Dinamika Relasi Sunni–Syiah dalam Bingkai Persatuan Umat Islam

Suara Muhammadiyah

29 July 2026

132
Istimewa

Istimewa

Dinamika Relasi Sunni–Syiah dalam Bingkai Persatuan Umat Islam

Oleh: Prof Dr Robby Habiba Abror, MHum, Guru Besar Ilmu Religi dan Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Perbedaan Sunni dan Syiah dapat dilihat dari sejak menjelang hingga pasca wafatnya Rasulullah saw pada 12 Rabi’ul Awal 11 H. Kita dapat menandainya sebagai sejarah awal mula perpecahan dalam hal suksesi kepemimpinan umat Islam. Dua pendekatan yang berbeda muncul tentang sumber legitimasi pemimpin. Dalam tradisi Sunni berpijak pada prinsip syura atau musyawarah umat, yang ada dalam peristiwa Saqifah Bani Sa’idah. Dalam Shahih al-Bukhari, pernyataan Umar bin Khattab tercatat bahwa baiat Abu Bakar dipilih secara konsensus sahabat untuk menjaga persatuan umat.

Sedangkan dari sisi tradisi Syiah melihat kepemimpinan sebagai imamah, yaitu ketetapan Tuhan melalui Nabi saw. Peristiwa Ghadir Khum pada 18 Dzulhijjah 10 H, ketika Nabi bersabda tentang kedudukan Ali bin Abi Thalib. Sabda Nabi saw tentang Ali, man kuntu maulahu, fa 'aliyyun maulahu, barangsiapa aku adalah maulanya (pemimpin/walinya), maka Ali adalah maulanya. (Musnad Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim an-Naisaburi).

Peristiwa Ghadir Khum terjadi saat Haji Wada’, dan pemilihan Abu Bakar terjadi beberapa bulan kemudian, setelah Nabi saw wafat (selisihnya kurang dari 100 hari). Bagi Syiah, kepemimpinan tidak dapat diserahkan begitu saja pada mekanisme politik. Ia harus bersambung pada garis keturunan Nabi saw. Dari situlah kemudian berkembang perbedaan dalam fiqih, kalam, tafsir, dan penulisan sejarah selama lebih dari 14 abad.

Konflik awalnya sebenarnya lebih bersifat politik daripada akidah atau teologis. Pertama, pada 36 H / 656 M terjadi Perang Jamal di mana Sayyidah ‘Aisyah ra bersama Thalhah dan Zubair berangkat ke Basrah menuntut qishash atas pembunuh Utsman dengan menentang keputusan Ali. Kedua, terjadi Perang Shiffin pada 37 H / 657 M antara Muawiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Syam, yang menuntut qishash Utsman pada Ali. Ketiga, tragedi Karbala yang terjadi pada 10 Muharram 61 H / 680 M di padang Karbala, Irak, saat cucu baginda Nabi saw yaitu Hussein bin Ali bin Abi Thalib beserta keluarga dan 72 orang pengikutnya terbunuh setelah dikepung ribuan pasukan lawan.

Bagi Sunni, Karbala adalah tragedi besar dan kezaliman yang harus dikecam, sebagaimana dicatat Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah. Sedangkan bagi Syiah, Karbala menjadi simbol perlawanan terhadap tirani dan puncak mazlumiyah Ahlul Bait. Baik Sunni maupun Syiah sepakat bahwa pembunuhan cucu Nabi saw adalah sangat melukai umat Islam.

Tantangan terbesarnya sebenarnya terletak pada sikap dan pemahaman mayoritas dari kita yang selama ini keliru dan dilestarikan. Misalnya, selalu mengatakan bahwa syiah itu buruk dan sesat, melaknat para sahabat, al-Qurannya berbeda dengan sunni, sukanya taqiyah dan nikah mut'ah, dsb. Kemudian belakangan ikut melakukan framming terhadap Iran, Hizbullah dan Houthi sebagai gerakan syiah musuh umat Islam. Ikut menyebarkan kebencian dalam berbagai versinya. Padahal belum diverifikasi kebenarannya, sebagian kita tidak mau bertabayun kepada mereka. Bahkan jika ada dari pihak Sunni sendiri yang hendak menjelaskan, juga ikut dituduh syiah.

 Jadi, Muhammadiyah harus menjadi perekat dan tenda besar bagi persatuan umat Islam. Di Indonesia, saya lihat PP Muhammadiyah sudah sering menerima tamu rombongan dari syiah atau ahlul bait baik dari ABI, IJABI maupun tamu-tamu dari Iran. Sejak pecah Toufan al-Aqsho, serangan Hamas dari Gaza ke Israel, dan keterlibatan Iran dan proksinya yang secara konsisten membela Palestina, dunia akhirnya sadar, bahwa merekalah yang menyelamatkan muka Islam dengan turun gelanggang pertempuran dan menerima kesyahidan dalam perjuangan bersama poros perlawanan Islam.

Cara menyikapi perbedaan, tentu saja kita mulai dari diri kita sendiri. Bersikap dewasa dan bijaksana dalam melihat perbedaan, tidak mudah tersulut emosi dan tidak ikut-ikutan menyebarkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Dari ahlus sunnah, Imam Syafi’i pernah bilang, ra’yukum showab yahtamilul khoto’, wa ra’yu ghairi khotho’ yahtamilus showab, pendapatku benar tapi mengandung kemungkinan salah, pendapat orang lain salah tapi mengandung kemungkinan benar. Sedangkan dari ahlul bait,  Imam Ja’far Shadiq mengingatkan, quuluu linnasi ahsana ma tuhibbuna ayyuqoola lakum, katakanlah kepada manusia ucapan yang paling baik yang kalian suka jika dikatakan kepada kalian. Kita utamakan persatuan umat Islam, sebagaimana kita perlakukan saudara-saudara Muslim kita lainnya.

5. Jika terjadi konflik akibat perbedaan Sunni-Syiah, ingatlah bahwa Muslim itu bersaudara, jadilah penengah dan perekat umat. Jangan terjebak pada pengkafiran (takfir) dan terlibat dalam permusuhan abadi. Ingat pesan Allah swt dalam Q.S. Ali Imran: 103, yang berbunyi “berpeganglah kalian semua pada tali agama Allah dan janganlah bercerai berai. Imam Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, saat mengirim surat ke Malik Asytar, mengatakan, manusia itu ada dua yaitu saudaramu seagama, atau saudaramu sesama manusia.

Bahkan dari Piagam Madinah kita dapat belajar cara bagaimana Nabi saw menyatukan Muhajirin, Anshar, non-Muslim dalam satu konstitusi kota. Intinya, banyak hal yang bisa didialogkan antara ahlus sunnah (sunni) dan ahlul bait (syiah). Kita juga bisa belajar banyak dari Iran yang mayoritasnya adalah syiah, tentang kemandiriannya setelah diembargo dan disanksi dunia hamper setengah abad, tetapi memiliki ketangguhan militer, kemajuan dalam bidang sains, dan nyali kesyahidan untuk terpanggil dalam jihad melawan penindasan serta selalu konsisten membela Palestina.

Tulisan ini merupakan hasil wawancara tertulis untuk Majalah Suara Muhamamdiyah Edisi 13/2026


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Oleh: Syamsul Anwar Kalender Hijriah Global Tunggal....

Suara Muhammadiyah

17 January 2024

Wawasan

Tidak Mendukung Kemaksiatan adalah Kenikmatan Beragama Oleh : Haidir Fitra Siagian, alumnus Jurusan....

Suara Muhammadiyah

1 June 2024

Wawasan

Menjaga Akad di Era Digital: Smart Contract dan Keadilan Muamalah Oleh: Rusydi Umar, Kaprodi S2 Inf....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Wawasan

Peran Strategis Dakwah Digital Oleh: Agusliadi Massere Ada banyak fungsi, tujuan, dan manfaat dakw....

Suara Muhammadiyah

18 November 2023

Wawasan

Merawat Cahaya di Negeri Jiran Oleh: Mega Ardina, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Aisy....

Suara Muhammadiyah

7 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah