Haedar Nashir Ungkap Ketidakpuasan Jadi Akar Tunjang Korupsi Tak Berkesudahan

Suara Muhammadiyah

26 March 2025

1192
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyoroti kasus korupsi yang makin tak terbendung terjadi di tubuh bangsa. Menurutnya, akar tunjang dari fenomena tersebut berasal dari hidup merasa kurang dan ketidakpuasan yang terus-menerus.

“Coba lihat mereka yang melakukan korupsi, itu kan pada umumnya mereka bukan yang kekurangan. Mengapa kok masih korupsi? Karena merasa kurang terus,” sebutnya Selasa (25/3) di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta saat Silaturahmi dengan Media yang dihadiri Ketua dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, Agus Taufiqurrahman, Muhammad Sayuti, dan Rektor UAD Muchlas.

Orang yang berbuat korupsi—selanjutnya disebut koruptor—hendaknya perlu mereformasi diri. Dengan mengubah paradigma menumbuhkan semangat berbagi kepada orang lain, niscaya orang lain akan merasakan kebahagiaan sekaligus kebermanfaatannya.

“Jadi energinya positif. Bahkan ketika ada orang berkesempatan untuk korupsi dia tidak jadi. Karena betapa hinanya saya ketika banyak warga bangsa yang memerlukan pertolongan, kok dengan mengambil uang negara,” katanya.

Haedar menyebut, jika setiap para pemimpin dan elite menerapkan spirit tersebut dalam ruang lingkup kehidupan keberagamaan, Ia percaya akan terjadi pengurangan kasus korupsi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan korupsi tidak bakal terjadi kembali.

“Kita coba lakukan pendekatan dengan kegembiraan beragama, ketulusan beragama, beragama dengan tengahan. Saya yakin ada proses yang signifikan, di mana agama dan umat beragama punya kontribusi besar untuk membangun keadaban bangsa, bahkan juga mencegah hal-hal buruk dalam kehidupan kebangsaan,” jelasnya.

Karena itu, Muhammadiyah telah menyebarluaskan paham keagamaan bersifat tawasuth (tengahan, moderat). Yang menumbuhkan kegembiraan, ketulusan, semangat berbagi, bahkan semangat untuk saling memajukan sesama. 

“Lalu agama tidak diberi beban-beban yang berlebih, di luar kapasitasnya. Dan ini pun saya pikir menjadi energi kolektif bangsa ini. Itu yang perlu kita hidupkan sekarang ini,” ulasnya.

Bersamaan dengan itu, Guru Besar Sosiologi UMY tersebut menambahkan bahwa kegembiraan dalam beragama sejatinya dapat diterapkan dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.

“Hal itu tentu penting dalam membangun ekosistem bangsa. Dalam kehidupan bernegara, kita bisa teladani tokoh-tokoh bangsa yang lahir pada perjuangan kemerdekaan,” tekannya.

Dalam konteks kehidupan sosial, ia menekankan bahwa nilai-nilai agama yang dijalankan dengan penuh kesadaran akan melahirkan etika sosial yang kuat. Hal ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang harmonis, tetapi juga memperkuat integritas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pemerintahan dan birokrasi. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Himpunan mahasiswa prodi Akuntansi (HIMAKSI) Universitas Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

15 January 2024

Berita

Rektor UMSU, Wakil Rektor I,II dan III Hadiri Silaturrahim dan Berbuka Puasa Fakultas Hukum MEDAN, ....

Suara Muhammadiyah

29 March 2024

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Guna mendukung Program Banyuwangi Tanpa Stunting Pemerintah K....

Suara Muhammadiyah

25 April 2024

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar N....

Suara Muhammadiyah

29 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Isu lingkungan menjadi sangat penting sepanjang kehidupan umat manu....

Suara Muhammadiyah

28 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah