Gugur dalam Tugas, Abadi dalam Kemuliaan: Doa dan Duka untuk Kader Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

1747
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Gugur dalam Tugas, Abadi dalam Kemuliaan: Doa dan Duka untuk Kader Muhammadiyah

Oleh: Haidir Fitra Siagian, Dosen UIN Alauddin Makassar

Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Kabar wafatnya seorang kader Muhammadiyah Praka Farizal Romadhon dari Kulon Progo, yang sedang menjalankan tugas negara di Lebanon menghadirkan duka yang sangat dalam. Ia bukan hanya seorang prajurit TNI yang menjalankan misi perdamaian dunia di bawah mandat PBB, tetapi juga seorang kader yang memegang keteguhan, dengan nilai keikhlasan, pengabdian, dan kepedulian terhadap sesama. 

Kita yakin bahwa dalam dirinya, menyatu tanggung jawab sebagai abdi negara dan sebagai bagian dari gerakan Islam yang berkomitmen pada kemajuan dan kemanusiaan. Kepergiannya saat bertugas menjadi bukti nyata dari pengabdian yang tulus. Ia hadir di medan tugas bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menjaga keamanan, melindungi kehidupan, dan menegakkan nilai kemanusiaan. 

Gugurnya almarhum akibat serangan pasukan zionis menjadi kesedihan yang tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh bangsa dan umat. Kita kehilangan sosok yang memberi contoh tentang arti pengabdian yang sesungguhnya. Sebagai sesama kader Muhammadiyah, kita tentu merasakan kehilangan yang mendalam. 

Sosoknya mencerminkan ajaran Islam yang diwujudkan dalam tindakan nyata: bekerja dengan ikhlas, berjuang tanpa pamrih, dan tetap teguh dalam nilai kebaikan meski berada dalam situasi yang sulit. Ia telah menyelesaikan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, dan kini kembali kepada Allah SWT dalam keadaan yang insyaAllah mulia.

Islam mengajarkan, wafat dalam tugas kebaikan bukanlah akhir yang menyedihkan, tetapi awal dari kemuliaan di sisi Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati, melainkan hidup di sisi-Nya dan mendapatkan rezeki. Ini menjadi penguat bahwa setiap pengorbanan dalam jalan kebaikan tidak akan sia-sia.

Rasulullah Saw. juga mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Jika almarhum menjalankan tugas dengan niat ibadah dan menjaga amanah, maka setiap langkahnya bernilai pahala. Apa yang ia lakukan menjadi bukti bahwa keimanan tidak hanya diucapkan, tetapi juga dibuktikan melalui perbuatan nyata.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan keikhlasan. Allah menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang sabar dalam menghadapi ujian. Duka ini memang tidak ringan, tetapi di dalamnya ada janji kebaikan dari Allah yang tidak terbatas.

Sebagai saudara seiman dan sesama kader Muhammadiyah, kita turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kita panjatkan doa: semoga Allah mengampuni segala kesalahannya, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama orang-orang saleh serta para syuhada. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Cerpen: Suratini Eko Purwati Ada tetangga, penduduk asli kampung menjual rumah keluarga dan ada pen....

Suara Muhammadiyah

8 September 2023

Humaniora

Belajar Makna “Sang Pencerah” dari Dr. Winai Dahlan Oleh: Vritta Amroini Wahyudi, S.Si,....

Suara Muhammadiyah

22 December 2024

Humaniora

Hidup itu misteri. Tak ada seorang pun di persada buana ini dapat membongkar kontak pandora untuk me....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024

Humaniora

Ramadan dan EcoJihad: Jalan Iman Merawat Bumi Oleh: Hening Parlan dan Dani Wahyu Munggoro(* Krisi....

Suara Muhammadiyah

13 March 2026

Humaniora

Di tengah riuh rendah jagat sosial, nama Khafid Sirotudin muncul bukan hanya sebagai penulis buku, t....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah