YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Halaqah Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada Kamis (14/05) berlangsung penuh semangat ilmiah. Hadir dalam kegiatan ini sejumlah pakar, akademisi, dan praktisi yang telah menyerahkan makalah sebagai syarat keikutsertaan.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A., tampil sebagai narasumber utama dan menyampaikan berbagai gagasan penting terkait pengembangan Kalender Hijriyah Global Tunggal untuk peradaban Islam.
Dalam arahannya, Syamsul menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan KHGT adalah ketersediaan sumber daya manusia yang menguasai dua bidang sekaligus: ilmu falak dan ilmu syariah. Menurutnya, kelemahan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Timur Tengah.
"Kalau dari Timur Tengah, ahli falaknya hanya menguasai ilmu falaknya saja, sementara ilmu syariahnya sangat terbatas—hanya sebatas menghitung arah kiblat dan membuat jadwal waktu shalat. Polanya sangat sempit sekali," ujar Syamsul.
Oleh karena itu, ia berharap generasi ilmuwan Muhammadiyah yang terlibat dalam Majelis Tarjih dan Tajdid benar-benar membekali diri dengan kedua ilmu tersebut secara memadai. Ia bahkan secara khusus menyebut Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakkir, agar serius mendalami ilmu falak.
"Saya telepon Mas Rofiq—tolong pelajari ilmu falak, karena nanti banyak ditanya wartawan. Ketua dan sekretaris itu akan banyak didatangi wartawan yang menanyakan kapan puasa, dan hal-hal terkait kalender Hijriyah," kata Syamsul sambil tersenyum.
Pengalaman Pribadi: Belajar dari Nol demi Menjawab Publik
Syamsul berbagi pengalaman pribadinya yang cukup menarik. Ketika ditanya berbagai pertanyaan teknis soal ilmu falak, ia memutuskan untuk belajar sendiri dari awal—membaca literatur ilmu falak baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab.
"Saya putuskan harus belajar hal-hal yang terkait dengan ilmu falak, dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Cepat saja dibaca. Dan saya yakin lama-lama bisa dipahami. Akhirnya, walaupun bukan ahli falak, saya bisa memahami berbagai aspek tentang ilmu falak," tuturnya.
Semangat belajar mandiri ini ia jadikan teladan bagi para pengurus Majelis Tarjih agar tidak merasa cukup dengan satu bidang keilmuan saja.
Dalam kesempatan itu, Syamsul juga memberikan apresiasi khusus kepada Prof. Dr. Susiknan Azhari, yang disebutnya sebagai "orang tua paling senior" di antara para peserta. Di usia 76 tahun, Susiknan masih aktif berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan Tarjih, termasuk membantu menjelaskan kepada publik soal penetapan hilal.
"Beliau walaupun usianya sudah 76 tahun, masih tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan Tarjih dan membantu kita dari berbagai pertanyaan masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa hilal sudah masuk dan semakin membesar. Jadi ada pencerahan dari beliau," kenang Syamsul.
Syamsul juga menyinggung gagasan Sains Islam yang dikembangkan oleh Susiknan dalam karyanya. Setelah membaca dan menelaah buku tersebut, Syamsul menyimpulkan bahwa konsep Sains Islam ala Susiknan memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan konsep serupa di Timur Tengah.
"Sains Islam menurut Pak Susiknan adalah pendekatan berbagai keilmuan untuk menjelaskan masalah-masalah keagamaan Islam, lebih luas intinya syariah. Ini berbeda dengan Sains Islam yang berkembang di Timur Tengah yang cenderung lebih sempit cakupannya," jelas Syamsul.
Ia juga mengapresiasi penerbitan biografi Prof. Susiknan yang baru saja terbit, di mana dirinya turut memberikan kata pengantar. Bagi Syamsul, biografi dan otobiografi adalah dokumen sejarah yang sangat berharga, bukan hanya untuk individu yang bersangkutan, tetapi untuk sejarah gerakan dan peradaban.
"Biografi itu sejarah diri kita, dan juga sejarah lingkungan masyarakat di sekeliling kita. Hal-hal yang dulu tidak kita anggap penting, seperti skripsi, tesis. Sekarang baru terasa betapa pentingnya," tutur Syamsul dengan nada reflektif.
Mengakhiri arahannya, Syamsul kembali menekankan bahwa sebuah sistem kalender tidak bisa berdiri sendiri tanpa komunitas yang memahami dan mengamalkannya secara konsisten. Ia mencontohkan Kalender Ummul Qura dari Arab Saudi yang sudah memiliki sistem mapan justru karena didukung oleh para ahli yang berkomitmen.
"Sebuah sistem kalender menuntut pengamalnya. Misalnya Kalender Ummul Qura—itu bisa bertahan karena ada orang-orang yang benar-benar memahami dan mengamalkannya," tegasnya.
Halaqah Diikuti 69 Pemakalah, Hampir Capai Target
Sementara itu, Rahmadi Wibowo selaku panitia penyelenggara melaporkan bahwa halaqah ini dirancang dengan seleksi ketat. Dari 95 abstrak yang masuk, sebanyak 81 lolos seleksi, dan 69 peserta berhasil mengumpulkan makalah penuh.
"Target kami 70 makalah, jadi kurang satu untuk mencapai 100 persen. Alhamdulillah, ini satu kesyukuran atas antusiasme seluruh peserta yang mengikuti halaqah ini," ujar Rahmadi.
Ia menjelaskan bahwa output dari halaqah ini akan berupa prosiding yang dapat dibaca secara luas, sekaligus rekomendasi kebijakan strategis terkait implementasi KHGT ke depan.
"Tujuan halaqah ini adalah membedah secara objektif pelaksanaan KHGT sepanjang tahun 1447 Hijriah, mendengarkan umpan balik dari pimpinan, pakar, dan praktisi, serta merancang strategi perbaikan dan solusi di masa mendatang," jelas Rahmadi.
Halaqah ini dihadiri pula oleh Rektor UAD Prof. Dr. Muchlas, M.T., yang turut memberikan dukungan penuh bagi penyelenggaraan kegiatan ilmiah bertaraf nasional ini di lingkungan UAD. (Naf)

