Dosen UM Bandung: Perlu Integrasi Nilai Spiritual dalam Rutinitas Pekerjaan

Suara Muhammadiyah

11 November 2024

1338
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhamamdiyah – Dosen program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Tasya Augustiya menyatakan bahwa pemahaman mengenai kesejahteraan di tempat kerja, atau yang dikenal sebagai workplace well-being, kini semakin mendapat perhatian serius.

Bahkan, WHO turut menyoroti isu kesehatan mental di lingkungan kerja dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada Oktober 2024, menandakan betapa krusialnya aspek ini bagi kesejahteraan pekerja.

Ahli psikologi industri dan organisasi ini juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai spiritual dan psikologis dari praktik salat Subuh ke dalam dunia kerja. Langkah ini bertujuan untuk mendukung kesejahteraan pekerja secara menyeluruh, baik secara fisik, mental, maupun emosional.

Tasya menekankan bahwa salat Subuh tidak sekadar ibadah. Namun, juga sebagai awal yang dapat menghidupkan semangat dan ketenangan batin sebelum memasuki rutinitas pekerjaan.

“Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat mental dan emosi melalui zikir dan doa pagi yang mampu mengatur pikiran menjadi lebih tenang dan terkendali sepanjang hari,” ujar Tasya dalam program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat belum lama ini.

Data dari survei global Gallup menunjukkan bahwa sekitar 41 persen pekerja mengalami stres pada 2023. Begitu pula menurut The Health & Safety Executive (HSE), sebanyak 1,8 juta orang mengalami sakit terkait pekerjaan, dengan 875.000 di antaranya mengalami stres, depresi, atau kecemasan. Hal ini menandakan bahwa ketidakseimbangan kehidupan kerja menjadi tantangan serius yang perlu ditangani.

Dalam paparannya, Tasya menjelaskan bahwa kesejahteraan di tempat kerja bukan hanya soal bebas dari stres, melainkan mencakup aspek penting lain. Misalnya menemukan makna dalam pekerjaan, memiliki hubungan sosial yang positif, serta menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Melalui penerapan lima pilar kesejahteraan PERMA (positive emotion, relationships, engagement, meaning, achievement), pekerja dapat mencapai kondisi yang optimal di tempat kerja. Sebagai salah satu solusi, Tasya mendorong para pekerja untuk membawa semangat Subuh ke dalam pekerjaan mereka.

Ia menyarankan untuk memulai hari dengan doa dan bersyukur, serta mengatur waktu sebaik mungkin, terutama dengan menuntaskan tugas-tugas penting pada pagi hari. ”Menghindari menunda pekerjaan dan mensyukuri setiap pencapaian juga dapat meningkatkan kesejahteraan diri,” katanya.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dengan menyediakan waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Ia menyarankan agar pagi hari dijadikan momen apresiasi terhadap rekan kerja serta melakukan evaluasi diri pada malam hari sebagai refleksi untuk perbaikan di hari berikutnya.

“Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan para pekerja tidak hanya merasa puas secara profesional. Namun, juga mampu menemukan makna dalam pekerjaan mereka yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih bahagia dan produktif,” tandasnya.*(FA/FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PAPUA, Suara Muhammadiyah – Dalam upaya memperkuat dan membentuk karakter Islami. Panti Asuhan....

Suara Muhammadiyah

18 January 2025

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah A.K Anshori mela....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka Milad Ke-17 Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) ....

Suara Muhammadiyah

28 June 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) meny....

Suara Muhammadiyah

16 December 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir beserta jaj....

Suara Muhammadiyah

18 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah