YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Upaya menjaga swasembada beras nasional dinilai tidak cukup jika hanya berfokus pada peningkatan produksi. Keberlanjutan lingkungan dan efisiensi rantai pasok menjadi faktor penting yang harus diperhatikan agar ketahanan pangan dapat terjaga dalam jangka panjang. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah penerapan green supply chain (GSC) dalam rantai pasok padi, mulai dari hulu hingga hilir.
Pakar Supply Chain Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Susanawati, S.P., M.P., menjelaskan bahwa green supply chain dalam konteks padi merujuk pada pengelolaan aliran produk, keuangan, dan informasi yang dirancang dengan mempertimbangkan prinsip keberlanjutan lingkungan.
“Green supply chain padi merupakan sistem aliran komoditas padi dari hulu ke hilir yang dijalankan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. Prinsip ini menempatkan keberlanjutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem agribisnis, bukan sekadar eksternalitas,” ujar Susanawati saat ditemui di UMY, Selasa (6/1).
Menurutnya, tahapan paling krusial dalam penerapan prinsip ramah lingkungan berada pada fase produksi atau budidaya. Pada tahap ini, aktivitas pertanian padi berpotensi menimbulkan dampak lingkungan paling besar dibandingkan tahapan lain dalam rantai pasok. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan, tingginya kebutuhan air irigasi, serta emisi gas rumah kaca menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.
Selain fase produksi, tahap pasca panen dan pengolahan juga menjadi titik krusial dalam penerapan green supply chain. Berbagai permasalahan seperti food loss, limbah sekam dan dedak, serta tingginya konsumsi energi dalam proses pengeringan dan penggilingan masih menjadi tantangan besar.
“Ketika kehilangan hasil terjadi pada fase pasca panen, maka seluruh sumber daya yang digunakan pada tahap produksi sebelumnya menjadi sia-sia. Karena itu, efisiensi pasca panen merupakan bagian penting dari green supply chain padi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Susanawati menilai penerapan green supply chain padi berpotensi meningkatkan efisiensi biaya sekaligus pendapatan petani dalam jangka panjang. Meskipun pada tahap awal memerlukan investasi dan penyesuaian, pendekatan ini dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap input produksi yang mahal.
“Penggunaan pupuk dan pestisida secara lebih efisien, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk alternatif, serta pengelolaan air yang lebih hemat akan menurunkan biaya produksi per satuan hasil. Dalam jangka panjang, kesuburan tanah tetap terjaga dan risiko gagal panen dapat ditekan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, green supply chain padi memiliki kontribusi strategis dalam menjaga keberlanjutan swasembada beras nasional. Kontribusi tersebut meliputi keberlanjutan produksi padi, pengurangan kehilangan hasil, efisiensi distribusi dan logistik, peningkatan kesejahteraan petani, serta penguatan ketahanan sistem pangan terhadap dampak perubahan iklim.
Namun demikian, Susanawati menegaskan bahwa penerapan green supply chain padi tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Diperlukan dukungan kebijakan yang komprehensif, seperti subsidi input ramah lingkungan, insentif harga, jaminan pasar melalui skema contract farming, penguatan peran Bulog, hingga sertifikasi beras ramah lingkungan. Semua ini menjadi kunci dalam memperluas implementasi green supply chain padi,” tegasnya. (NF)

