Disiplin Waktu Jantung Profesionalisme

Ilustrasi
Ilustrasi

Menggugat Logika "Asal Beres": Mengapa Disiplin Waktu Tetap Jadi Jantung Profesionalisme

Oleh: dr.Alfan Erzi’, M.MRS, Kabid. Penunjang RSU Muhammadiyah Bandung – Tulungagung, Ahli Strategic Management Spectrum Hospital Consultant

"Ah, yang penting kan kerjaan gue beres, bos! Masalah datang jam berapa mah nomor dua, jangan kaku-kaku amat lah jadi orang."

Kalimat di atas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Di era sekarang, dimana kedai kopi dipenuhi kaum remote worker ber-laptop penuh stiker, narasi "asal kerjaan beres" seolah menjadi kitab suci baru. Kedisiplinan jam kerja konvensional dianggap sebagai warisan kuno zaman kolonial yang mengekang kreativitas.

Namun, apakah benar kedatangan tepat waktu itu kehilangan esensinya selama target tercapai? Ataukah ini sebenarnya hanyalah pembenaran yang dibalut dengan bahasa modern agar terlihat keren? Mari kita bedah!

1. Perang Pikiran Para Filsuf: Hasil Akhir vs Proses

Kalau kita membawa masalah "si tukang telat berprestasi" ini ke meja bundar para filsuf, kita akan melihat perdebatan yang sengit antara dua kubu besar.

Di satu sisi, ada Jeremy Bentham dengan aliran Utilitarianisme-nya. Bagi aliran ini, nilai suatu tindakan diukur dari hasilnya. Kalau pekerjaan selesai dengan sempurna, tidak ada yang dirugikan, dan bos senang, maka jam kedatangan Anda bukan masalah besar.

Namun di sisi lain, filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant akan melotot. Melalui teori Deontologi, Kant menegaskan bahwa sebuah tindakan itu baik kalau dilakukan berdasarkan kewajiban dan janji moral, bukan karena hasilnya. Kant punya rumus sederhana bernama Categorical Imperative: bayangkan kalau semua orang di bumi ini berpikir "yang penting kerjaan beres lalu boleh datang semaunya." Apa yang terjadi? Rumah sakit berantakan, jadwal penerbangan kacau, dan rapat penting hanya diisi kursi kosong karena semua orang datang sesuka hati. Menurut Kant, meremehkan waktu adalah bentuk pengkhianatan terhadap komitmen bersama.

2. Jebakan Bahasa: Ketika "Beres" Mengubah Makna

Secara ilmu bahasa dan komunikasi, kalimat "datang tepat waktu gak penting, yang penting kerjaan beres" adalah sebuah jebakan logika yang manis (dalam istilah kerennya False Dilemma). Kalimat ini sengaja membenturkan dua hal seolah-olah kita harus memilih salah satu: mau jadi orang yang rajin tapi bodoh, atau mau jadi orang jenius tapi pemalas? Padahal, realitanya tidak begitu. Mengapa tidak menjadi orang yang datang tepat waktu DAN kerjaannya beres?

Berdasarkan analisis wacana, kata "disiplin" di sini sengaja digeser maknanya menjadi sesuatu yang negatif, seperti "kaku", "kolot", atau "tidak kreatif". Sebaliknya, kata "beres" dipuja-puja sebagai satu-satunya standar profesionalisme. Satu hal yang sering dilupakan: kata "beres" itu sangat subjektif. Beres menurut Anda yang datang jam 11 siang, belum tentu "beres" bagi rekan kerja yang membutuhkan anda sejak jam 8 pagi. 

3. Apa Kata Leader dan Ahli Manajemen? Tergantung Anda Kerja di Mana

Dalam teori manajemen modern, kubu "asal beres" punya pembelaan kuat bernama ROWE (Results-Only Work Environment). Di ekosistem ini—biasanya di industri kreatif, startup teknologi, atau agensi—karyawan tidak dinilai dari berapa jam mereka duduk manis di kantor, melainkan dari output nyata yang mereka hasilkan. Mau kerja jam 2 malam sambil sarungan, asalkan pekerjaan selesai, tidak masalah.

"Tapi, jangan coba-coba membawa mentalitas 'asal beres' ini ke industri pelayanan publik seperti rumah sakit. Bayangkan jika seorang staf manajemen—misalnya dari tim perencanaan SDM atau Keuangan—datang terlambat saat ada agenda krusial seperti rapat koordinasi maka seluruh jajaran direksi, kepala instalasi, hingga mungkin dokter spesialis harus membuang waktu berharga mereka hanya untuk menunggu di ruang rapat. Di dunia rumah sakit, keterlambatan satu orang staf manajemen dapat memicu efek domino yang merusak seluruh koordinasi rantai kerja tim (supply chain), yang pada akhirnya merugikan efisiensi pelayanan pasien di garda depan."

4. Menengok Aturan Main dalam Islam: Urusan Akad dan Berkah

Bagi seorang Muslim, memandang narasi ini tidak boleh lepas dari konsep kejujuran dan pemenuhan janji. Ketika kita menandatangani kontrak kerja, kontrak tersebut dalam fiqih Islam disebut sebagai Akad. Di dalam akad itu biasanya tertulis jelas: jam kerja dimulai pukul 08.00 sampai 16.00 dengan kompensasi gaji sekian rupiah.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an:

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji (akad-akad) itu..." (QS. Al-Ma'idah: 1).

Maka secara otomatis, datang tepat waktu bukan lagi sekadar urusan aturan kantor, melainkan urusan ibadah dan pemenuhan janji kepada Allah. Sengaja datang terlambat tanpa alasan darurat (uzur syar'i) berarti kita telah melanggar poin akad yang kita setujui sendiri.

Ulama besar sekelas Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Menyia-nyiakannya pertanda lemahnya kualitas spiritual seseorang. Lebih jauh lagi, ulama kontemporer mengingatkan sebuah hal yang cukup menampar: jika kita sering memotong jam kerja (datang terlambat atau pulang cepat) secara sengaja namun tetap menerima gaji penuh tanpa potongan, maka sebagian dari uang yang kita bawa pulang ke rumah berpotensi mengandung unsur syubhat (tidak jelas kehalalannya) karena ada hak waktu pemberi kerja yang kita "curi". 

Menyatakan bahwa datang tepat waktu itu tidak penting asalkan pekerjaan beres adalah sebuah kesimpulan yang terburu-buru. Di dunia nyata yang saling terhubung ini, performa kita tidak berdiri di ruang hampa. Disiplin waktu tetaplah memegang peranan krusial, kecuali Anda adalah seorang pekerja lepas (freelancer) dan tidak terikat akad waktu kerja tetentu. Dalam dunia kerja yang berkah dan profesional, disiplin waktu adalah wujud integritas proses, sedangkan pekerjaan beres adalah buah hasilnya. Menghargai waktu menunjukkan kelas kita sebagai profesional yang utuh. Wallahua’lam bisshowaab