Hadits Menggapai Husnul Khatimah

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

Hadits Menggapai Husnul Khatimah

Oleh: Sukahar Ahmad Syafi’i, Alumni PUTM Yogyakarta, Sekretaris Majelis Tarjih & Tajdid PDM Kab. Pati

Kematian adalah perkara pasti tanpa keraguan dan penawaran. Manusia yang hidup niscaya akan mati, tidak akan hidup abadi, seperti produk tertentu yang memiliki masa kadaluarsa, tidak akan bertahan selamanya, karena yang abadi hanyalah Sang Pencipta, Allah SwT. Bagi muslim, hidup di dunia ini dijadikan sarana mencari bekal kelanjutan hidup di akhirat, bukan hanya untuk bersenang-senang menikmati segala fasilitas yang Allah sediakan. Agar kelak hidup di akhirat nanti nyaman dan tenang, maka perlu sejak dini dipersiapkan dengan baik. Berdasarkan kumpulan Hadits Nabi, penulis menelisik dan menganalisis beberapa cara dan tips persiapan diri seorang muslim untuk menggapai akhir hidup yang baik (husnul khatimah):

  1. Senantiasa mengingat kematian (dzikrul maut). 

Rasulullah Saw menganjurkan kepada umatnya untuk selalu mengingat kematian agar menghindarkan kita dari nikmat dan lezatnya perkara duniawi yang melenakan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ (رواه ابن ماجه)

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Ibnu Majah)

عَنْ أَبِي يَعْلَي شَدَادُ بْنُ أَوْس قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ (رواه الترمذي) 

“Dari Abi Ya’la Syadad bin Aus, Rasulullah Saw bersabda : Orang yang cerdas-pandai adalah yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits pertama dan kedua diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bab dzikr al-maut wa al-isti’dad, no. 4285, 4260 dan Sunan at-Tirmidzi, bab dzikr al-maut, no. 2307, 2309. Ibnu Hajar al-Asqalani menilai hasan untuk Hadits pertama dan Ibnu Hiban men-shahih-kannya, sedangkan At-Tirmidzi menilai Hadits kedua sebagai hasan. Syekh Bin Baz dalam Syarh Bulughul Maram, kitab Al-Janaiz, berkomentar maksud lafal “haadzimu al-ladzati” adalah putusnya kesenangan duniawi yang bersifat fana (sementara) lalu fokus menggapai kesenangan akhirat yang sifatnya abadi (kekal), sehingga waktu hidup kita di dunia tidak kita habiskan untuk menikmati kesenangan dunia saja. Di sinilah manusia yang fokus terhadap kehidupan akhirat karena kehidupan dunia akan terputus dengan kematian adalah mereka yang akan mendapat husnul khatimah dan terkategori menjadi orang yang cerdas secara spiritual.

Pun ciri orang yang cerdas menurut sabda Nabi adalah mereka yang mampu menganalisa tantangan hidupnya lalu mengambil hikmahnya sebagai evaluasi dan perbaikan diri untuk optimalisasi amalan yang bersifat istiqamah sampai hari akhir, sebagaimana Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, menjelaskan lafal “al-Kayyisu” sebagai orang yang suka berpikir (merenungkan) setiap hal dengan menimbang sebab akibatnya, khususnya dengan pertimbangan kepentingan akhirat. 

  1. Senantiasa siap untuk mati. 

Bersembunyi dimanapun kita, pergi kemanapun kita, kematian adalah keniscayaan sebagai manusia yang sudah diberikan batasan hidup, sebagaimana Qs. al-Jumu’ah: 8, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sungguh ia akan menemuimu”. Maka kematian harus kita persiapkan, bukan kita hindari, sehingga ada ungkapan “kematian mendadak”, dimana saudara kita yang baru saja kemarin bersenda gurau, lalu tiba-tiba wafat, dan memang begitulah rahasia kematian seperti Hadits shahih riwayat Ahmad, no. 2504,

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَوْتِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ (رواه احمد)

“Telah bercerita pada kami Ubaidillah bin al-Walid dari Abdullah bin Ubaid bin Umair dari Aisyah, bertanya kepada Rasulullah Saw mengenai kematian mendadak, lalu beliau menjawab bahwa ia adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka” (HR. Ahmad) 

Maksud dari “raahatun lil-mu’min” adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah, karena seorang mukmin tentu telah menyiapkan amal shalih sebagai bekal menghadapi kematian, lalu ia mati, maka matinya adalah bentuk istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakaratul maut. Sebaliknya, bagi orang kafir adalah penyesalan karena mereka tidak punya amalan di dunia sebagai bekal di akhirat.

3. Tidak berangan-angan untuk mati. 

Sesulit dan sekeras apapun cobaan dan ujian hidup, husnuzhan (berprasangka baik) pada Allah SwT menjadi prioritas. Tidak boleh putus asa dan tidak boleh berangan-angan disegerakan mati hanya karena tidak bahagia, sengsara di dunia. Angan-angan tersebut sebaiknya kita ganti dengan doa memohon kemanfaatan atas kehidupan yang Allah berikan. Sabda Nabi Saw. riwayat Al-Bukhari no. 1817.

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لِي (رواه البخاري)

“Dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda: Jangan seorang dari kalian berangan-angan mati karena musibah yang menimpanya. Jika memang harus berangan-angan, hendaknya ia berkata (doa), “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku” (HR. Al-Bukhari) 

Latar belakang (asbabul wurud) munculnya Hadits di atas adalah teguran Nabi pada Anas bin Malik yang kadang mengeluh, lalu berharap Allah segera menuntaskan urusan hidupnya di dunia. Anas pun lalu memohon ampun dan berkata “Jika bukan karena aku mendengar Rasulullah Saw melarang kita untuk berdoa meminta kematian, niscaya aku akan memintanya.”

  1. Memohon wafat husnul khatimah dan terhindar dari fitnah. 

Kematian yang baik adalah dalam kondisi normal, juga waktunya, tidak ada cacat dan mendapatkan kemuliaan dari keluarga dan saudara semuslim untuk dimandikan, dikafani, dishalati dan diantar ke tempat peristirahatan terakhir (kubur). Dalam Hadits panjang riwayat Ibnu Abbas dalam Musnad Ahmad no. 3573 dan at-Tirmidzi no. 3235, Nabi Saw berdoa, 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ

“Ya Allah, sungguh aku meminta-Mu (senantiasa) berbuat kebaikan, tinggalkan kemunkaran, mencintai orang-orang miskin, ampuni dan  rahmati aku, dan bila Engkau menghendaki fitnah pada hamba-hamba-Mu, wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah.” 

Fitnah di sini juga berbentuk terhindarnya kita dari kematian dengan cara buruk, seperti bunuh diri yang dilarang Islam seperti sabda Nabi riwayat Al-Bukhari no. 1365 berikut, 

حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  الَّذِى يَخْنُقُ نَفْسَهُ يَخْنُقُهَا فِى النَّارِ ، وَالَّذِى يَطْعُنُهَا يَطْعُنُهَا فِى النَّارِ (رواه البخاري)

“Telah bercerita pada kami Abu Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda: Siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Siapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu” (HR. Al-Bukhari) 

Kematian adalah suatu keniscayaan, maka kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah, harus benar-benar kita manfaatkan untuk investasi kehidupan di hari akhir-akhirat. Kita dilahirkan di dunia dalam keadaan baik, sudah sepatutnya kita meninggalkan dunia ini juga dalam keadaan baik (husnul khatimah).