Empati Mengurangi Keputusasaan
Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd, Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Doktor (S3) Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol
Tragedi meninggalnya YBR bocah yang berumur 10 tahun dan masih duduk di kelas IV SD di kecamatan Jerebuu, kab. Ngada, NTT, sangat mengusik hati nurani. Bocah itu diduga mengakhiri hidupnya dengan seutas tali di depan rumah neneknya pada akhir bulan Januari yang lalu. Kematiannya begitu tragis, karena ia menganggap kehidupan tak berarti lagi setelah sang ibu tidak dapat memberi uang untuk membeli alat tulis seharga sekitar sepuluh ribu rupiah. Hal itu diketahui dari selembar kertas lusuh yang ditulisnya sebelum maut menjemput.
Mungkin sulit dilukiskan dengan kata-kata tentang kesengsaraan ataupun kesulitan ekonomi yang dialami keluarga miskin tersebut. Yang jelas seorang anak bangsa telah menutup lembaran hidupnya akibat harapan yang tak kesampaian. Hal ini tentu menjadi alarm peringatan bagi mereka yang memegang amanah sebagai pihak yang berkewajiban menyejahterakan rakyat, sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 45.
Bukan hanya pemegang amanah tersebut di atas, bagi kalangan mereka yang diberi amanah sebagai pendidik, hal ini sudah merupakan petir yang menggelegar, memberikan peringatan supaya empati terhadap murid harus lebih meningkat lagi. Apalagi di era kemajuan teknologi yang membuat orang semakin terperangkap dalam kesendirian. Orang sibuk dengan acara masing-masing dan terikat erat dengan alat komunikasi yang sering membuat yang jauh menjadi dekat dan yang dekat semakin jauh.
Kondisi itu yang membuat sebagian kalangan tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan ketidakhadiran murid, luput memperhatikan perubahan sikap, abai terhadap penurunan prestasi, tidak tanggap terhadap perilaku yang menarik diri dari lingkungan dan sebagainya. Hal ini terungkap dari kasus bocah malang tersebut, di mana ia tidak masuk sekolah akibat ketiadaan alat tulis. Ia takut belajar karena tidak memiliki alat untuk menambah ilmu. Rentangan waktu dari kesulitan memiliki alat belajar itu sampai ia memutuskan untuk menganggap kehidupan lebih buruk dari kematian, luput dari pengamatan. Luput dari perhatian sehingga ia menanggung sendiri duka lara yang dialaminya.
Dalam perannya sebagai pendidik umat, Nabi Muhammad SAW memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap sahabatnya. Suatu kali setelah shalat, Nabi memperhatikan sahabat yang ikut shalat di belakangnya, ternyata ada yang tidak terlihat. Tidak ikut dalam jemaah itu seorang sahabat yang bernama Tsabit bin Qais, Nabi langsung menanyakan keberadaannya dan menyuruh utusan untuk mencari tahu mengapa ia tidak ikut shalat.
Tindakan cepat Nabi itu membuahkan hasil, ternyata Tsabit takut ikut shalat dan takut mengikuti majelis Nabi setelah mengetahui turunnya surat Al Hujurat ayat 2 yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedang kamu tidak menyadarinya.
Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir al Misbah vol. 12, halaman 576, Tsabit bin Qais ini memiliki suara yang amat lantang. Suaranya keras melebihi suara Nabi, Sehingga mendengar ayat yang baru turun kala itu ia sangat takut, ia sangat putus asa dan tidak mau keluar rumah. Ia menduga amalnya telah terhapus dan ia akan menjadi penghuni neraka.
Ketakutan itu membuat ia mengurung diri, tidak mau berinteraksi dengan orang lain dan tenggelam dalam pikiran sendiri bahwa api neraka akan membakarnya nanti. Dalam suasana galau dan takut itulah utusan Nabi datang menemuinya dan mengajaknya untuk bertemu dengan Nabi. Meskipun dengan berat hati ia datang dan menjelaskan ketakutan yang dirasakannya, Nabi menunjukkan empati yang luar biasa dan menjelaskan bahwa ia adalah penghuni surga. Harapannya pulih kembali dan belenggu keputusasaan itu pun tanggal.
Dalam hal kondisi ketakutan dan kekalutan serta keputusasaan yang dialami YBR, sebenarnya ia merasakan hal yang sama dengan Tsabit. Hanya saja empati terhadap anak malang itu sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Mungkin ada yang lupa bahwa ada anak yang tidak masuk sekolah karena tidak punya alat tulis, sehingga tidak sempat menanyakan dan mencari tahu tentang keberadaannya. Akibatnya sang anak semakin jauh terperosok ke dalam jurang keputusasaan. Keputusasaan itu berlalu dan meningkat dalam hitungan menit, jam dan hari, sehingga ia melihat dunia semakin gelap.
Berkaca pada kekalutan dan ketakutan serta keputusasaan Tsabit yang dengan cepat teratasi oleh empati Nabi, maka untuk mencegah terulangnya kasus YBR, sangat ditunggu empati berbagai pihak, terutama pendidik. Siapa tahu dengan empati yang ditunjukkan, meskipun hanya dengan sepatah kata, keputusasaan berkurang dan kehidupan dapat diselamatkan. Wallahua’lam.

