Eskalasi Kehidupan

Suara Muhammadiyah

11 April 2025

1247
sumber gambar: pixabay.com

sumber gambar: pixabay.com

Bulan Syawal tengah kita jalani. Apa maknanya? Bulan bukan sekadar bergembira karena bisa bersua keluarga maupun hari raya berbuka puasa, akan tetapi dominan dimaknai bulan peningkatan (eskalasi). Yaitu peningkatan kualitas kehidupan setelah tempaan laku spiritual selama bulan Ramadan. Hendaknya, momen ini dijadikan kesempatan untuk meningkatkan diri agar menjadi manusia terbaik (khayra ummah).

Pertama, ibadah. Tengoklah selama bulan Ramadan kemarin. Betapa masifnya ibadah berikut amalan ditunaikan. Tarawih, tadarus Al-Qur'an, infak, sedekah, dan lainnya. Kini, Ramadan telah berlalu, apakah peribadatan itu dilanjutkan atau justru dihentikan?

Kita mesti melanjutkan apa yang telah ditunaikan selama bulan Ramadan kemarin. Ibadahnya mengalami peningkatan. Nyatalah ibadah sebagai jangkar kehidupan. Sekali bergeser, maka diri pun juga akan bergeser dari titik koordinat syariat agama. “Shalat (ibadah) itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar,” kata Allah di Qs al-Ankabut: 45.

Haedar Nashir (2013) mendudukan posisi sentral ibadah yang dilakukan dengan benar dan penuh penghayatan, maka dengan sendirinya akan mencegah si pelaku dari perbuatan buruk. Artinya, jika ada upaya peningkatan kualitas ibadah, dipastikan akan meroket tinggi lakunya menjadi adiluhung dan terhindar dari pelbagai keburukan dalam kehidupan.

Kedua, komunikasi. Ini cenderung pada aspek relasi kepada sesama manusia (habl min al-nas). Praktiknya dengan menjalin silaturahmi. Dalam suasana masih Syawal ini, tepatlah kita rekatkan kembali silaturahmi sebagai ibadah sosial dan Ilahiyah. Dari situ, akan semakin erat hubungan persaudaraan. "Orang-orang mukmin itu bersaudara," ungkapnya-Nya di Qs al-Hujurat: 10.

Agaknya paradoks dengan redaksi surat tersebut. Bilamana ada yang sengaja memutus rantai persaudaraan, hanya soalan irasional, hatta Rahmat Allah tak tersemai dalam kehidupan. "Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang memutuskan tali silaturahmi," tegas Nabi di Riwayat Muslim.

Ketiga, takwa. Umat Islam sudah sering mendengar kata takwa. Substansinya sudah hafal diluar kepala. Tapi, apakah takwa sudah dipraktikkan secara nyata? Atau hanya terjebak pada romantisme retorika? "Sebaik-baik bekal adalah takwa," beber-Nya di pangkal Qs al-Baqarah: 197.

Di situlah relevansinya takwa. Dan upaya untuk mencapai takwa, telah kita lakukan saat Puasa kemarin. "Puasa adalah bantuan terbesar untuk meraih takwa," jelas Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Semoga saja kita menjadi manusia bertakwa, mengingat hal tersebut peranannya amat vital sekali. "Kami akan menyelamatkan orang-orang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di neraka dalam keadaan berlutut," bongkar-Nya di Qs Maryam: 72.

Karena itu, jangan terperosok ke ngarai kealpaan di tengah kesemarakan Syawalan yang tidak berbuah pada proses peningkatan. Berakhirnya Ramadan, mesti ada peningkatan dan perubahan dalam diri kita, pelan tapi pasti. Dengan penuh pengharapan terwujudnya manusia baru melalui pancaran kemuliaan laku yang mencerahkan semesta. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

In Memoriam Paus Francis dalam Refleksi Seorang Kader Muhammadiyah  Oleh: Mansurni Abadi, Mant....

Suara Muhammadiyah

27 April 2025

Wawasan

Mencerdaskan Kader Sebelum Mencerdaskan Bangsa Oleh: Amrizal Tema Muktamar Muhammadiyah ke 49 tah....

Suara Muhammadiyah

12 June 2026

Wawasan

Sang Tentara Veteran Penjaga Benteng Agama dan Negara Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PR....

Suara Muhammadiyah

4 August 2025

Wawasan

Oleh: Sobirin Malian (Dosen Fakultas Hukum, Universitas Ahmad Dahlan) Di era yang mengagungkan isti....

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

Wawasan

Bukan 'Othak-Athik-Gathuk' Oleh: Wahyudi Nasution Orang yang tidak mengenal bahasa dan budaya Jawa....

Suara Muhammadiyah

5 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah