JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Internasionalisasi gerakan dakwah Muhammadiyah sebagai konsekuensi logis dari dakwah yang dijalankannya. Menarik kebelakang pada sisi dakwah Nabi Muhammad Saw di Makkah, kata Muhammad Saad Ibrahim, kondisinya tidak kondusif.
“Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk mengungsi. Ada dua gelombang, gelombang kedua dipimpin Utsman bin ‘Affan dan mengungsi dari Makkah ke Habasyah (Ethiopia),” tuturnya.
Apa yang dilakukan Nabi itu dikategorisasikan sebagai upaya membangun patritisme dalam kiprah gerakan internasional. Demikian dikemukakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan menggarisbawahi catatan kecil di situ ihwal perangai Utsman, yakni sebagai orang yang berkecukupan.
“Harus menjalani perintah untuk mengungsi ke Habasyah, Rajanya Najasyi. Menempuh perjalanan 5000 km dengan menggunakan transportasi yang paling modern pada waktu itu, unta, mungkin ada yang kuda,” katanya.
Di situ amat mustahil dilakukan di era modernisasi seperti sekarang. “Kalau kita yang melakukan, saya kira tidak sampai ke sana,” selorohnya dihadapan Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief dan Sekretaris PP Muhammadiyah M Izzul Muslimin.
Satu hal terpenting digarisbawahi Saad, Raja Najasyi memeluk Islam secara diam-diam—setelah berdialog dengan Ja’far bin Abi Thalib mengenai pandangan Islam terhadap eksistensi Nabi Isa.
“Ketika meninggal, Allah beritahukan kepada Nabi Muhammad, maka Nabi Muhammad kemudian melakukan salat gaib karena Raja Najasyi muslim,” jelasnya, Jumat (28/8) saat Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.
Bersambung dengan itu, menjelang Nabi Muhammad hijrah ke Yastrib tahun 622 M, ia melakukan Isra’ (perjalanan malam). “Itu juga bagian dari internasionalisasi,” ucapnya. Tapi, yang lebih dahsyat lagi, setelah perjalanan Isra’, diteruskan dengan Mi’raj (naik ke langit).
“Dan itu melampaui galaksi-galaksi. Ini yang dilakukan Nabi,” ujarnya. Dengan membutuhkan tempo 8 jam, “pulang pergi. Bukan semata-mata rohani, tapi juga jasmani,” singkap Saad.
Realitas empirik saat ini menunjukkan kemustahilan melakukan kelindan dengan Nabi akhir zaman tersebut. Fakta lainnya, penemuan makam di Guangzhou, Guangdong, Tiongkok yang dinisbatkan kepada sahabat Nabi Muhammad, Sa'ad bin Abi Waqqash wafat tahun 674 M.
“Kalau itu betul, maka berarti juga melakukan perjalanan yang jauh. Artinya, semangat ini (internasionalisasi) adalah konsekuensi logis dari wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn,” jelas Saad.
Jika hal demikian itu dikontekstualisasikan pada gerakan internasionalisasi Muhammadiyah saat ini, kata Saad, “konsekuensi logis dan sudah niscaya. Moga-moga gerakan internasionalisasi menjadi gerak kita di abad kedua Muhammadiyah untuk konteks rahmatan lil ‘alamin,” tandasnya.
Hadir sebagai narasumber pengajian, Saiful Bahri, Anggota Bidang Tabligh Global dan Kerja Sama Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ahmad Fuad Fanani, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, dan Elis Zuliati Anis, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan. (Cris)

