JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Didik Suhardi mengapresiasi pelaksanaan Workshop dan Soft Launching GembiraMu (Gerakan Pendidikan Inklusif untuk Generasi Emas Muhammadiyah) yang diselenggarakan pada 13–14 Mei 2026 secara hybrid di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta.
Dalam arahannya, Didik Suhardi berharap program GembiraMu dapat menjadi langkah awal dalam memuliakan anak-anak berkebutuhan khusus melalui layanan pendidikan yang ramah, memberdayakan, dan berkelanjutan.
“Pendidikan inklusif harus dimulai dengan semangat pemberdayaan. Anak-anak berkebutuhan khusus perlu mendapatkan layanan pendidikan yang mampu mengembangkan potensi dan kemandirian mereka,” ujarnya.
Menurutnya, potensi sumber daya manusia yang dimiliki Muhammadiyah sangat lengkap dan dapat menjadi kekuatan besar dalam mengembangkan pendidikan inklusif di Indonesia. Namun demikian, diperlukan pemetaan populasi anak berkebutuhan khusus (ABK) agar layanan pendidikan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Ia menyoroti bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus dalam data pendidikan terus meningkat sehingga perlu dibuat peta populasi yang disertai dengan pemetaan layanan pendidikan yang sudah tersedia.
Didik Suhardi juga menegaskan pentingnya sinergi dengan program pemerintah yang telah berjalan, seperti layanan Sekolah Luar Biasa (SLB), sekolah inklusi, serta kebijakan Kementerian Pendidikan terkait relawan pendidikan.
“Layanan yang sudah ada perlu dikolaborasikan agar pendidikan inklusif dapat berjalan lebih optimal dan menjangkau lebih banyak anak,” tambahnya.
Selain itu, ia menilai bahwa apabila pendidikan inklusif akan dijadikan program unggulan, maka sarana dan prasarana harus menjadi perhatian utama. Menurutnya, tantangan pendidikan inklusif cukup besar sehingga diperlukan dukungan fasilitas yang memadai serta sumber daya manusia yang kompeten dalam penanganan anak berkebutuhan khusus.
Didik Suhardi juga menyoroti pentingnya pengembangan kurikulum yang sesuai bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan adaptif.
Ia berharap program GembiraMu dapat berkembang lebih besar melalui sinergi dan kolaborasi antara Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, serta INOVASI Australia–Indonesia.
Menurutnya, pendidikan inklusif juga perlu dibangun dengan memberikan inspirasi dan motivasi kepada murid agar memiliki semangat belajar dan kemandirian yang baik.
“Kita perlu membangun pendidikan inklusif yang menggembirakan dan mampu menumbuhkan kemandirian murid,” katanya.
Didik Suhardi mencontohkan bagaimana murid di luar negeri dilatih untuk mandiri sejak dini melalui sistem pendidikan yang mendukung kebutuhan mereka secara optimal. Karena itu, ia menilai pentingnya sosialisasi kepada masyarakat bahwa pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang menggembirakan dan memberi ruang bagi semua anak untuk berkembang.
Ia juga mendukung pengembangan platform GembiraMu sebagai media edukasi dan penguatan jejaring pendidikan inklusif Muhammadiyah. Selain itu, terkait program Training of Trainers (TOT), Didik Suhardi berharap pelaksanaannya dapat dilakukan secara konsisten agar penguatan kapasitas pendidikan inklusif terus berkembang.
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memikirkan penguatan kolaborasi dan dukungan, termasuk mencari donatur agar program pendidikan inklusif Muhammadiyah dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan.
“Penanganan pendidikan inklusif harus dilakukan secara bersama-sama melalui kolaborasi yang baik agar program ini terus berkembang dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas pelaksanaan GembiraMu sebagai gerakan pendidikan inklusif Muhammadiyah untuk Generasi Emas Indonesia.
(Hendra Apriyadi)

