SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengungkapkan bahwa pondok pesantren merupakan tempat di mana ketangguhan atau resiliensi dibangun. Kesuksesan seseorang tidak serta-merta hanya ditentukan oleh latar kemampuan akademik, melainkan oleh seberapa tangguh bertahan dan mengelola tekanan.
“Yang menentukan kesuksesan seseorang adalah resiliensi. Yaitu, ketangguhan untuk bertahan di tengah tekanan, untuk bangkit lagi ketika jatuh,” ungkapnya dalam Sarasehan Pendidikan di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, Weru, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).
Dalam momen tersebut, Fajar mengenang kembali bagaimana ia pernah ditempa dalam lingkungan pesantren selama kurang lebih sepuluh tahun. Sejak tsanawiyah hingga kuliah, ia pindah dari satu pondok pesantren ke pesantren yang lain, pindah dari satu kota ke kota yang lain.
“Ada tiga kota yang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Dan itu saya habiskan sebagian besarnya di pondok pesantren. Jadi, saya mengalami bagaimana kehidupan di pondok pesantren yang mungkin kondisi banyak pesantren saat ini lebih baik daripada dulu,” ujarnya.
Menurutnya, selain membangun ketangguhan, pesantren juga menjadi tempat pembentukan karakter. Bagi Fajar, karakter menjadi keterampilan dasar dalam kehidupan, lebih-lebih di tengah lajunya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan saat ini.
“Karakter itu foundational skill. Keterampilan dasar dalam kehidupan. Karakter menjadi fondasi yang penting untuk menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Harus ada rasa tanggung jawab saat menggunakan teknologi. Karakter itulah yang sebenarnya dibangun di pondok pesantren,” ujar Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.
“Sebuah hadis menyebutkan bahwa misi Nabi Muhammad diutus adalah untuk memperbaiki akhlak. Innama buitstu li utammima makarimal akhlaq. Proses pembentukan itulah yang hendak dibentuk selama di pesantren,” imbuhnya.
Di hari yang sama, Fajar juga berdialog dengan santriwati di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Muhammadiyah Atmo Wahjono. Pesantren ini terintegrasi dengan SMK Muhammadiyah Watukelir, Weru, Sukoharjo Jawa Tengah.
“Setelah lulus dari pesantren ini rencana mau kerja atau kuliah?”, tanya Fajar.
“Kuliah,” jawab seorang santriwati yang masih belum menentukan kampus pilihannya.
“Di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) saja kuliahnya. Saya alumni UMS juga,” bujuknya sambil bercanda.
Fajar menilai model pesantren vokasional seperti yang ada di Kecamatan Weru ini merupakan terobosan penting yang belum banyak dilakukan pesantren-pesantren lain. Ia berharap ke depan lulusannya bisa berkiprah di masyarakat yang lebih luas.

