Dari Tauhid Sosial hingga Islam Berkemajuan Menyongsong Muktamar Medan 2027

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
89
Ilustrasi

Ilustrasi

Dari Tauhid Sosial hingga Islam Berkemajuan Menyongsong Muktamar Medan 2027

Oleh: Amrizal

Di setiap fase sejarahnya, Muhammadiyah selalu melahirkan tokoh yang bukan hanya memimpin organisasi, tetapi juga membentuk arah pemikiran gerakan. Muhammadiyah tidak dibangun hanya dengan struktur dan amal usaha, tetapi juga dengan gagasan, tafsir zaman, dan keberanian intelektual membaca masa depan.

Sejak era Reformasi, Muhammadiyah memasuki babak baru. Persyarikatan dipimpin oleh figur-figur akademik (seorang Profesor) dengan kapasitas intelektual yang kuat. Mulai dari Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, Din Syamsuddin, hingga Haedar Nashir, Muhammadiyah berkembang bukan sekadar sebagai organisasi dakwah, tetapi juga sebagai kekuatan intelektual Islam modern.

Keempat tokoh ini menghadirkan corak pemikiran yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Dari mereka kita dapat membaca peta evolusi pemikiran Muhammadiyah modern.

Tauhid Sosial dan Keberanian Moral

Era Amien Rais adalah era kebangkitan keberanian moral Muhammadiyah dalam ruang publik kebangsaan. Melalui gagasan Tauhid Sosial, Amien Rais membawa pesan bahwa tauhid tidak boleh berhenti pada keyakinan spiritual yang individualistik. Tauhid harus melahirkan keberpihakan kepada keadilan, keberanian melawan kezaliman, dan kritik terhadap kekuasaan yang korup.

Dalam konteks itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya mengelola sekolah, rumah sakit, dan masjid. Muhammadiyah juga harus hadir dalam pergulatan nasib bangsa.

Di tangan Amien Rais, gerakan amar ma’ruf nahi munkar memperoleh dimensi struktural. Kritik sosial menjadi bagian dari dakwah. Reformasi 1998 menjadi momentum historis yang menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah tidak boleh asing terhadap penderitaan rakyat dan arah perjalanan negara. Namun, Amien Rais tidak sedang mengubah Muhammadiyah menjadi partai politik. Ia sedang mengingatkan bahwa Islam memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan publik.

Islam Kemanusiaan dan Keindonesiaan

Jika Amien Rais menghadirkan energi perubahan, maka Buya Syafii Maarif menghadirkan kedalaman moral dan kebijaksanaan peradaban.

Buya Syafii membawa Muhammadiyah memasuki ruang refleksi yang lebih filosofis. Ia menempatkan Islam bukan sekadar identitas, tetapi sebagai cahaya kemanusiaan. Dalam banyak tulisan dan pidatonya, Buya Syafii terus mengingatkan bahwa Indonesia tidak dibangun hanya dengan semangat keagamaan, tetapi juga dengan keadaban. Karena itu, Islam harus hadir sebagai kekuatan moral yang mempersatukan, bukan memecah-belah.

Pemikiran Buya Syafii sangat penting ketika bangsa ini mulai terjebak pada polarisasi identitas, fanatisme sempit, dan kehilangan keteladanan moral. Muhammadiyah menurut Buya harus menjadi rumah besar bagi Islam yang ramah, berilmu, dan mencintai Indonesia. Buya Syafii seolah ingin mengatakan bahwa kemajuan tanpa moral akan melahirkan kekeringan ruhani. Karena itu, Muhammadiyah harus tetap menjadi gerakan ilmu yang berakar pada akhlak.

Muhammadiyah dan Panggung Peradaban Dunia

Era Din Syamsuddin membawa Muhammadiyah semakin dikenal di tingkat global. Muhammadiyah tidak lagi hanya dipahami sebagai gerakan nasional Indonesia, tetapi mulai dipandang sebagai model Islam moderat dunia. Din Syamsuddin memperkuat gagasan tentang dialog peradaban, diplomasi kemanusiaan, dan Islam rahmatan lil ‘alamin. Muhammadiyah diposisikan sebagai kekuatan civil society global yang aktif dalam isu perdamaian, kemanusiaan, dan hubungan antaragama.

Pada fase ini, Muhammadiyah memperluas cakrawala dakwahnya. Dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar dan pengajian, tetapi juga di forum-forum internasional, diplomasi perdamaian, dan kerja-kerja kemanusiaan lintas negara. Muhammadiyah mulai tampil sebagai wajah Islam Indonesia yang berkemajuan, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan dunia.

Islam Berkemajuan dan Konsolidasi Peradaban

Di era Haedar Nashir, Muhammadiyah mengalami konsolidasi ideologis yang sangat penting. Konsep Islam Berkemajuan menjadi paradigma besar gerakan.

Haedar Nashir menghadirkan Muhammadiyah bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan, tetapi sebagai gerakan peradaban. Muhammadiyah dipandang sebagai kekuatan yang harus mampu menjawab tantangan: modernitas, teknologi, kapitalisme global, krisis moral, hingga disrupsi digital. 

Islam Berkemajuan menegaskan bahwa Islam harus: maju dalam ilmu, maju dalam ekonomi, maju dalam pendidikan, maju dalam teknologi, tetapi tetap berpijak pada nilai tauhid dan kemanusiaan. 

Dalam konteks ini, Muhammadiyah tidak boleh hanya besar secara amal usaha, tetapi juga harus unggul dalam produksi pemikiran dan peradaban ilmu.

Menyongsong Muktamar 2027

Muktamar Muhammadiyah di Medan tahun 2027 akan menjadi momentum historis berikutnya. Muktamar bukan hanya agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga arena pembacaan arah zaman.

Setiap muktamar selalu melahirkan generasi pemikiran baru. Dari Yogyakarta, Jakarta, Malang, Makassar, hingga Surakarta, Muhammadiyah terus bergerak mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan akar ideologinya.

Medan memiliki simbolisme yang kuat. Sumatera Utara adalah ruang perjumpaan: agama, budaya, etnis, sekaligus dinamika sosial yang kompleks. 

Dari tanah Melayu-Deli dan kawasan multikultural ini, Muhammadiyah akan diuji untuk melahirkan kepemimpinan baru yang: kuat ideologinya, luas wawasan globalnya, matang organisasinya, dan dekat dengan problem umat. 

Pertanyaannya bukan sekadar “siapa yang akan memimpin Muhammadiyah?”, tetapi:

gagasan besar apa yang akan dibawa Muhammadiyah memasuki masa depan?

Apakah Muhammadiyah akan melahirkan:

konseptor baru Islam digital? 
pemikir baru ekonomi umat? 
arsitek kaderisasi abad kedua? 
atau pelopor gerakan ilmu dan teknologi? 
Muktamar Medan 2027 akan menjadi titik penting regenerasi intelektual Muhammadiyah.

Menyiapkan Tokoh Baru Muhammadiyah

Satu pelajaran penting dari Amien Rais, Buya Syafii, Din Syamsuddin, dan Haedar Nashir adalah: tokoh besar Muhammadiyah tidak lahir secara instan.

Mereka tumbuh dari: tradisi kaderisasi, budaya membaca, pergulatan intelektual, pengalaman organisasi, dan kedekatan dengan umat. 

Karena itu, tantangan terbesar Muhammadiyah hari ini bukan hanya membangun amal usaha, tetapi membangun ekosistem kader pemikir.

Muhammadiyah masa depan membutuhkan kader yang: mampu membaca kitab sekaligus membaca realitas, kuat ideologi tetapi lentur dalam pendekatan, modern tanpa tercerabut dari akar,  dan mampu menjadikan dakwah sebagai jalan pencerahan peradaban. 

Di situlah sesungguhnya makna penting Muktamar Medan 2027: bukan hanya memilih pemimpin baru, tetapi menyiapkan arah baru peradaban Muhammadiyah abad kedua.

Wallahu a’lam bish shawab

Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut, Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UNY, Dosen Universitas Negeri Medan

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Demokrasi dan Janji Kesetaraan Oleh: Suko Wahyudi. Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta  Dem....

Suara Muhammadiyah

16 December 2025

Wawasan

Oleh: Wiwik Rahayu, Mahasiswa Program Doktor Farmasi UAD Yogyakarta   "Mempelajari filsafat i....

Suara Muhammadiyah

3 June 2025

Wawasan

Demokrasi, Bahasa dan Algoritma  Oleh: Suko Wahyudi. Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta&nbs....

Suara Muhammadiyah

7 October 2025

Wawasan

Puasa Membentuk Kepekaan Sosial Rusdi, S.Si., M.Si, Dosen Kesehatan Lingkungan FKM UMKT, Ketua MLH ....

Suara Muhammadiyah

27 February 2026

Wawasan

Meningkatkan Kesejahteraan Bagi Bangsa Indonesia: Tantangan dan Harapan Oleh: Muhammad Himawan Suta....

Suara Muhammadiyah

8 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah