Di Tengah Hamalatul Qur’an, Ummul Mukminin dan Darul Arqam Menyiapkan Kader Ulama Muhammadiyah Masa Depan

Publish

25 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
67
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Di Tengah Hamalatul Qur’an, Ummul Mukminin dan Darul Arqam Menyiapkan Kader Ulama Muhammadiyah Masa Depan

Oleh : Haidir Fitra Siagian, Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan / Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Di tengah ratusan Hamalatul Qur’an, para penjaga cahaya wahyu di muka bumi, tampakm dengan jelas tumbuhnya tunas-tunas kader ulama Muhammadiyah masa yang akan datang. Suasana ini  terasa dalam dua agenda wisuda hafidz Al-Qur’an yang berlangsung di Sulawesi Selatan pada Mei 2026. Ini  bukanlah hanya seremoni penamatan santri, tetapi juga menjadi gambaran nyata tentang keberhasilan pesantren Muhammadiyah dalam melahirkan generasi Qur’ani yang siap menjaga nilai-nilai Islam dan melanjutkan dakwah Persyarikatan ke depan.  

Saya memperoleh amanah mewakili Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan untuk menghadiri dua kegiatan tersebut:

Pertama, Wisuda Santri Hafidz Qur’an Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan yang dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Makassar. Kedua, Penamatan Pesantren “Darul Arqam” Muhammadiyah Gombara Makassar dalam rangka ramah tamah Fastwersa49 yang berlangsung pada Ahad, 24 Mei 2026. 

Kedua lembaga pendidikan itu merupakan amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah yang selama ini konsisten membina generasi muda melalui pendidikan pesantren berbasis Al-Qur’an dan pembentukan karakter.

Pada dua momentum tersebut, sekitar 300 santri Muhammadiyah dan Aisyiyah menyelesaikan pendidikan setingkat SMA. Sebagian besar dari mereka merupakan penghafal Al-Qur’an dengan capaian hafalan yang berbeda-beda. Berada di tengah ratusan santri penghafal Al-Qur’an menghadirkan rasa haru sekaligus kebahagiaan tersendiri. Saya melihat lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga dipersiapkan menjadi kader Muhammadiyah yang memiliki integritas, semangat dakwah, dan kepedulian sosial.

Para santri itu bukan sekadar lulusan pesantren yang telah menyelesaikan pendidikan formalnya. Mereka adalah penjaga bumi, harapan umat dan persyarikatan, yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan dakwah melalui ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mereka menjadi sumber optimisme di tengah tantangan sosial dan moral yang semakin kompleks. Dari generasi inilah diharapkan lahir pemimpin-pemimpin umat yang mampu menghadirkan Islam yang menebarkan kedamaian dan pencerahan.

Kebahagiaan itu terasa semakin dekat secara personal ketika menghadiri wisuda di Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan. Di antara para santri yang diwisuda, tak kuduga sebelumnya, ternyata terdapat ponakan saya sendiri, Salwa Humairah Lubis, putri dari adik kandung saya yang berasal dari Duri, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Selama kurang lebih tiga tahun, ia datang ke Makassar untuk menempuh pendidikan dan memperdalam hafalan Al-Qur’an di pesantren tersebut. Melihatnya menyelesaikan pendidikan sebagai bagian dari generasi penghafal Al-Qur’an menghadirkan rasa syukur yang sangat mendalam bagi keluarga kami. 

Sementara itu, di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, saya juga merasakan kegembiraan tersendiri ketika mengetahui bahwa beberapa santri yang tamat merupakan anak-anak dari pasangan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an. Hal ini memperlihatkan bahwa proses kaderisasi Muhammadiyah berjalan secara berkelanjutan lintas generasi. Anak-anak para aktivis dakwah kini tumbuh menjadi generasi baru penghafal Al-Qur’an yang siap melanjutkan perjuangan orang tua mereka di tengah masyarakat. Banyak lembaga pendidikan Islam, tetapi mereka lebih memberikan kepercayaan kepada lembaga Pendidikan Muhammadiyah itu sendiri.

Bagi Muhammadiyah, sejak awal memang tidak selalu menempatkan Islam hanya sebatas ritual ibadah atau hafalan teks keagamaan. Muhammadiyah berusaha menghadirkan Islam sebagai gerakan amaliah yang membawa kemajuan, kesejahteraan, dan pencerahan bagi seluruh umat manusia. Karena itu, sistem pendidikan pesantren Muhammadiyah tidak hanya fokus pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan ilmu pengetahuan, dan kemampuan menjawab tantangan zaman. Semangat tersebut sejalan dengan tujuan Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dalam konteks Persyarikatan, para penghafal Al-Qur’an memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka menjadi penjaga kemurnian nilai dan ideologi Muhammadiyah dalam upaya mengembalikan praktik keagamaan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain itu, mereka juga menjadi penggerak utama perkembangan Muhammadiyah Boarding School (MBS) yang kini tumbuh di berbagai daerah. Dari lingkungan pesantren itulah diharapkan lahir kader-kader ulama yang kelak memperkuat Majelis Tarjih dan Tajdid dalam merumuskan pandangan keagamaan dan menjawab problematika umat yang terus berkembang.

Para penghafal Al-Qur’an juga diharapkan mampu menjadi sumber kekuatan spiritual di tengah amal usaha Muhammadiyah. Mereka akan hadir sebagai imam masjid, pembimbing rohani, guru, dai, maupun penggerak dakwah di berbagai institusi Muhammadiyah seperti sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial. Karena perannya yang sangat penting, penghafal Al-Qur’an kini dipandang sebagai aset strategis persyarikatan yang perlu mendapatkan perhatian serius melalui penguatan pesantren dan dukungan pendidikan lanjutan. Muhammadiyah memahami bahwa kualitas kader ulama dan intelektual menjadi salah satu penentu masa depan gerakan dakwah ini.

Melalui koordinasi LP2M PWM Sulsel, termasuk melalui daurah dan kemah tahfidz yang setiap saat diadakan, pengembangan pesantren Muhammadiyah diarahkan pada integrasi ilmu agama dan ilmu umum secara lebih harmonis. Para santri tidak hanya dipersiapkan menjadi penjaga hafalan Al-Qur’an, tetapi juga diarahkan menjadi profesional, akademisi, ilmuwan, dan ulama berkemajuan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Klaster pesantren tahfiz yang dibina LP2M juga diharapkan menjadi sumber lahirnya ulama tarjih yang kuat hafalannya, luas wawasan keilmuannya, dan progresif dalam melakukan ijtihad menghadapi perubahan zaman. Dengan demikian, pesantren Muhammadiyah dapat terus menjadi pusat kaderisasi ulama sekaligus pusat lahirnya generasi unggul bangsa.

Lebih dari itu yang patut disyukuri, perkembangan pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sulawesi Selatan tidak hanya terlihat di dua pesantren tersebut. Pada tahun ini, terdapat sekitar 30 pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya di Sulawesi Selatan yang juga menamatkan para santrinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa gerakan pendidikan Qur’ani dan kaderisasi ulama terus berkembang dengan penuh optimisme. Dari pesantren-pesantren itu diharapkan lahir generasi Hamalatul Qur’an yang tidak hanya menjaga hafalan, tetapi juga membawa cahaya Al-Qur’an untuk membangun masyarakat, memperkuat persyarikatan, dan menghadirkan Islam berkemajuan bagi Indonesia dan dunia.*


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KALIBAHI, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka meningkatkan mutu perguruan tinggi, baik dosen, staf kep....

Suara Muhammadiyah

22 September 2023

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Dalam semangat Milad Muhammadiyah ke-113 yang mengusung tema “M....

Suara Muhammadiyah

14 October 2025

Berita

PAYAKUMBUH, Suara Muhammadiyah – Muballigh Muhammadiyah diharapkan dapat memahami dengan baik ....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Suara Muhammadiyah bersama Bank Syariah Indonesia Tbk Regional VII ....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) perkuat kerja sama dengan....

Suara Muhammadiyah

11 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah