Di Balik Angka Nol Karhutla Bromo

Suara Muhammadiyah

17 August 2026

163
Sumber Foto Antara

Sumber Foto Antara

Di Balik Angka Nol Karhutla Bromo

Oleh: Ratna Arunika – LLHPB PWA JATIM

Nihilnya korban jiwa dalam kebakaran Bromo, ada petugas yang berjibaku dengan api, warga yang mempertaruhkan penghidupan, dan ekosistem yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih.

Siang hari terlihat abu dan asap. Malam hari api terbaca. Dalam gelap titik-titik merah bermunculan di lereng. Satu, dua, lalu menyusul dari garis rambat yang berbeda. Medan yang siang tadi tampak sebagai bentang alam berubah menjadi kontur yang penuh ancaman.  

Jika biasanya menjelang malam wisatawan mulai berdatangan memenuhi Bromo untuk bersiap berburu matahari terbit, malam itu suasananya berbeda. Tidak ada hiruk - pikuk persiapan menuju sunrise. Di tengah gelap, perhatian justru tertuju pada sumber api yang muncul dari beberapa garis rambat. Para petugas terus memantau pergerakannya, memastikan kobaran tidak bergerak terus semakin jauh. 

Ketika sebagian orang mulai terlelap, pekerjaan mereka justru memasuki bagian yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Dari radio komunikasi yang terselip di pundak, kabar tentang pergerakan api terus berganti. Arah angin, posisi api, dan kondisi medan menjadi informasi yang harus segera diteruskan dari satu petugas kepada petugas lainnya.

Di tengah kegelapan tidak semua keputusan bisa dibuat dengan tergesa-gesa. Kapan perlu mendekat, bilamana harus bertahan, dan kapan menjauh dari kobaran api menjadi bagian dari perhitungan keselamatan. Satu langkah yang keliru dapat membawa petugas terlalu dekat dengan panas atau membuat mereka berada di jalur pergerakan api.

Di lapangan, menghadapi api tidak selalu membutuhkan peralatan besar. Kadang sebuah api harus didekati dengan gepyok. Di titik lain water sprayer digunakan untuk membasahi area yang rawan terbakar. Sekat dibuat agar api kehilangan jalur rambatnya. Ketika medan terlalu sulit atau berisiko dijangkau dari darat, helikopter datang membawa metode yang berbeda, water bombing.

Karena itu sebelum berhadapan langsung dengan api, tubuh mereka harus lebih dulu dilindungi. Pakaian yang dikenakan bukan sekadar seragam kerja, melainkan  lapisan perlindungan yang menjadi batas antara tubuh dan panas yang bisa datang sewaktu-waktu.

Baju pelindung berwarna oranye yang dikenakan para petugas bukan pakaian biasa. Ia memang dirancang untuk melindungi tubuh dari panas ekstrem, radiasi panas, dan percikan api. Tetapi perlindungan itu datang bersama beban yang harus dibawa setiap kali mereka bergerak mendekati titik kebakaran.

Satu setelan baju pelindung dapat berbobot sekitar 3,5 hingga 6 kilogram. Helm dengan pelindung wajah dan leher menambah sekitar 1,5 kilogram, sementara sepatu khusus pemadam bisa mencapai sekitar 3 kilogram. Semua perlengkapan itu melekat di tubuh ketika mereka harus berjalan di medan yang terjal, di tengah panas dan asap.

Namun setiap perlindungan memiliki harga. Di tempat seperti itu, tiga kilogram bukan lagi sekadar angka. Enam kilogram bukan lagi sekadar berat pakaian. Berat itu menjadi bagian yang  dibawa berjalan di medan yang tidak rata, dalam udara yang panas, sambil menghirup asap dan membawa selang menuju api.

Tantangan lain datang dari sesuatu yang paling dibutuhkan untuk memadamkan api. Air! 

Sumber air tidak selalu berada dekat dengan titik kebakaran. Dalam kondisi tertentu, pengisian tangki membutuhkan perjalanan puluhan menit sebelum air dapat dibawa kembali ke lokasi operasi. 

Kelelahan datang dari banyak arah. Angin yang berubah, abu yang berterbangan, asap yang menyesakan pernapasan, dan panas yang membuat pekerjaaan memadamkan menjadi pertarungan fisik yang terus menerus. Seteguk botol air minum serasa belum cukup untuk meluruhkan panas tubuh yang seperti terpanggang.

Api yang berubah arah, asap, jarak pandang terbatas, dehidrasi,  resiko terjatuh, dan kemungkinan terjebak api adalah kekhawatiran yang mungkin dirasakan masing-masing personil saat bertugas memadamkan kebakaran. Karena mereka juga manusia, dimana rasa takut pasti ada.

Namun apakah mereka akan berhenti untuk memadamkan kebakaran?

Mereka takut, mereka tahu resikonya. 

Mereka tetap bekerja.

Di balik angka nol, petugas - petugas inilah yang menjaga agar tak ada korban. Ada kaki yang terus berjalan, mata yang terus mengawasi titik api bahkan ada mungkin belum tidur selama beberapa hari, serta ada keluarga yang menunggu dirumah. Dan mereka tetap kemballi ke lokasi.

Hal-hal yang paling manusiawi dari sebuah operasi seringkali tidak terlihat dalam laporan situasi.

Operasi itu melibatkan personel dari berbagai lembaga; BNPB, BPBD Provinsi Jatim, BPBD Kabupaten Malang, Pasuruan dan Probolinggo, Damkar, Dinas Kehutanan, Polisi kehutanan TNI, Polri, Balai besar TNBTS, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat sekitar. Mereka datang dengan tugas dan latar belakang berbeda. Ada personel yang berada di garis depan, menyediakan logistik, memantau, membuat keputusan, membawa air dan membuat sekat. 

Dalam operasi itu, perbedaan seragam dan institusi menjadi kurang penting, yang terlihat adalah satu pekerjaan yang sama, menjaga api agar tidak bergerak lebih jauh. 

Bencana seringkali memperlihatkan bahwa batasan antar instansi menjadi kabur ketika keselamatan manusia dan alam berada dalam satu taruhan.

Api Tidak Berhenti pada Batas kawasan

Reisiko kebakaran tidak berhenti ketika api menjauh dari tubuh para pemadam. Ia bergerak ke lanskap yang selama ini menopang kehidupan warga.

Bromo bukan hanya taman nasional. Ia adalah ruang hidup dan ekonomi. Saat kebakaran terjadi di kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru sebagian pelaku usaha kehilangan penghasilan, karena tempat yang selama ini memberi makan tiba-tiba harus ditutup demi keselamatan. Kegiatan ekonomi dari sektor wisata cukup nyata terdampaknya. Persewaan jeep, kuda, homestay, pemilik warung, toko, pamandu dan pedagang terpaksa menghentikan aktivitas ekonomi selama kebakaran berlangsung.

Bromo yang selama ini diasosiasikan dengan tempat rekreasi yang menawarkan keindahan alamnya. Dengan  matahari terbitnya, pasir berbisik, bukit teletubies,  tiba-tiba menjadi lanskap yang menjadi ancaman. 

Api tidak hanya bergerak di dalam kawasan taman nasional. Di beberapa titik, jaraknya mulai mendekati ruang hidup warga.

Kekhawatiran juga dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Bromo, terutama di wilayah yang berbatasan dengan area terdampak kebakaran. Di sejumlah titik, kobaran api sempat mendekati permukiman warga. Situasi ini membuat pemantauan terhadap arah pergerakan api dan kondisi di sekitar permukiman menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran. Karena itu, jarak antara api dan permukiman menjadi salah satu hal yang terus dipantau selama operasi berlangsung.

Lebih dari sepekan sejak api pertama kali berkobar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WIB, jejak kebakaran telah membentang di kawasan yang luas. Berdasarkan data BPBD Provinsi Jawa Timur per 15 Agustus 2026, luas area yang terbakar mencapai sekitar 1.120,3 hektare. Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan pemutakhiran di lapangan.

Tim gabungan dari berbagai unsur telah berhasil memadamkan api di sejumlah lanskap TNBTS. Namun, padam bukan berarti seluruh pekerjaan telah selesai.

Pemantauan masih terus dilakukan. Di balik lanskap yang mulai kembali tenang, masih terdapat sejumlah titik api tersembunyi yang berpotensi memunculkan kembali kobaran api. Karena itu, upaya penanganan belum benar-benar berakhir. Api mungkin telah kehilangan nyalanya, tetapi kewaspadaan belum boleh kehilangan tempatnya.

Dan ketika api akhirnya padam, pertanyaan berikutnya justru baru dimulai

Apa yang tersisa setelah api pergi?

Ada warga yang kehidupannya bergantung pada lahan dan kawasan wisata. Ada sumber air dan tanah yang harus kembali dipulihkan. Ada vegetasi dan habitat yang membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali. Ada udara yang harus kembali bersih. Dan ada manusia - warga, petugas, pendaki, maupun wisatawan yang mungkin membawa pulang pengalaman tentang Bromo yang tidak lagi sepenuhnya sama.

Sebab kebakaran hutan dan lahan tidak pernah berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.

Api membakar vegetasi dalam hitungan waktu. Tetapi dampaknya dapat tinggal jauh lebih lama. Api mungkin bisa dipadamkan dalam beberapa hari. Tetapi kehidupan yang ditinggalkannya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk pulih. Hutan membutuhkan waktu untuk menghijau kembali. Begitu pula warga yang penghasilannya bergantung pada kawasan ini, mereka membutuhkan waktu untuk menata kembali kehidupan setelah aktivitas terhenti. 

Banyak yang terdampak ketika satu bentang alam terbakar, bukan hanya pohon yang terlihat dari kejauhan. Di bawah tajuk ada Cemara gunung, Mentingen, Akasia, Paku-pakuan, habitat Edelweis Jawa dan organisme tanah yang membentuk kehidupan kecil yang jarang terlihat wisatawan . Rantai makanan dan fungsi ekologis terganggu.

Api membakar sesuatu dalam hitungan hari. Ekosistem membangunnya dalam hitungan tahun. 

Bromo tidak hanya membutuhkan manusia ketika ia terbakar. Ia membutuhkan kepedulian bersama saat keadaan aman. Jika proyeksi BMKG benar-benar terwujud, potensi El Nino kategori kuat dan resiko kekeringan yang diperkirakan  masih akan berlangsung pada akhir 2026 hingga awal 2027 bisa menjadi kerawanan yang menyebabkan kebakaran bisa terulang.

Pencegahan tentu tidak berhenti pada petugas dan pengelola kawasan. Masyarakat sekitar, wisatawan, dan para pendaki juga berada dalam rantai keselamatan yang sama. Informasi sederhana tentang hal-hal apa yang dilarang, kemana melapor ketika melihat asap, kapan harus meninggalkan kawasan, dan area mana yang perlu dihindari dapat menjadi pencegahan sebelum api membesar.

Bagi wisatawan, Bromo adalah tempat menawan untuk menikmati keindahan. Tetapi bagi kawasan yang sedang berada dalam risiko kebakaran, setiap pengunjung  juga bisa  menjadi bagian dari sistem keselamatan.

Keberhasilan terbesar dalam menghadapi karhutla adalah kebakaran yang tidak pernah menjadi berita. Kita bisa mengubah cara berpikir tentang keberhasilan. Selama ini keberhasilan penanganan kebakaran mudah terlihat dari luas lahan  yang berhasil dipadamkan. Bukan pada berapa banyak kebakaran yang tidak pernah terjadi ? padahal keberhasilan pencegahan justru lebih sunyi, berapa titik api yang terdeteksi sebelum mebesar, respon yang datang sebelum terlambat, warga yang tahu harus berbuat apa, wisatawan yang memahami kapan harus berhenti memasuki kawasan.

Di balik kebakaran Bromo, ada manusia yang mempertaruhkan keselamatan, warga yang mempertaruhkan penghidupan, dan sebuah ekosistem yang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih daripada waktu yang dibutuhkan api untuk membakarnya.

Jika api adalah sesuatu yang bisa dipadamkan, mengapa kita selalu menunggu api menjadi besar untuk bertindak ? Mungkin cara terbaik menyelamatkan Bromo bukan dengan menyiapkan lebih banyak orang untuk memadamkan api, tetapi memastikan semakin sedikit orang yang menjadi bagian mempertaruhkan keselamatannya karena api sudah terlanjur membesar.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bagaimana Islam Melihat Sosok Isa Al Masih (Mesias)?  Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu....

Suara Muhammadiyah

21 June 2024

Wawasan

Anak Saleh (2) Oleh: Mohammad Fakhrudin Telah diuraikan di dalam “Anak Saleh” (AS) 1, ....

Suara Muhammadiyah

1 August 2024

Wawasan

Mobile Apps Untuk Dakwah  Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universit....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

Wawasan

Kebahagiaan: Sebuah Pilihan dan Perspektif Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

3 March 2025

Wawasan

Mudik ke Kampung Abadi  Oleh: Muhammad Qorib, Dosen FAI UMSU, Bendahara PWM Sumut, Wakil Ketua....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah