Hamim Ilyas dan Cahaya Islam Rahmah
Oleh: Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah (2020-2027)
Indonesia kembali kehilangan seorang ulama-intelektual yang teduh. Hamim Ilyas wafat pada Sabtu, 23 Mei 2026, setelah menjalani perawatan di RSA UGM Yogyakarta. Kepergian Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah itu bukan sekadar kehilangan seorang akademisi, melainkan juga hilangnya salah satu suara penting Islam yang ramah, reflektif, dan berwawasan kemanusiaan.
Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh kemarahan atas nama agama, Hamim Ilyas hadir sebagai wajah Islam yang menenangkan. Ia tidak dikenal dengan retorika yang meledak-ledak, tetapi dengan argumentasi yang jernih dan sikap yang teduh. Banyak orang mengenangnya bukan hanya sebagai guru besar, melainkan sebagai “penjaga nurani” Islam berkemajuan.
Salah satu warisan pemikiran terpentingnya adalah gagasan tentang Islam rahmah dan “Tauhid Rahamutiyah”. Melalui konsep ini, Hamim Ilyas menegaskan bahwa inti terdalam ajaran Islam adalah kasih sayang transformatif. Allah, dalam pandangannya, tidak hanya dikenali melalui kemahakuasaan-Nya, tetapi juga melalui sifat rahmah-Nya yang meliputi semesta. Karena itu, keberagamaan sejati harus melahirkan empati, keadilan, dan pembelaan terhadap kemanusiaan.
Dalam banyak kesempatan, Hamim Ilyas mengingatkan bahwa Islam bukan agama kebencian. Islam hadir untuk memuliakan manusia. Ia sering mengkritik cara beragama yang hanya berhenti pada simbol dan formalitas, tetapi miskin welas asih. Baginya, ukuran keberislaman bukan terletak pada kerasnya suara atau panjangnya slogan religius, melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial.
Pemikiran seperti itu terasa sangat relevan di Indonesia hari ini. Ketika ruang publik sering dipenuhi polarisasi, ujaran kebencian, dan saling curiga atas nama identitas, Hamim Ilyas justru mengajarkan pentingnya agama sebagai energi perekat kebangsaan. Ia memandang bahwa spirit rahmatan lil ‘alamin sejalan dengan fondasi Indonesia yang majemuk. Islam, menurutnya, tidak boleh menjadi ancaman bagi kebinekaan, tetapi harus menjadi kekuatan moral yang menjaga harmoni sosial.
Karena itulah, ia begitu dekat dengan tradisi Islam berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah. Dalam Muhammadiyah, Hamim Ilyas bukan hanya seorang pemikir tarjih, tetapi juga penjaga arah etik gerakan. Ia memahami tajdid bukan semata pembaruan hukum, melainkan pembaruan cara pandang umat terhadap kehidupan modern. Pembaruan harus melahirkan Islam yang relevan terhadap persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga krisis kemanusiaan global.
Sebagai akademisi di UIN Sunan Kalijaga, Hamim Ilyas juga dikenal tekun mengembangkan kajian tafsir dan hukum Islam. Namun menariknya, keluasan ilmunya tidak membuatnya berjarak dengan masyarakat. Ia tetap tampil sederhana, rendah hati, dan komunikatif. Banyak murid serta koleganya mengenang dirinya sebagai sosok yang lebih suka berdialog daripada menggurui.
Mungkin di situlah letak kekuatan moral Hamim Ilyas, ia tidak hanya berbicara tentang rahmat, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dirinya, ilmu dan akhlak tampak berjalan seiring. Ia menjadi pengingat bahwa ulama besar bukan hanya mereka yang banyak kitabnya, melainkan mereka yang menghadirkan keteduhan bagi sesama.
Kepergian Hamim Ilyas juga menyisakan pertanyaan penting bagi umat Islam Indonesia: mampukah warisan Islam rahmah itu terus dijaga? Sebab tantangan zaman ke depan tidak ringan. Dunia digital melahirkan banjir informasi sekaligus banjir kebencian. Agama sering diperalat untuk kepentingan politik identitas. Di tengah situasi seperti itu, pemikiran Hamim Ilyas terasa semakin bernilai. Ia menawarkan jalan keberagamaan yang tidak reaksioner, tetapi reflektif; tidak eksklusif, tetapi inklusif; tidak penuh amarah, tetapi penuh kasih.
Dalam tradisi Islam, ulama sering disebut sebagai pewaris para nabi. Namun warisan terbesar para nabi sesungguhnya bukan kekuasaan, melainkan akhlak kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta. Dan Hamim Ilyas, sepanjang hidup intelektualnya, tampaknya berusaha menjaga nyala pesan kenabian bahwa agama harus menjadi cahaya yang menghangatkan, bukan api yang membakar.
Kini, sosok teduh itu telah berpulang. Tetapi gagasannya tentang Islam rahmah akan terus menemukan relevansi, terutama ketika dunia terasa semakin keras dan bising. Di tengah kecenderungan sebagian orang menjadikan agama sebagai alat pemisah, Hamim Ilyas justru mengajarkan bahwa agama semestinya menjadi jembatan kemanusiaan.
Barangkali itulah jejak paling indah yang ditinggalkannya yakni bagaimana menghadirkan Islam bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pelukan.

