Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (1)

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1346
Ilustrasi

Ilustrasi

Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (1)

Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Aktifis IPM 1988-1991

 

Di tanah Banten yang diguyur hujan pasir sejarah.

Sultan Ageng Tirtayasa berdiri setegak gunung.

Ketika istananya runtuh disapu tipu daya penjajah

Namun Tidak dengan Ruh Prajurit.

 

Mereka hijrah nyalakan lentera jihad ke Karawang-Bekasi

Di rawa, di sawah, di antara bambu dan kelapa

sembunyikan luka penjajahan.

 

Di kampung itu cicit prajurit  Sultan Banten

memikul dua warisan sekaligus keilmuan dari langit,

dan keberanian dari tanah para pejuang Banten

 

Matahari senja mulai tenggelam

Mentok dan kalkun bernyanyi dan menari

Kerbau bajak riang pulang

Burung-burung kuntul putih berkumpul di pucuk bambu

Bondol dan pipit terbang beriring

Kampung itu damai di tepi meja sejarah.

 

Tiba-tiba datang sekelompok orang

dengan suara yang tak membawa salam.

“Di mana rumah Tokoh Masymi?”

Kampung itu mendadak meletup

Menembus punggungg ke dada

KH Nawawi bersimbah darah, tumpah di lantai di rumah panggung

seperti tinta yang menulis babak baru negeri ini

Syahid di samping pesantren

 

Dari ruh para syuhada itu, Sang Burung Pipit  terlahir.

Warisan mereka bukan harta, bukan kuasa

melainkan bara keberanian

dan beban janji kemerdekaan.

 

Namun negeri yang mereka cintai lebih dari dirinya sendiri,

negeri yang mereka bela dengan darah dan jiwanya

negeri yang mereka bayar

dengan anak-anak yatim dan istri yang menyeka air mata

di malam-malam panjang.

 

Kini menatap cucunya

dengan tatapan paling dingin

yang pernah diciptakan manusia:

 

“Kau koruptor.”

“Kau perampok.”

“Kau pengkhianat bangsa.”

 

Aku terguncang,

Bagai mendengar sejarah keluargaku ditikam dari belakang.

Ada suara yang bangkit dari para mujahid:

“Anak cucu kami,

Bangunlah, berdirilah seperti kakekmu.

Sebuah bangsa

hanya sebesar nyali mereka

yang berani meluruskannya.”

 

Dan malam yang gelap

menjadi terang oleh nyala mereka

nyala yang tidak pernah padam.

Dari zaman Sultan Banten hingga perang Karawang-Bekasi

Meski nama baik dicaci,

meski kebenaran diseret erosi.

 

Karena dari ruh para syuhada

Aku terlahir,

dan bersama ruh para syuhada pula

kita kelak kembali

dengan hati yang telah diuji

oleh sejarah bangsa ini.

 

Rutan Salemba, 3 November 25

 

Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Puisi ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & puisi ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipi (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018). 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Ramadan, Zakat Fitrah, dan Panggilan Solidaritas Umat Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua LLH PB Muha....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Humaniora

Ramadan, Takwa, dan Amanah sebagai Khalifah di Bumi Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhamam....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Humaniora

Ngudha Rasa antara Sang Kyai dengan Muridnya "Orang yang mengaji itu bikin baik akhlaknya atau maki....

Suara Muhammadiyah

10 July 2024

Humaniora

Ustad Hima, sebutan akrab yang melekat pada pria kelahiran 1 November 1967 ini. Dia bukan seorang us....

Suara Muhammadiyah

26 October 2023

Humaniora

Mengenal Sejarah Halal Bihalal: Jejak Awal dari Soeara Moehammadijah Oleh: Hening Parlan, Mahasiswa....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah