Gonjang Ganjing Negeri

Publish

30 August 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
73
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Gonjang Ganjing Negeri

Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasehat PRM Troketon, Pedan, Klaten.

"Langit Kelap-kelap, Bumi Gonjang Ganjing"

Sebuah ungkapan sang dalang ketika memantaskan wayang dalam lakon apa pun, setiap memasuki adegan gara-gara, ada perkataan tersebut di atas.

Kita tahu seni wayang merupakan sebuah budaya hasil akal dan budi manusia yang memberikan sebuah petuah dalam kehidupan manusia. Walaupun sebuah cerita, tetapi itu diambil dari kehidupan manusia kesehariannya. Dari situ kita akan diberikan gambaran tentang sikap manusia dalam hidupnya, yaitu orang yang hidup dilandasi dari lubuk hati yang mulia (baik) dan orang yang berhati kotor (buruk). Dalam kehidupan di dunia, walaupun itu sebuah deskripsi sebuah cerita, tetapi sebenarnya dalam seni wayang tersebut kita akan diberi tuntunan agar hidup ini tidak sia-sia (muspro).

Dalam cerita wayang kita akan mengenal beberapa tokoh, yaitu Pandawa yang diasosiasikan dengan lima kesatria yang mempunyai karakter baik walaupun hanya lima orang. Selain itu ada kekuatan yang disebut Kurawa yang mempunyai sikap perilaku yang buruk. Yang paling fenomenal adalah seorang tokoh dalam wayang bernama Sengkuni, yang mempunyai karakter licik, suka menghasut, dan mengadu domba. Yang menarik, ada sebuah tokoh yang mampu mengembalikan sebuah negeri yang semula kacau menjadi tenang, damai, dan sejahtera, yaitu Punakawan dengan tokoh sentral yang menjadi panutan adalah Semar.

Mari kita membaca kondisi bangsa saat ini yang masih carut-marut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah pemandangan yang menyayat hati dan membuat ingin berteriak menangis terjadi saat ini.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah saat ini, tetapi terbalik ketika penyelenggara negara melakukan sebuah pertunjukan yang tidak beretika apalagi bermoral, beradab, jauh dari akhlak sebagai pemangku kebijakan.

Hal ini dipicu oleh sebuah kebijakan pemerintah dengan menambah tunjangan bagi anggota DPR dengan angka fantastis. Setiap hari Rp 3.000.000,- jika dikalikan sebulan hampir mencapai Rp 90.000.000,-. Maka dengan demikian bertambah uang saku yang diterima oleh wakil rakyat. Dengan riang gembira para anggota dewan menyambut dengan bergoyang. Hal ini sangat miris bagi penulis (GusZul) melihat kondisi yang memprihatinkan saat ini sementara para pemangku kebijakan dan politisi di Senayan tidak peka. Mereka melukai rakyat sendiri yang memberi mandat, dan dikhianati.

Bahkan ada tindakan dari oknum wakil rakyat yang menantang rakyat sendiri.

Wakil Rakyat vs Rakyat

Dengan melihat tingkah laku para wakil rakyat, memang masih jauh dari ideal seorang wakil rakyat yang negarawan, yaitu wakil rakyat yang benar-benar sepenuhnya untuk rakyat. Akan tetapi selama ini mereka masih menjadi petugas partai, dan yang lebih miris para anggota dewan sebagai mesin penghasil suara bagi partai induknya. Maka sebuah ungkapan dari seorang tokoh bangsa (guru bangsa) almarhum Buya Syafii Ma’arif mengatakan: “Jika ingin terjun ke dunia politik praktis, harus selesai urusannya sendiri.”
Maksudnya, para wakil rakyat harus mempunyai bekal yang cukup sehingga dengan finansial yang memadai untuk mencukupi kehidupan sendiri, agar tidak memakan uang rakyat alias korupsi, baik para pejabat eksekutif maupun legislatif yang saat ini marak terjadi. Jika ini tidak diatasi sampai akarnya, maka kondisi bangsa ini tidak akan membaik, sehingga akan mempengaruhi kehidupan berdemokrasi, berbangsa, dan bernegara. Jangan sampai negeri ini terjadi huru-hara, yang mana bisa berujung pada perang sesama anak bangsa.

Saat ini wakil rakyat sudah tidak mencerminkan sebagai wakil Tuhan yang baik untuk umat (rakyat) sehingga rakyat marah karena tidak ada yang bisa dipercaya. Selain itu, para APH (Aparat Penegak Hukum) – yang pada dasarnya aparat keamanan TNI dan POLRI merupakan instrumen sebagai kekuatan organik untuk mempertahankan bangsa dan negara serta memberikan pengayoman kepada masyarakat – malah memusuhi rakyatnya sendiri. Mereka sudah lupa bahwa yang mereka kenakan itu berasal dari uang rakyat.

Ini menjadi sebuah introspeksi kita sebagai anak bangsa. Jangan sampai kita mudah diadu domba karena ulah para Sengkuni di era modern yang tidak punya rasa perikemanusiaan serta ingin negeri ini menjadi amburadul. Karena watak Sengkuni ini licik, picik, dan mengorbankan bangsa dan negara untuk kepentingan diri sendiri.

Sebuah Ajaran yang Relevan Sepanjang Zaman

Dengan melihat kondisi saat ini, baik secara domestik maupun geopolitik global, maka nilai-nilai yang diperlukan adalah sikap dan karakter yang digambarkan dengan watak/karakter Pandawa, yaitu sikap kesatrianya demi negeri bersatu berdaulat dan tidak memberi ruang bagi perusak negeri (korupsi) dan lain sebagainya.

Selain itu, juga diperlukan figur seperti Punakawan, yaitu figur yang membantu raja dengan kecerdasan dan ketajaman, mampu membaca situasi kondisi baik di dalam negeri maupun secara global, yang intinya adalah figur-figur yang mampu memulihkan keadaan negeri yang rusak agar kembali menjadi negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Semua ini memerlukan kerja kolektif dari atas sampai bawah, dari presiden sampai rakyatnya, harus satu frekuensi sehingga akan tercipta sebuah negeri “Tumenggung Anggatra Tata Raharja” yaitu negeri yang harmonis dengan nilai-nilai kerukunan dan gotong royong dalam menata negeri, sehingga akan mendapatkan negeri yang adil, makmur, dan sejahtera. Aamiin.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Inkuisisi Ibnu Hanbali (Bagian ke-1) Oleh: Donny Syofyan Jumlah umat Islam diestimasi 1.6 miliar o....

Suara Muhammadiyah

9 October 2023

Wawasan

Ketiban Sampur Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon, Klaten   "Jika tidak bisa....

Suara Muhammadiyah

21 June 2025

Wawasan

Mata Jahat: Antara Keyakinan dan Logika di Era Modern Oleh: Donny Syofyan: Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (27) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Wawasan

Zaman Asumsi dan Kaburnya Kebenaran Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Kita hidup di zaman....

Suara Muhammadiyah

7 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah