BANTUL, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean menyelenggarakan Pengajian Rihlah Jihadi pada Ahad (27/9) di Pantai Goa Cemara, Bantul. Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 jamaah yang terdiri atas unsur PCM, PRM, Aisyiyah, Ortom, dan warga Muhammadiyah se-Kapanewon Godean.
Ketua PCM Godean Haris Darmawan menyampaikan, apresiasi atas antusiasme jamaah yang mengikuti kegiatan Rihlah Jihadi.
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana rekreasi dan mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi media untuk meningkatkan wawasan keislaman dan Kemuhammadiyahan di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis," tuturnya.
Acara inti menghadirkan Fajar Junaidi sebagai narasumber. Dalam materinya yang bertema dakwah di era digital, ia mengajak warga Muhammadiyah untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang efektif dan menjangkau berbagai kalangan, khususnya generasi muda.
“Media sosial saat ini bukan hanya alat komunikasi, tetapi sudah menjadi aset yang sangat berharga. Jika dikelola dengan baik, media sosial dapat menjadi sarana dakwah yang luar biasa,” ungkap Dosen Ilmu Komunikasi UMY itu.
Ia menjelaskan beberapa prinsip penting dalam bermedia sosial. Pertama, media sosial harus dipandang sebagai aset yang perlu dirawat dan dikembangkan.
"Kedua, setiap akun perlu memiliki strategi agar jumlah pengikut (followers) terus bertambah sehingga jangkauan informasi dan dakwah semakin luas," imbuhnya.
Fajar juga menekankan pentingnya membedakan akun pribadi dengan akun organisasi atau institusi. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki jumlah anggota yang sangat besar sehingga seharusnya mampu menjadi kekuatan dalam mengembangkan akun-akun media sosial Muhammadiyah maupun 'Aisyiyah.
“Kalau warga Muhammadiyah yang jumlahnya jutaan dapat bersama-sama mendukung akun organisasi, maka jangkauan dakwah digital Muhammadiyah akan semakin besar. Kuncinya adalah konsisten membuat dan mengunggah konten,” jelasnya.
Ia mendorong agar pengelolaan media sosial organisasi melibatkan generasi muda, termasuk anak-anak dan cucu-cucu warga Muhammadiyah yang lebih akrab dengan teknologi digital. Dengan demikian, akun organisasi dapat lebih aktif, kreatif, dan mengikuti perkembangan zaman.
Selain itu, Fajar Junaidi mengingatkan pentingnya menjaga jejak digital. Setiap unggahan akan meninggalkan rekam jejak yang dapat dilihat banyak orang dalam jangka panjang.
"Oleh karena itu, warga Muhammadiyah diharapkan mampu menghadirkan konten-konten yang positif, edukatif, dan mencerahkan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan pengalaman mengenai waktu yang efektif untuk mengunggah konten. Menurutnya, waktu istirahat dan jam makan sering menjadi momen yang baik karena banyak pengguna media sosial sedang aktif membuka perangkat mereka.
Lebih jauh, Fajar menegaskan, membuat konten sederhana berupa ajakan kepada kebaikan juga merupakan bagian dari dakwah. Dokumentasi pengajian, poster kegiatan, video inspiratif, maupun pesan-pesan keislaman dapat menjadi sarana menyebarkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
“Di era digital ini, dakwah tidak harus selalu dilakukan dari mimbar. Melalui media sosial, setiap orang dapat menjadi penyampai kebaikan. Terlebih untuk menjangkau Generasi Z dan Generasi Alpha yang sangat dekat dengan dunia digital,” tandasnya.

