Generasi Muda Adalah Masa Depan Muhammadiyah

Publish

25 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
55
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Generasi Muda Adalah Masa Depan Muhammadiyah

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan

Dalam berbagai pertemuan organisasi keagamaan, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, saya sering menjumpai topik pembicaraan yang berkaitan dengan peran anak muda. Bagi saya, deskripsi anak muda di sini merujuk pada pandangan umum mengenai rentang usia, yakni sekitar 15–24 tahun.

Secara fisik, anak muda berada pada kondisi stamina yang tinggi, sehingga memiliki peluang besar untuk melakukan berbagai aktivitas, terlebih jika aktivitas tersebut sesuai dengan minat yang mereka pilih. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, arah yang tepat, serta perjumpaan dengan keberuntungan, seorang anak muda pada usia ini akan dapat mencapai puncak prestasi dalam bidang yang digelutinya.

Para pegiat organisasi keagamaan di lingkungan Muhammadiyah, khususnya para “ayahanda”, rata-rata kerap merasa galau melihat minimnya keterlibatan anak muda dalam kegiatan keagamaan. Kegalauan yang terkadang berwujud menjadi kekhawatiran yang cukup serius.

Dalam sebuah pertemuan dengan PDM Jakarta Timur di RS Muhammadiyah Pondok Kopi lalu misalnya, ada peserta yang mengungkapkan sikap pesimis. Ia menilai bahwa Persyarikatan Muhammadiyah akan kehilangan pengikut dan—nauzubillah—bahkan bisa mengalami kemunduran serius. Kekhawatiran tersebut, menurut pandangannya, muncul semata-mata karena rendahnya partisipasi anak muda dalam berbagai kegiatan persyarikatan.

Dalam sebuah acara diskusi bedah buku yang diselenggarakan oleh Jemaat Ahmadiyah di Jakarta minggu lalu, saya menyimak pandangan Pendeta Gomar Gultom. Ia tokoh Kristen Protestan dan pemimpin gereja yang dikenal aktif dalam dialog antaragama di Indonesia, dari Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Pendeta Gultom menyampaikan pandangan yang pada dasarnya sejalan, meskipun dalam konteks dan bentuk yang berbeda. Menurutnya, anak muda Kristen memiliki sikap yang sangat kritis terhadap para pengelola gereja. Khususnya terkait pengelolaan aset dan dana yang masuk ke kas gereja.

Sebagian anak muda yang merasa tidak puas memilih untuk keluar dari komunitas gereja induk, lalu membangun gereja mereka sendiri. Gereja tersebut dikelola secara mandiri, dengan cara dan sistem yang dianggap lebih sejalan dengan nilai serta aspirasi anak muda. Pendeta Gultom tidak mempersoalkan langkah tersebut. Ia tetap menghormati terhadap gerakan anak muda itu. 

Memahami Kepentingan Anak Muda

Saya memiliki pandangan yang berbeda dengan mereka yang merasa sangat khawatir terhadap minimnya keterlibatan anak muda di Muhammadiyah. Alih-alih pesimis, saya justru melihat situasi ini dengan sikap optimis. Saya meyakini bahwa perahu besar Muhammadiyah akan tetap berlayar dengan baik jika, secara perlahan namun pasti, pengelolaannya mulai diserahkan kepada anak muda.

Dalam kerangka ini, peran para pengurus di berbagai tingkatan yang telah purna tidak lagi berada di garis depan. Mereka tetap dihormati sebagai pengawas dan penjaga arah, sambil memperkuat ruang bagi generasi muda untuk menjalankan langgam dan irama geraknya sendiri. Pandangan ini saya bangun bukan semata-mata atas dasar asumsi, melainkan berdasarkan pengalaman empiris yang saya lihat dan catat dari kepengurusan Muhammadiyah di berbagai wilayah.

Saya mengajak kita semua untuk sejenak merenung dan mengingat masa lalu. Ketika kita dulu berada pada rentang usia 15–24 tahun, apakah sudah aktif di Muhammadiyah? Jika iya, besar kemungkinan mereka termasuk kader yang benar-benar militan, atau setidaknya sedang menempuh pendidikan maupun bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah.

Pengalaman pribadi saya membuktikan bahwa keterlibatan dalam organisasi tidak selalu berlangsung secara linier. Setelah menyelesaikan pelatihan setingkat Darul Arqam pada tahun 1984, saya nyaris tidak lagi mengikuti kegiatan Muhammadiyah selama puluhan tahun. Selama masa ketidakterlibatan tersebut, saya beraktivitas di dunia yang sama sekali tidak bersentuhan maupun berkepentingan dengan Muhammadiyah. Namun, panggilan itu muncul pada momen-momen yang tepat.

Ajakan renungan berikutnya adalah untuk berusaha memahami kepentingan dalam ruang hidup anak muda yang juga harus mereka penuhi. Pada usia itu, mereka bergelut dengan kompleksitas masalah yang sangat berbeda dengan yang dialami oleh para ayahanda. Tidak jarang, bobot masalah mereka saat ini jauh lebih berat daripada yang pernah kita bayangkan. Mereka harus menghadapi tuntutan hidup yang penuh tekanan.

Pada fase itu, anak muda harus menyelesaikan kuliah tepat waktu, lalu mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Dua target ini bukan perkara mudah. Jika keduanya berhasil dicapai, tantangan berikutnya muncul: bagaimana bisa menemukan pasangan yang tepat dan membina rumah tangga. Dan ketika hal itu pun tercapai, tantangan baru masih menanti, yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan untuk keluarga muda. Semua itu harus dipenuhi tanpa bisa ditunda.

Dalam realitas hidup yang sarat target dan tekanan ini, lalu muncul pertanyaan: “Mengapa anak muda tidak mau aktif di Muhammadiyah?” Jangan menyalahkan mereka jika kemudian muncul respons balik: “Apakah Muhammadiyah bisa membantu kami menyelesaikan persoalan hidup yang tengah menghimpit sekarang?”

Mempertemukan Kepentingan

Saya tidak akan berbasa-basi dalam membicarakan masalah “kepentingan” di dalam bermuhammadiyah, tanpa bermaksud mengabaikan semua pihak yang telah berkhidmat di Muhammadiyah dengan ikhlas. Menurut hemat saya, salah satu prasyarat penting agar anak muda—atau siapapun—agar mau aktif di Muhammadiyah adalah kemampuan para pengurus dan pengampu Persyarikatan, untuk menjawab “kepentingan” yang sedang dibutuhkan dalam hidup mereka.

Dalam hal ini, kepentingan itu wujudnya sangat beragam. Jangan dipersempit hanya pada persoalan politik, jabatan, atau karier di Muhammadiyah. Sungguh wajar jika manusia itu dituntun oleh kepentingan hidupnya. Termasuk kepentingan rohani, yang memiliki dimensi spiritual, yakni usaha untuk mencapai keridhaan Allah.

Kepentingan yang memiliki dimensi luas inilah yang harus kita bangun dalam berbagai bentuk. Mulai dari upaya membangun amal usaha, menyediakan aktivitas yang mampu mempertemukan kepentingan anak muda dengan para pemangku kepentingan lainnya, hingga pengelolaan Amal Usaha serta kegiatan keagamaan lainnya bisa selaras dengan kepentingan banyak pihak.

Ke depan, desain amal usaha, pengelolaan masjid, dan model pengajian, tidak bisa semata-mata dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan para pengurus atau pengelola persyarikatan saja. Apalagi jika pengelolaannya bersifat kaku dan konservatif, hanya mengikuti praktik yang selama ini sudah berjalan. Padahal, dunia terus berubah, dan minat orang-orang dalam forum pengajian pun semakin dinamis, berkembang sesuai tuntunan dan perubahan zaman.

Melalui tulisan ini, saya mengajak para pengampu Muhammadiyah untuk bertindak nyata, agar mampu memenuhi kepentingan anak muda maupun siapa pun yang ingin berkhidmat, dengan prinsip yang selaras nilai-nilai Muhammadiyah.

Sikap pesimis tidak cukup hanya dikeluhkan. Lebih penting membuka kesempatan luas bagi generasi muda untuk bekerja serius dalam menjalankan roda organisasi sesuai langgam mereka. Banyak praktik baik menunjukkan bahwa ketika kepengurusan amal usaha, masjid, atau musala diserahkan kepada anak muda, organisasi ini dapat berkembang lebih maju dan manfaatnya lebih luas bagi warga.

Sejarah Dinasti besar, seperti Ming dan Qing di Tiongkok serta Romawi Barat, mengingatkan kita akan pentingnya kepemimpinan. Krisis internal dan kegagalan mereka dalam membangun regenerasi membuat pemimpin terakhirnya lemah, sehingga tak mampu menghadapi tantangan zaman lalu runtuh.

Pelajaran bagi Muhammadiyah jelas: tanpa regenerasi kepemimpinan di semua tingkatan, organisasi sekokoh apa pun dapat saja terpuruk. Memberi ruang bagi generasi muda bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan strategis untuk menjaga kekuatan persyarikatan.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muslim Mukmin yang Berpartisipasi Aktif dan Arif dalam Permusyawarahan dan Kegiatan Masyarakat Oleh....

Suara Muhammadiyah

23 October 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Sejumlah orientalis mengatakan bahwa Islam disebarkan lewat pedang. Gagasan ini....

Suara Muhammadiyah

20 October 2023

Wawasan

Tragedi Sumatera dan Peringatan Langit Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas ....

Suara Muhammadiyah

5 December 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Apakah Islam mendorong manusia untuk berpikir, berinovasi, mengeksplorasi dan m....

Suara Muhammadiyah

3 November 2023

Wawasan

Menjaga Lingkungan, Merawat Kehidupan (Komitmen IMM Dalam Mengawal Isu Lingkungan) Asman Budiman,&n....

Suara Muhammadiyah

20 May 2024