Era Digital, Hadapi dengan Akhlak Nabi

Suara Muhammadiyah

28 August 2026

130
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Era Digital, Hadapi dengan Akhlak Nabi

Oleh: M. Saifudin, Lc, Pengasuh PPM Sangen Weru Sukoharjo/ Wakil Ketua PCM Weru

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)

Era digital telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Dahulu komunikasi dilakukan secara langsung atau melalui surat yang membutuhkan waktu untuk sampai kepada penerima. Kini sebuah pesan melalui WhatsApp, unggahan Instagram, video TikTok, atau YouTube dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan menit.

Kemajuan ini tentu patut disyukuri. Teknologi telah membuka ruang yang luas untuk pendidikan, dakwah, silaturahmi, dan penyebaran ilmu pengetahuan. Namun, kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan akhlak. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan, tetapi juga untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, penghinaan, kebencian, bahkan kemaksiatan.

Karena itu, persoalan utama era digital bukan sekadar bagaimana manusia menguasai teknologi, tetapi bagaimana manusia mengendalikan teknologi dengan nilai-nilai moral dan agama.

Di sinilah firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 menemukan relevansinya. Allah menegaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamadalah uswah hasanah, teladan yang baik. Menurut Ibn Katsir, ayat ini menjadi landasan untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdalam perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau, terutama dalam kesabaran, keteguhan, perjuangan, dan keteladanan menghadapi berbagai situasi.

Ayat ini turun dalam konteks Perang Ahzab. Ketika kaum Muslimin menghadapi pengepungan, ketakutan, tekanan, dan ancaman dari berbagai arah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamtidak hanya memberikan instruksi dari tempat yang aman. Beliau hadir bersama para sahabat, menghadapi kesulitan, bekerja, bersabar, dan menunjukkan keteguhan. Keteladanan beliau bukan sekadar teori, melainkan akhlak yang diwujudkan dalam tindakan.

Nilai tersebut tetap relevan, meskipun bentuk tantangan manusia berubah. Dahulu manusia diuji dengan keberanian menghadapi musuh di medan perang. Kini manusia juga diuji dengan kemampuan mengendalikan jari ketika menggunakan media sosial. Dahulu seseorang dapat menyakiti orang lain melalui perkataan secara langsung. Kini satu komentar, unggahan, atau potongan video dapat melukai kehormatan seseorang dan menyebar jauh lebih luas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengajarkan bahwa keselamatan seorang Muslim sangat berkaitan dengan kemampuannya menjaga lisan. Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Di era digital, makna "lisan" tentu dapat kita perluas pada apa yang kita tulis, unggah, bagikan, dan sebarkan.

Jempol pun membutuhkan akhlak. Sebelum membagikan sebuah informasi, seorang Muslim perlu bertanya: apakah ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu disebarkan? Jangan sampai kecepatan membagikan informasi mengalahkan kewajiban melakukan tabayyun. Allah telah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar orang beriman memeriksa berita yang datang agar tidak menimpakan keburukan kepada orang lain karena ketidaktahuan.

Lebih dari itu, uswah hasanah mengajarkan bahwa akhlak tidak boleh bergantung pada ada atau tidaknya manusia yang melihat. Seseorang mungkin menggunakan akun anonim, menghapus komentar, atau mengirim pesan secara pribadi. Namun tidak ada aktivitas digital yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.

Karena itu, ukuran akhlak seorang Muslim bukan hanya bagaimana ia bersikap ketika berada di hadapan manusia, tetapi juga bagaimana ia bertindak ketika merasa tidak ada seorang pun yang melihat.

Inilah makna penting dari lanjutan ayat: لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. Keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamakan benar-benar hidup pada diri orang yang berharap kepada Allah, meyakini hari akhir, dan banyak mengingat Allah. Kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah menjadi benteng ketika teknologi menawarkan kebebasan tanpa batas.

Maka, kita tidak membutuhkan teknologi yang kembali ke masa lalu. Kita membutuhkan akhlak Nabi yang hadir di tengah teknologi masa kini.

Semangat KH. Ahmad Dahlan juga mengajarkan bahwa ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus melahirkan amal. Maka keberagamaan di era digital tidak cukup diwujudkan dengan banyaknya konten keislaman yang kita produksi atau bagikan. Ukurannya adalah apakah teknologi membuat kita semakin jujur, santun, bermanfaat, dan bertanggung jawab.

Mari menjadikan media digital sebagai ladang amal. Jari yang sama dapat menjadi jalan fitnah, tetapi dapat pula menjadi jalan dakwah. Layar yang sama dapat menjadi pintu kemaksiatan, tetapi dapat pula menjadi pintu ilmu dan kebaikan.

Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan media komunikasi boleh berganti. Tetapi akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamtetap menjadi pedoman.

Era digital tidak cukup dihadapi dengan kecanggihan teknologi. Ia harus dihadapi dengan akhlak Nabi.

Wallahu a'lamu bish-shawab.

Nashrumminallahi wafathun qarib


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (25) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

9 January 2025

Wawasan

Neraka dalam Perspektif Islam: Mengapa Ada Hukuman dari Tuhan yang Maha Pengasih? Oleh: Donny Syofy....

Suara Muhammadiyah

1 October 2025

Wawasan

Muhammadiyah Bermuhasabah Oleh: Saidun Derani Menjelang tutup tahun 2023 dan memasuki tahun 2024 s....

Suara Muhammadiyah

30 December 2023

Wawasan

Kelas Bawah Mu dan Solusinya Oleh: Saidun Derani, Dosen UM-Surby, UM-T dan UIN Syahid Jakarta, akti....

Suara Muhammadiyah

1 April 2026

Wawasan

Jejak Ilmu, Jejak Dakwah: Meneladani Prof Siti Chamamah Soeratno Oleh: Drs Ki  Anton Eknathon,....

Suara Muhammadiyah

9 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah