Denyut Nadi Kepemimpinan Harus Berlandaskan Kerisalahan Kenabian

Suara Muhammadiyah

11 November 2025

827
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Dalam pandangan Islam, semua orang sangat potensial menjadi seorang pemimpin. Kullukum ra'in wakullukum mas ulun an ra'iyyatihi. Hadis Riwayat Bukhari ini memberikan penegasan bahwa sejatinya setiap diri adalah seorang pemimpin.

“Ini memberi peluang pada kita semua untuk menjadi pemimpin. Tapi, sabda Nabi ini sebenarnya memberi peluang pada kita untuk punya karakter kepemimpinan sekaligus pertanggung jawaban atas kepemimpinan kita,” terang Haedar Nashir.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengemukakan saat membuka Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025 inisiasi Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Selasa (11/11).

Kunci menjadi seorang pemimpin, kata Haedar, harus bisa memimpin diri sendiri terlebih dahulu. “Taklukan diri sendiri, baru bisa memimpin orang lain,” bebernya. Mengingat, dalam diri pemimpin melekat aspek pertanggung jawaban yang harus ditunaikan sebaik-baiknya.

Di samping itu, tentu hal berat lainnya menyangkut nilai kepemimpinan itu sendiri. Imam Al Mawardi dalam Al Ahkaam al shultoniyah, mengilustrasikan kepemimpinan dalam perspektif Islam sebagai “al imamah maudhuatu li-khilafati al-nubuwat fi-harasati al-dini wa-siyasati al-dunya.” Bahwa, kepemimpinan ialah proyeksi dari fungsi kerisalahan Nabi dalam hal menegakkan agama dan mengurus dunia.

“Artinya, kita menjadi pemimpin di lingkungan Islam—membawa atas nama Islam—kepemimpinan profetik (kepemimpinan kenabian) yang membawa risalah agama,” ujarnya.

Risalah tersebut bermanifestasi pada, pertama, misi penyempurnaan akhlak manusia. Haedar mengetengahkan, keadaban bersumbu dari akhlak yang mulai (al-akhlak al-karimah). “Tahu baik-buruk, pantas-tidak pantas. Itu kunci keadaban,” sebutnya.

Akhlak, lanjut Haedar, sangat fundamental posisinya dalam proses membangun keadaban. “Akhlak akan membangun keadaban. Keadaban akan membangun peradaban,” tegasnya.

Kedua, terkait dengan iqra. Ini menjadi wahyu atau Risalah pertama Islam yang dibawa Nabi Muhammad dari Gua Hira, yang terkandung dan menjadi bagian dari salah satu Surat dalam Al-Quran. Bahkan, iqra di sini, sebut Haedar, bersifat Langit dan profetik.

“Maka kita, apalagi jadi pemimpin, harus punya kemampuan iqra, ta'aqqul (berpikir menggunakan akal), tafakur (berpikir menggunakan pikiran), tadabbur (selalu mengkaji), tanadhar (berpikir masa depan),” ujarnya.

Ketiga, menebar risalah yang membawa rahmat bagi semesta. Seorang pemimpin, harus bisa menebar nilai-nilai kebajikan yang melintasi. “Untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kemanusiaan semesta,” terangnya.

Tiga hal ini, sambung Haedar, harus menjadi value dalam sukma setiap pemimpin. Lebih-lebih pemimpin di Persyarikatan Muhammadiyah. “Itu harus kita transfer menjadi value kita, bagi seorang pemimpin,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah –  PoltekMu Makassar kembali menorehkan prestasi membanggaka....

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - FAMOUS (Festival SDS Muhammadiyah 08 Plus) 2024 digelar pada tanggal 2....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah — Upaya meningkatkan kompetensi digital generasi muda sekaligus ....

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

Berita

LAMPUNG TIMUR, Suara Muhammadiyah - Dalam suasana cerah dan menggembirakan Pimpinan Daerah Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

19 April 2025

Berita

KUPANG, Suara Muhammadiyah - Bukan Muhammadiyah yang berterima kasih kepada saya karena hadir d....

Suara Muhammadiyah

4 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah