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang harus belajar di ruang kelas yang rusak, tidak aman, atau tidak mendukung proses pembelajaran.

Meski demikian, pembangunan fisik hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar pendidikan nasional. Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini jauh lebih kompleks. Di satu sisi akses pendidikan semakin luas, tetapi di sisi lain kualitas pembelajaran masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Masih banyak peserta didik yang belum mencapai kompetensi dasar dalam literasi dan numerasi.

Karena itu, menurut Fajar, revitalisasi sekolah tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang-ruang belajar yang lebih baik itu mampu melahirkan kualitas pembelajaran yang lebih baik pula. “Ruang kelas yang lebih baik harus menghasilkan pembelajaran yang lebih aktif. Perpustakaan yang lebih baik harus melahirkan budaya literasi yang lebih kuat. Laboratorium yang lebih baik harus menghasilkan kreativitas dan inovasi yang lebih tinggi,” katanya.

Di tengah tantangan tersebut, Tabanan dinilai memiliki modal yang cukup kuat untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Berdasarkan Rapor Pendidikan 2025, Kabupaten Tabanan mencatat Indeks Standar Pelayanan Minimal Pendidikan sebesar 81,46 dengan kategori Tuntas Madya. Capaian literasi, numerasi, iklim keamanan sekolah, hingga kebinekaan juga menunjukkan perkembangan yang positif.

Bagi pemerintah, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan yang baik tidak hanya diukur dari nilai akademik, melainkan juga dari kemampuan sekolah membangun karakter dan ekosistem belajar yang sehat.
Namun dunia yang akan dihadapi generasi muda Indonesia ke depan juga berbeda dengan hari ini. Perkembangan kecerdasan artifisial, transformasi digital, perubahan iklim, hingga persaingan global menuntut sekolah menyiapkan keterampilan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.

Anak-anak tidak cukup hanya dibekali pengetahuan. Mereka harus mampu berpikir kritis, berkolaborasi, beradaptasi, dan memecahkan persoalan yang terus berubah. Karena itu penguatan literasi, numerasi, sains, teknologi, kreativitas, dan karakter menjadi fondasi utama pendidikan masa depan.

Dalam rangkaian kunjungannya di Bali, Fajar juga bertemu dengan guru-guru Muhammadiyah se-Bali. Di hadapan para pendidik, ia mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan tidak mungkin dicapai oleh pemerintah semata. Pendidikan adalah kerja bersama yang melibatkan masyarakat, organisasi keagamaan, keluarga, dunia usaha, dan pemerintah secara bersamaan.

Menurut dia, semangat partisipasi semesta yang kini didorong Kemendikdasmen sesungguhnya telah lama dipraktikkan Muhammadiyah melalui tradisi pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat. Negara menyediakan kebijakan dan fasilitas, tetapi kualitas pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan.

Di atas semuanya, kata Fajar, faktor yang paling menentukan tetaplah guru. Sebagus apa pun gedung sekolah yang dibangun pemerintah, pendidikan tidak akan bergerak maju tanpa guru yang mampu menginspirasi, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membentuk karakter peserta didik.

Dari Tabanan, pemerintah ingin mengirimkan pesan sederhana: membangun sekolah pada akhirnya adalah membangun manusia. Di ruang-ruang kelas yang lebih layak itulah cita-cita Indonesia Emas 2045 mulai ditanamkan hari ini. []


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Berita menjadi suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-....

Suara Muhammadiyah

10 March 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke....

Suara Muhammadiyah

20 August 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani (MPK SDI) Pimpinan Wil....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo Barat, Kasihan, ....

Suara Muhammadiyah

12 December 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Makassar menggelar pengukuhan da....

Suara Muhammadiyah

26 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah