BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Minggu pertama setelah Ramadhan kajian Ahad pagi masjid Al Muttaqin Tanjung Elok diisi oleh Dr.Ibnu Hasan,M.Si. Kajian kali ini membahas mengenai 4 pilar Silaturahmi. Kajian dihadiri oleh jamaah rutin masjid dan sebagian jamaah tamu yang akan menuju Yogyakarta dari Jakarta.
Dalam kajian ini disampaikan mengenai 4 pilar silaturahmi yang umumnya dilakukan umat muslim disaat lebaran. Disampaikan sebelumnya oleh Ust.Ibnu bahwa selama puasa umat muslim bertujuan meningkatkan ketaqwaan. Taqwa mengandung unsur takut, taat, hati-hati, menjaga diri dari hal-hal yang mengotori jiwa. Taqwa berarti menjaga kesucian jiwa (Tazkiyyatunnafs). OLeh karena itu selepas Ramadhan, ummat muslim selalu melakukan kegiatan saling maaf memaafkan dengan silaturahmi.
Ust.Ibnu menjelaskan bahwa ada 4 pilar dalam menjaga silaturahmi,yaitu tafahum (saling memahami), takaful (merasa senasib-seiman), saling percaya (menjamin) dan ta’awun (saling menolong). Keempat pilar inilah yang sesungguhnya dilakukan umat muslim setelah menjalankan sholat Idul Fitri.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita berinteraksi dengan keluarga, tetangga, sahabat, bahkan orang-orang yang berbeda latar belakang dengan kita. Di sinilah pentingnya tafahum: kemampuan untuk memahami orang lain, menerima perbedaan, dan membangun harmoni. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Al Hujurat ayat 13 yang artinya "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." .
Pilar kedua adalah takaful yaitu rasa kebersamaan, merasa senasib dan seiman. Islam mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh: bila satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan. Demikian pula umat Islam, bila satu saudara mengalami kesulitan, maka kita pun ikut peduli dan berusaha meringankan bebannya.
Rasulullah ï·ș bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa takaful bukan sekadar konsep, melainkan sikap hidup: kita saling menopang, saling menguatkan, dan saling menjaga. Dengan takaful, kita membangun solidaritas, memperkuat iman, dan menumbuhkan rasa aman di tengah masyarakat.
Ust.Ibnu menjelaskan pilar ketiga adalah tadhamun. Dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, kepercayaan adalah pondasi yang membuat hubungan menjadi kokoh. Tanpa rasa percaya, ukhuwah akan rapuh; tanpa sikap saling menjamin, kebersamaan akan mudah runtuh. Islam mengajarkan kita untuk menjadi penopang bagi saudara kita, bukan sekadar teman di kala senang, tetapi juga penolong di kala susah.
Rasulullah bersabda: "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti bangunan, yang satu sama lain saling menguatkan." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kita harus saling percaya, saling menjaga, dan saling menjamin. Dengan sikap ini, kita membangun rasa aman, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan solidaritas yang menjadi ciri khas umat Islam.
Dilanjutkan dalam pilar terakhir atau keempat Ust Ibnu menyampaikan mengenai ta'awun yaitau saling menolong. Islam mengajarkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri kita sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk orang lain. Menolong saudara kita yang kesulitan, mendukung mereka yang berjuang, dan meringankan beban sesama adalah bagian dari ibadah yang mulia.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Al-Maidah:2 yang artinya "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."
Ayat ini menegaskan bahwa ta’awun adalah perintah langsung dari Allah: kita diminta untuk saling menolong dalam kebaikan, bukan dalam keburukan. Dengan ta’awun, kita membangun masyarakat yang kuat, penuh kasih, dan berlandaskan iman. (Eka)
