JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Halal bi halal menjadi tradisi khas di Indonesia setiap Idul Fitri tiba. Bagi Abdul Mu’ti, halal bi halal tidak hanya dilakukan oleh yang beragama Islam, tapi oleh seluruh komponen masyarakat.
Biasanya, ada beberapa hal yang dilakukan saat halal bi halal. Yaitu dengan greeting atau ucapan selamat. Ragam ucapan ditemukan; “Selamat Idul Fitri, Taqaballahu Minna wa Minkum, Minal Aidin wal Faizin.”
“Nah, di Indonesia digabung semuanya. Ditambah lagi “Mohon maaf lahir dan batin”. Ini khas Indonesia,” ucap Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Jumat (20/3) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.
Kemudian, saling mengunjungi dari rumah ke rumah tetangga, handai taulan, maupun kerabat terdekat. “Yang di situ kita saling memaafkan, satu dengan yang lainnya,” tekannya.
Yang di situlah kemudian dikenal dengan open house. Sebut Mu’ti, sebagai pantulan dari ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan. “Dia buka rumahnya, semua orang dipersilakan datang,” ujarnya.
Open house sejatinya berlandaskan nilai open mind (pikiran terbuka). Dengan pikiran terbuka, niscaya bisa berpikir jernih. “Tidak ada marah kepada orang lain,” bebernya. Juga, open heart (lapang dada). Dengan hati berlapang dada, maka terbuka saling memaafkan.
“Dan meminta maaf itu sebenarnya tidak harus menunggu hari raya, kapan saja juga bisa kita meminta maaf,” tegas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu, menggarisbawahi juga tidak harus menunggu maaf dari orang lain.
“Mereka yang memaafkan kesalahan manusia. Sudah dimaafkan sebelum orang minta maaf,” sambung Mu’ti.
Mengaksentuasikan konteks memaafkan, merupakan sikap dan perilaku yang mendekatkan kepada takwa. “Karena itu ciri dari orang yang bertakwa, adalah orang pemaaf, bukan orang yang pemarah, tapi orang yang ramah,” bebernya.
Di sinilah halal bi halal menemukan titik temu relevansinya sebagai bentuk sukacita setelah melaksanakan ibadah puasa. “Dan itu bagian kita melakukan sosial refreshing dan bagian kita bersilaturahmi,” ucapnya, dengan membentangkan bentuk berupa saling mengunjungi, muwajahah, mukabalah, dan dengan memberikan hadiah.
“Kalau tidak sempat bisa berkirim status, atau cara-cara lain di mana kita mengekspresikan doa kita kepada sesama. Dan komitmen kita untuk menjadi lebih bagik pada masa-masa yang akan datang,” tukas Mu’ti. (Cris)
