Fellowship TULLIP NUS, Kepala Perpus UMY Pelajari Inovasi Berbasis AI

Publish

9 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
123
Kepala Perpustakaan UMY (hijab abu tengah) bersama para fellowship program TULLIP NUS 2026 di Singapura. Foto Istimewa

Kepala Perpustakaan UMY (hijab abu tengah) bersama para fellowship program TULLIP NUS 2026 di Singapura. Foto Istimewa

SINGAPURA, Suara Muhammadiyah - Komitmen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam memperkuat tata kelola dan inovasi perpustakaan terus ditunjukkan melalui partisipasi Kepala Perpustakaan UMY, Novy Diana Fauzie, S.S., M.A., dalam program TULLIP (Transforming University Libraries Leadership & Innovation Programme) yang diselenggarakan oleh National University of Singapore pada 5–10 Januari 2026 di Singapura.

Program fellowship internasional ini mempertemukan para pimpinan perpustakaan perguruan tinggi dari berbagai negara di kawasan ASEAN hingga lintas benua, termasuk Mesir dan Amerika Serikat. Melalui forum tersebut, para peserta berbagi praktik baik, mendiskusikan tantangan bersama, serta merumuskan strategi transformasi perpustakaan di tengah pesatnya perubahan teknologi dan perilaku pengguna informasi.

Novy menyampaikan bahwa pengalaman berjejaring dalam program TULLIP menjadi salah satu nilai paling berharga. Menurutnya, interaksi dengan para pemimpin perpustakaan dari berbagai negara membuka peluang kolaborasi lintas institusi sekaligus menghadirkan perspektif baru dalam menghadapi kompleksitas pengelolaan perpustakaan modern.

“Pengalaman berjejaringnya luar biasa. Kami bertemu dengan banyak orang dan banyak kasus yang bisa dipelajari. Ke depan, mereka sangat mungkin kami undang sebagai narasumber dalam forum perpustakaan perguruan tinggi maupun jejaring perpustakaan Muhammadiyah,” ujarnya dalam wawancara daring, Rabu (7/12).

Beragam isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari sistem manajemen perpustakaan, tantangan perubahan regulasi pemerintah, pengelolaan sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, hingga percepatan adaptasi teknologi digital. Novy menilai, meskipun konteks negara berbeda, dinamika yang dihadapi perpustakaan perguruan tinggi di berbagai belahan dunia memiliki banyak irisan persoalan yang serupa.

Salah satu fokus utama dalam program TULLIP adalah pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan tinggi. Novy menegaskan bahwa AI perlu diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti daya pikir manusia.

“AI adalah tools, bukan yang utama. AI justru membantu otak kita tetap bekerja. Kita tidak hanya mempelajari AI, tetapi menggunakan AI untuk belajar lebih baik dan berpikir lebih kritis,” jelasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebijakan UMY yang telah mengintegrasikan pemanfaatan AI dalam mata kuliah wajib utama. Dalam konteks ini, perpustakaan dipandang memiliki peran strategis untuk mendukung kebijakan tersebut, khususnya melalui penguatan literasi informasi dan literasi digital bagi civitas academica.

Pada hari pertama fellowship, peserta memperoleh materi dari Kepala Perpustakaan NUS, Natalie Pang, yang menyoroti kepemimpinan perpustakaan di tengah disrupsi teknologi. Materi tersebut memberikan refleksi mendalam tentang bagaimana teknologi, termasuk AI, tidak hanya mengubah sistem, tetapi juga perilaku pustakawan, dosen, dan mahasiswa dalam mengakses serta memanfaatkan informasi.

Sementara itu, pada hari kedua, diskusi difokuskan pada literasi informasi dan literasi AI. Peserta diajak memahami bahwa literasi AI tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi harus diarahkan untuk membangun cara berpikir kritis, etis, dan bertanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi.

Selain seminar dan diskusi panel, program TULLIP juga diisi dengan kunjungan lapangan serta pemaparan mini case dari masing-masing peserta terkait proyek dan inovasi yang telah diterapkan di perpustakaan institusi asal. Berbagai praktik tersebut menjadi rujukan penting bagi pengembangan Perpustakaan UMY ke depan.

“Banyak sekali pekerjaan rumah sepulang dari sini. Namun ini PR yang positif, karena kami membawa banyak referensi dan inspirasi tentang bagaimana perpustakaan UMY dapat dikelola sebagai perpustakaan modern yang adaptif terhadap perubahan,” pungkas Novy.

Melalui partisipasi dalam fellowship internasional ini, UMY menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, inovasi, dan pengembangan literasi yang relevan dengan tantangan global di era digital. (Jeed)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Posisi politik Muhammadiyah kembali menjadi perhatian publik menjelan....

Suara Muhammadiyah

22 November 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis ....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah – Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

10 October 2025

Berita

GOWA, Suara Muhammadiyah - Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar terus memperluas jejaring da....

Suara Muhammadiyah

4 May 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) berhasil mempertahankan s....

Suara Muhammadiyah

14 October 2025