Hakikat Merdeka untuk Manusia

Suara Muhammadiyah

30 August 2026

122
Ust Ibnu Hasan saat menyampaikan kajian

Ust Ibnu Hasan saat menyampaikan kajian

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Kajian ba'da subuh Ahad pagi 30 Agustus diisi oleh Ust. Dr Ibnu Hasan, MAg. Pengajian ini sekaligus sebagai penutup bulan kemerdekaan tahun ini, sehingga temanya terkait dengan kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga menjadi momentum untuk menentukan pilihan hidup dengan penuh tanggung jawab. Dalam perspektif Islam, kemerdekaan memiliki dimensi spiritual yang mengajarkan manusia agar tidak menjadi hamba bagi selain Allah, sekaligus menggunakan kebebasan yang dimiliki untuk memilih jalan kebaikan.

Ust.Ibnu menyampaikan bahwa hakikat kemerdekaan diambil dari surat Al Kahfi ayat 29 yang artinya : dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Makna kemerdekaan dengan demikian tidak boleh dipahami sebagai kebebasan tanpa batas. Kemerdekaan harus berjalan bersama dengan iman, akhlak, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Seseorang yang merdeka bukanlah mereka yang bebas melakukan apa saja, melainkan mereka yang mampu menggunakan kebebasannya untuk memilih sesuatu yang benar dan bermanfaat.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat tersebut menjadi semakin relevan. Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar harus diisi dengan tindakan nyata: menjaga persatuan, menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membangun kehidupan masyarakat yang sejahtera. Oleh karena itu semangat kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kebebasan yang telah diwariskan para pendahulu digunakan untuk membangun masa depan. Dengan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman, kemerdekaan dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih bermartabat, adil, dan penuh keberkahan.

Dalam pemahaman Islam merdeka itu tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) seperti yang disampaiakan melalui Al Baqarah ayat 256 yang artinya “sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Uts. Ibnu Hasan melanjutkan bahwa kemerdekaan juga harus dipahami sebagai merdeka dari hawa nafsu. Disampaikan dalam Al Jatsiyah ayat 23 yang artinya “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” Ditegaskan Ust.Ibnu bahwa sesungguhnya bahwa hawa nafsu melahirkan ideologi yang tidak manusiawi.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa hawa nafsu yang tidak terkendali dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan, antara yang benar dan yang salah. Seseorang mungkin secara lahiriah telah merdeka, tetapi secara batin masih terbelenggu oleh keserakahan, amarah, kesombongan, iri hati, dan keinginan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu, salah satu bentuk kemerdekaan yang paling penting adalah merdeka dari penguasaan hawa nafsu. Orang yang mampu mengendalikan dirinya tidak mudah diperbudak oleh keinginan sesaat. Ia mampu menahan amarah ketika tersulut emosi, tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang, serta memilih kesabaran dan kebaikan meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah.

Dalam perspektif Islam, kebebasan bukan berarti bebas melakukan segala sesuatu tanpa batas. Kemerdekaan justru memiliki makna ketika manusia mampu menggunakan kehendak dan pilihannya untuk mengikuti jalan yang diridhai Allah. Dengan demikian, pengendalian hawa nafsu merupakan bagian penting dari perjuangan membangun pribadi yang berakhlak dan bertanggung jawab.

Semangat kemerdekaan hendaknya menjadi momentum untuk melakukan perjuangan ke dalam diri. Setelah bangsa terbebas dari penjajahan, setiap individu memiliki tugas untuk membebaskan dirinya dari belenggu hawa nafsu. Perjuangan tersebut dapat diwujudkan melalui introspeksi, memperkuat iman, memperbanyak amal kebajikan, serta membiasakan diri mengendalikan keinginan yang dapat membawa kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Merdeka dari hawa nafsu berarti menjadi manusia yang mampu mengendalikan dirinya, bukan dikendalikan oleh keinginannya. Inilah kemerdekaan yang bersifat hakiki: ketika hati tidak diperbudak oleh dunia, pikiran tidak dikuasai keserakahan, dan tindakan senantiasa diarahkan oleh nilai kebenaran dan ketakwaan.

Sebagai penutup disampaikan bahwa memperingati kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera dan mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga tentang melanjutkan perjuangan di dalam diri. Perlu dipahami juga bahwa bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang juga merdeka secara moral dan spiritual—manusia yang mampu mengalahkan hawa nafsunya dan memilih jalan kebaikan demi kemaslahatan bersama. (Eka)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

TERNATE, Suara Muhammadiyah — Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan terjadinya  ba....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka syiar menyambut Milad Muhammadiyah ke-112, 18 November 1....

Suara Muhammadiyah

15 November 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

20 January 2026

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Ketua LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jamaludin Ahmad mengaku l....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 728 mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi (FST) s....

Suara Muhammadiyah

24 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah