FIKOM UMRI Dorong Mahasiswa Kritis Memanfaatkan AI di Dunia Media

Foto Istimewa
Foto Istimewa

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah — Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (FIKOM UMRI) bersama Tribun Pekanbaru mengajak mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara kritis dan bertanggung jawab. Penguasaan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan memverifikasi informasi serta menjaga etika komunikasi.

Pesan tersebut mengemuka dalam Tribun Pekanbaru Goes to Campus Chapter 2 yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Ahmad Dahlan UMRI, Rabu (4/11/2026). Sekitar 150 mahasiswa mengikuti kegiatan bertema “AI, Media, dan Kampus: Navigasi Mahasiswa di Dunia Digital Masa Kini”.

Dekan FIKOM UMRI, Dr. Aidil Haris, S.Sos., M.Si., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa informasi yang dipublikasikan media harus dapat dipertanggungjawabkan. Ia mengingatkan mahasiswa agar memahami posisi AI sebagai alat bantu yang penggunaannya tetap memerlukan pertimbangan manusia.

“Informasi dalam berita harus bisa dipertanggungjawabkan. Mahasiswa harus memahami bahwa AI hanya alat bantu. Kita harus melek teknologi, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai etika dan menghindari hal-hal yang dapat merusak integritas informasi,” tegas Aidil.

Menurutnya, media massa memiliki tanggung jawab untuk menyaring informasi dan memverifikasi kebenaran fakta. Karena itu, karya jurnalistik tidak semestinya mengambil hasil AI secara mentah tanpa pemeriksaan.

Aidil juga mengajak sivitas akademika mencermati kemampuan pers dalam menyajikan informasi yang objektif di tengah beragam kepentingan dan arus informasi digital. Media diharapkan tetap menjalankan fungsi pendidikan serta membantu masyarakat memahami persoalan secara jernih.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, Erwin Ardian, menyampaikan bahwa Goes to Campus merupakan bagian dari penguatan hubungan antara industri media dan perguruan tinggi.

“Program Goes to Campus ini merupakan bentuk nyata sumbangsih media terhadap dunia pendidikan,” jelas Erwin.

Ia mengatakan, hubungan tersebut juga terwujud melalui keterlibatan mahasiswa UMRI dalam program magang di Tribun Pekanbaru. Mahasiswa memperoleh pengalaman dalam berbagai pekerjaan, mulai dari pembuatan konten hingga menjadi pembawa acara digital.

“Alhamdulillah, mahasiswa UMRI bisa beradaptasi dengan dunia kerja di media massa. Kami berharap para mahasiswa dapat memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya untuk menggali wawasan,” ujarnya.

Erwin menjelaskan bahwa program yang memasuki tahun kedua pelaksanaan tersebut menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dan praktisi media. Selain UMRI, rangkaian kegiatan juga menyasar Universitas Riau, Universitas Lancang Kuning, dan Politeknik Caltex Riau.

Dalam sesi materi, dosen Ilmu Komunikasi UMRI, Jayus, S.Sos., M.I.Kom., membahas “Media Massa di Era AI: Siapa Mengelola, Siapa Mengontrol?”. Ia menyoroti penggunaan AI melalui perspektif manajemen media, meliputi pengelolaan redaksi, pembagian kerja, distribusi informasi, dan keberlanjutan bisnis.

“AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi keputusan mengenai apa yang diberitakan, bagaimana fakta diperiksa, dan apakah sebuah berita layak diterbitkan harus memiliki penanggung jawab manusia yang jelas,” ujar Jayus.

Dosen pengampu mata kuliah Manajemen Media itu menjelaskan bahwa AI dapat membantu transkripsi wawancara, penerjemahan, pengolahan dokumen, penyusunan alternatif judul, serta adaptasi berita untuk media sosial. Namun, hasilnya tetap perlu diperiksa karena dapat mengandung kesalahan fakta maupun kehilangan konteks.

Menurutnya, keberhasilan penggunaan AI juga ditentukan oleh keputusan manajemen. Perusahaan media perlu menetapkan tujuan, membagi tanggung jawab, melatih pekerja, dan mengevaluasi kualitas hasilnya.

“Ketika AI menghemat waktu kerja, manajemen perlu menentukan untuk apa waktu itu digunakan. Penghematan tersebut sebaiknya memberi ruang bagi wartawan untuk memperdalam liputan, memperluas konfirmasi, dan meningkatkan kualitas informasi,” katanya.

Jayus turut mengingatkan pentingnya memahami ketergantungan media terhadap platform digital dan penyedia teknologi. Kemudahan menggunakan layanan AI perlu dipertimbangkan bersama pengaruhnya terhadap biaya, kendali editorial, dan hubungan media dengan audiens.

Ia mengajak mahasiswa mengembangkan keterampilan teknologi sekaligus kemampuan berpikir kritis dalam memproduksi maupun menyebarkan informasi.

“Mahasiswa perlu terampil menggunakan AI sekaligus kritis terhadap hasilnya. Periksa sumber, pahami konteks, dan jangan menyerahkan seluruh pertimbangan kepada mesin. Kepercayaan publik dibangun melalui informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.