Haedar Nashir Tegaskan Kohesivitas Bangsa Jadi Kekuatan Indonesia Bertahan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
589
Prof Dr Haedar Nashir, MSi

Prof Dr Haedar Nashir, MSi

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Bahkan pasca-merdeka pun, masih dipandang perlu untuk belajar dalam membangun dirinya agar semakin dewasa dalam berdemokrasi.

“Kita belajar bagaimana bangsa-bangsa di Eropa, Amerika Serikat, di kawasan Timur, membangun dirinya itu dalam perjalanan yang sangat panjang sampai ratusan tahun,” kata Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Mencontohkan Amerika Serikat, proses konstruksi demokrasi, selalu menjumpai benturan dan kompleksitas yang begitu rupa. “Bahkan ada kontradiksi,” ungkapnya. Sampai-sampai disebut Amereika Serikat mengalami kematian demokrasi.

“Demokrasi mati bukan karena rezim-rezim militer, tetapi oleh rezim civil yang dipilih langsung oleh rakyat, tetapi tidak menghayati demokrasi. Itu yang terjadi di Amerika,” beber Haedar.

Tanpa bersifat permisif, Haedar memompa semangat untuk terus membangun bangsa ini. “Dengan orientasi ke depan harus sermakin berkemajuan,” ujar Haedar saat Rapat Terbuka Senat Laporan Tahunan Rektor dalam rangka Milad ke-60 Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Senin (29/12) di Aula A.K. Anshori Lt. 3, Kampus 1 Ahmad Dahlan UMP.

Haedar tidak menafikan, selama ratusan tahun, bangsa Indonesia telah melewati lipatan perjalanan zaman yang sangat panjang. Diakuinya, di dalamnya sarat dengan dinamika yang luar biasa.

“Tetapi ada sesuatu yang berharga di negeri tercinta kita ini, di mana kohesivitas antarkomponen bangsa relatif bagus,” ungkap Haedar.

Ciri khas dari bangsa ini, sambung Haedar, memiliki bantalan vital elemen yang sangat kuat dalam menopang denyut nadi kehidupannya. Tidak lain karena ada elemen agama, suku bangsa, kedaerahan, kebudayaan dan sub-kebudayaan dalam dinamika yang kompleks.

“Tapi dalam sejarah sebelum Indonesia merdeka dan ketika sebelum kita dijajah, tetap hidup dalam relasi yang bagus,” ulasnya.

Dan ternyata, bongkar Haedar, saat itu tidak terdengar jeratan peristiwa yang menimbulkan perang antardaerah. “Konflik selalu ada,” menekankan, “tidak sampai ke situ,” tegasnya. Termasuk, dalam aspek keagamaan, setelah hadir agama Islam pada abad ke-7—yang sebelumnya mendominasi agama Hindu—menjadi kekuatan mayoritas.

“Itu satu warisan sejarah yang sangat penting. Dan itu bukan buah dari elite atau kelompok tertentu, ini serentak terjadi di Indonesia,” tukasnya.

Dan, soal persebaran Islam sendiri, tidak lain tidak bukan para pelakunya berasal dari tokoh agama, saudagar, dan berbagai elemen yang menjadikan Islam Indonesia menjadi Islam yang damai. “Jadi, ini khazanah yang sangat kaya,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Pekan sosialisasi dan orientasi mahasiswa baru (PESONAMU) Univer....

Suara Muhammadiyah

24 September 2023

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prestasi membanggakan diraih dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah (....

Suara Muhammadiyah

2 February 2024

Berita

KENDAL, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal bekerja sama ....

Suara Muhammadiyah

24 September 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Upaya meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar global membutuh....

Suara Muhammadiyah

19 February 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar kegiatan Baitul ....

Suara Muhammadiyah

29 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah