Haedar Nashir: Banyak Orang Berebut Menjadi Penentu Kehidupan, Bukan Pemersatu Kehidupan

Suara Muhammadiyah

11 July 2025

1288
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan beberapa hal yang harus hidup dan kita hidupkan dalam membangun Indonesia ke depan.

Pertama, Komitmen, integritas dan penghidmatan yang tinggi yang telah ditunjukkan oleh para pejuang bangsa baik dalam perang kemerdekaan maupun perjuangan di berbagai bidang sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Haedar menyinggung figur Panglima Besar Jenderal Soedirman, tokoh yang berasal dari kalangan Muhammadiyah, sebagai teladan pengabdian dan komitmen luhur.

“Jenderal Soedirman menjadi contoh ideal yang membumi tentang integritas dan pengabdian. Dalam usia muda, beliau menunjukkan kepemimpinan luar biasa dalam Perang Gerilya. Itulah teladan untuk generasi muda hari ini,” jelasnya saat menerima penghargaan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) pada Kamis (10/7) di Jakarta.

Yang kedua, bagaimana kita sekarang menanamkan dan menjadikan nilai-nilai keindonesiaan tetap hidup dalam mengurus negara dan berbangsa bernegara.

Haedar menyatakan bahwa pewarisan nilai-nilai Pancasila tidak boleh sekadar simbolik, tetapi harus terwujud nyata dalam tindakan.

“Warisan nilai itu mahal. Kita harus hidupkan dalam praksis sehari-hari, dipadukan dengan nilai agama dan budaya luhur bangsa,” tambahnya.

Ketiga, Haedar menyerukan agar masa depan Indonesia dirancang dengan menggabungkan kemajuan intelektual dan teknologi (IPTEK) dengan kekayaan nilai-nilai luhur. Menurutnya, bangsa Indonesia harus menghindari dua ekstrem: kehilangan nilai karena mengejar kemajuan, atau stagnan karena hanya menjaga tradisi.

“Perpaduan antara kemajuan dan nilai adalah kepentingan bersama agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain,” tuturnya.

Haedar juga menuturkan, karena lemahnya penghayatan akan nilai kejuangan maka tidak sedikit genarasi elit bangsa saat ini saling berebut pengaruh dan kuasa.

Kekuasaan, lanjut Haedar, berlebih minim penghayatan nilai Pancasila, agama, dan kebudayaan bangsa. Kehidupan pun sering retak karena politik saling rebut kuasa itu. Masyarakat menjadi pecah karena politik.

“Jadi, tidak heran bila sekarang ada gejala, banyak orang berebut menjadi penentu kehidupan, tidak banyak berebut menjadi pemersatu kehidupan,” tutup Haedar.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi, Riset, dan Tekn....

Suara Muhammadiyah

11 April 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cipayung menyelenggarakan Rapat Kerja (Ra....

Suara Muhammadiyah

5 February 2024

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Kilatan cahaya terlihat memukau di gedung GKB dan Helipad Universitas M....

Suara Muhammadiyah

10 September 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan ....

Suara Muhammadiyah

18 September 2026

Berita

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah - Ahad, 5 Mei 2024 Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Daerah....

Suara Muhammadiyah

5 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah