Eskalasi Kehidupan

Suara Muhammadiyah

11 April 2025

1344
sumber gambar: pixabay.com

sumber gambar: pixabay.com

Bulan Syawal tengah kita jalani. Apa maknanya? Bulan bukan sekadar bergembira karena bisa bersua keluarga maupun hari raya berbuka puasa, akan tetapi dominan dimaknai bulan peningkatan (eskalasi). Yaitu peningkatan kualitas kehidupan setelah tempaan laku spiritual selama bulan Ramadan. Hendaknya, momen ini dijadikan kesempatan untuk meningkatkan diri agar menjadi manusia terbaik (khayra ummah).

Pertama, ibadah. Tengoklah selama bulan Ramadan kemarin. Betapa masifnya ibadah berikut amalan ditunaikan. Tarawih, tadarus Al-Qur'an, infak, sedekah, dan lainnya. Kini, Ramadan telah berlalu, apakah peribadatan itu dilanjutkan atau justru dihentikan?

Kita mesti melanjutkan apa yang telah ditunaikan selama bulan Ramadan kemarin. Ibadahnya mengalami peningkatan. Nyatalah ibadah sebagai jangkar kehidupan. Sekali bergeser, maka diri pun juga akan bergeser dari titik koordinat syariat agama. “Shalat (ibadah) itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar,” kata Allah di Qs al-Ankabut: 45.

Haedar Nashir (2013) mendudukan posisi sentral ibadah yang dilakukan dengan benar dan penuh penghayatan, maka dengan sendirinya akan mencegah si pelaku dari perbuatan buruk. Artinya, jika ada upaya peningkatan kualitas ibadah, dipastikan akan meroket tinggi lakunya menjadi adiluhung dan terhindar dari pelbagai keburukan dalam kehidupan.

Kedua, komunikasi. Ini cenderung pada aspek relasi kepada sesama manusia (habl min al-nas). Praktiknya dengan menjalin silaturahmi. Dalam suasana masih Syawal ini, tepatlah kita rekatkan kembali silaturahmi sebagai ibadah sosial dan Ilahiyah. Dari situ, akan semakin erat hubungan persaudaraan. "Orang-orang mukmin itu bersaudara," ungkapnya-Nya di Qs al-Hujurat: 10.

Agaknya paradoks dengan redaksi surat tersebut. Bilamana ada yang sengaja memutus rantai persaudaraan, hanya soalan irasional, hatta Rahmat Allah tak tersemai dalam kehidupan. "Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang memutuskan tali silaturahmi," tegas Nabi di Riwayat Muslim.

Ketiga, takwa. Umat Islam sudah sering mendengar kata takwa. Substansinya sudah hafal diluar kepala. Tapi, apakah takwa sudah dipraktikkan secara nyata? Atau hanya terjebak pada romantisme retorika? "Sebaik-baik bekal adalah takwa," beber-Nya di pangkal Qs al-Baqarah: 197.

Di situlah relevansinya takwa. Dan upaya untuk mencapai takwa, telah kita lakukan saat Puasa kemarin. "Puasa adalah bantuan terbesar untuk meraih takwa," jelas Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Semoga saja kita menjadi manusia bertakwa, mengingat hal tersebut peranannya amat vital sekali. "Kami akan menyelamatkan orang-orang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di neraka dalam keadaan berlutut," bongkar-Nya di Qs Maryam: 72.

Karena itu, jangan terperosok ke ngarai kealpaan di tengah kesemarakan Syawalan yang tidak berbuah pada proses peningkatan. Berakhirnya Ramadan, mesti ada peningkatan dan perubahan dalam diri kita, pelan tapi pasti. Dengan penuh pengharapan terwujudnya manusia baru melalui pancaran kemuliaan laku yang mencerahkan semesta. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Perempuan-Perempuan Ka'bah Oleh: Pradana Boy ZTF, Dosen Fakultas Agama Islam Universias Muhamm....

Suara Muhammadiyah

13 May 2025

Wawasan

81 Tahun Indonesia: Merdeka dari Penjajahan Algoritma Oleh: Riyan Betra Delza, Ketua Umum DPP IMM ....

Suara Muhammadiyah

18 August 2026

Wawasan

Oleh: Trixie Salawati, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Setiap....

Suara Muhammadiyah

7 June 2026

Wawasan

Menguak Perdebatan Abadi tentang Janji Kehancuran Kedua Bani Israil Oleh: Donny Syofyan, Dosen Faku....

Suara Muhammadiyah

22 August 2025

Wawasan

Ikhlas Bukan Menyerah: Memurnikan Niat, Menguatkan Ikhtiar Oleh: Nur Amalia, Dosen Pendidikan Bahas....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah