Di Bawah Payung Doa

Ilustrasi
Ilustrasi

Di Bawah Payung Doa 

Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/LPPA, PWA Kalbar

Banyak orang mengira kedewasaan diukur dari kemampuan  membayar tagihan tepat waktu, membiayai hidup mandiri, atau mengambil keputusan-keputusan besar tanpa ragu. Namun, bertambahnya usia sering kali justru mengikis ilusi kemandirian tersebut. Di balik gelar sarjana, jabatan tinggi, atau uban yang mulai tumbuh di kepala, ada satu kebenaran sunyi yang kerap baru kita sadari ketika badai kehidupan menghantam bernama kehilangan, dan baru kita pahami rasa aman yang hakiki di dunia ini ternyata bersumber dari dua sosok sederhana di yakni ibu dan bapak.

"Dunia ini masih terasa baik-baik saja, berapapun umurmu, selama ibu dan bapakmu masih ada."

Kalimat diatas bukan sekadar ungkapan puitis,  tetapi sebuah pengakuan eksistensial yang dalam,  bagi yang sudah merasakan.Berapapun usia kita, baik saat kita baru menginjak kepala dua, mapan di kepala empat, atau bahkan ketika telah menjadi orang tua, keberadaan ibu bapak memberikan sebuah zona nyaman psikologis yang tidak bisa dibeli atau digantikan oleh apa pun di muka bumi ini.

Selama orang tua masih ada, kita selalu memiliki tempat untuk kembali menjadi "anak kecil". Tidak peduli seberapa lelahnya kita menghadapi kerasnya tekanan dunia kerja, kejamnya kompetisi sosial, atau rumitnya dinamika kehidupan orang dewasa, rumah orang tua adalah pelabuhan terakhir yang paling jujur. Di sana, kita tidak perlu membuktikan apa pun. Ibu akan selalu melihat kita sebagai anak kecilnya, dan bapak akan selalu menjadi tempat bersandar saat dunia luar terasa tidak adil.

Keberadaan mereka menghadirkan ketenangan batin karena ada doa-doa tanpa suara yang dipanjatkan setiap malam. Dalam pandangan spiritual, kedudukan orang tua melampaui batas-batas psikologis, mereka adalah poros keberkahan hidup. Al-Qur'an secara tegas meletakkan perintah berbakti kepada orang tua tepat setelah keesaan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 23-24: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya... dan ucapkanlah, 'Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua mendidik aku di waktu kecil.'"

Ayat tersebut mengajarkan kita bahwa rindu dan doa kepada orang tua tidak pernah ada kedaluwarsa. Doa tersebut adalah jembatan spiritual yang menghubungkan kita dengan perlindungan langit, baik saat mereka di samping kita maupun ketika hanya bisa dikenang lewat kerinduan dalam doa. 

Refleksi dari Uways al-Qarni

Berbicara tentang rindu dan pengorbanan, sejarah Islam mengabadikan nama Uways al-Qarni, seorang pemuda dari Yaman. Uways adalah seorang penghuni langit yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad SAW, meskipun keduanya tidak pernah bertatap muka di dunia fisik. 

Uways sebenarnya sangat merindukan Rasulullah SAW dan ingin sekali pergi ke Madinah. Namun, ia dihadapkan pada dilema batin, siapa yang akan merawat ibunya yang tidak bisa ditinggal seorang diri?. Demi menjaga hati sang ibu, Uways memilih mengubur hasrat terdalamnya. Ia tetap tinggal di Yaman, merawat ibunya dengan sabar hingga sang ibu wafat.

Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan tentang Uways kepada para sahabat, beliau berpesan agar Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib mencari Uways dan meminta doa darinya, karena doanya kepada Allah sangat makbul berkat keridaan ibunya. Kisah ini menjadi cerminan abadi bahwa pengorbanan untuk seorang ibu adalah bentuk cinta tertinggi yang membuka pintu-pintu keberkahan hidup.

Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai betapa berharganya kesempatan emas yang kita miliki saat orang tua masih membersamai. "Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mau, maka jagalah pintu itu, atau biarkan ia sia-sia." (HR. Tirmidzi)

Ketika ibu dan bapak masih ada, kita sedang berdiri di hadapan pintu surga yang terbuka lebar. Ujian terberat dalam proses pendewasaan manusia bukanlah kebangkrutan finansial atau patah hati, melainkan hari di mana kita harus berdiri di hadapan pusara mereka dan menyadari satu kenyataan pahit: kitalah yang kini berada di garis terdepan kehidupan.

Tidak ada lagi tempat untuk mengadu tanpa syarat. Tidak ada lagi sapaan "Sudah makan?" di ujung telepon atau omelan kecil yang dulu sering kali kita anggap angin lalu. Ketika ibu dan bapak telah tiada, lanskap dunia tiba-tiba berubah secara drastis. Dunia terasa jauh lebih luas, lebih dingin, dan kita merasa tiba-tiba menjadi yatim piatu di tengah keramaian, berapapun usia kita saat itu.

Oleh karena itu, sebelum hari itu tiba, sebelum waktu merenggut kesempatan kita untuk mendengar suara mereka mari kita jeda sejenak kesibukan duniawi. Hargai setiap detik yang tersisa. Peluk mereka lebih erat, dengarkan cerita-cerita lama mereka, dan luangkan waktu untuk sekadar menelepon tanpa alasan khusus. Sebab,  kekayaan terbesar di dunia ini bukanlah harta yang menumpuk di bank atau jabatan yang mentereng, melainkan sepasang orang tua yang masih sehat, yang namanya bisa kita sebut dalam sujud, dan yang senyumannya masih menjadi alasan utama mengapa dunia ini terasa baik-baik saja.