Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (1)
Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Aktifis IPM 1988-1991
Di tanah Banten yang diguyur hujan pasir sejarah.
Sultan Ageng Tirtayasa berdiri setegak gunung.
Ketika istananya runtuh disapu tipu daya penjajah
Namun Tidak dengan Ruh Prajurit.
Mereka hijrah nyalakan lentera jihad ke Karawang-Bekasi
Di rawa, di sawah, di antara bambu dan kelapa
sembunyikan luka penjajahan.
Di kampung itu cicit prajurit Sultan Banten
memikul dua warisan sekaligus keilmuan dari langit,
dan keberanian dari tanah para pejuang Banten
Matahari senja mulai tenggelam
Mentok dan kalkun bernyanyi dan menari
Kerbau bajak riang pulang
Burung-burung kuntul putih berkumpul di pucuk bambu
Bondol dan pipit terbang beriring
Kampung itu damai di tepi meja sejarah.
Tiba-tiba datang sekelompok orang
dengan suara yang tak membawa salam.
“Di mana rumah Tokoh Masymi?”
Kampung itu mendadak meletup
Menembus punggungg ke dada
KH Nawawi bersimbah darah, tumpah di lantai di rumah panggung
seperti tinta yang menulis babak baru negeri ini
Syahid di samping pesantren
Dari ruh para syuhada itu, Sang Burung Pipit terlahir.
Warisan mereka bukan harta, bukan kuasa
melainkan bara keberanian
dan beban janji kemerdekaan.
Namun negeri yang mereka cintai lebih dari dirinya sendiri,
negeri yang mereka bela dengan darah dan jiwanya
negeri yang mereka bayar
dengan anak-anak yatim dan istri yang menyeka air mata
di malam-malam panjang.
Kini menatap cucunya
dengan tatapan paling dingin
yang pernah diciptakan manusia:
“Kau koruptor.”
“Kau perampok.”
“Kau pengkhianat bangsa.”
Aku terguncang,
Bagai mendengar sejarah keluargaku ditikam dari belakang.
Ada suara yang bangkit dari para mujahid:
“Anak cucu kami,
Bangunlah, berdirilah seperti kakekmu.
Sebuah bangsa
hanya sebesar nyali mereka
yang berani meluruskannya.”
Dan malam yang gelap
menjadi terang oleh nyala mereka
nyala yang tidak pernah padam.
Dari zaman Sultan Banten hingga perang Karawang-Bekasi
Meski nama baik dicaci,
meski kebenaran diseret erosi.
Karena dari ruh para syuhada
Aku terlahir,
dan bersama ruh para syuhada pula
kita kelak kembali
dengan hati yang telah diuji
oleh sejarah bangsa ini.
Rutan Salemba, 3 November 25
Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Puisi ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & puisi ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipi (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018).

