Ramadhan dan Panggilan Menjadi Cahaya

Publish

27 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
64
Ilustrasi

Ilustrasi

Ramadhan dan Panggilan Menjadi Cahaya

Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah, Wakil Ketua LLH PB ‘Aisyiyah, Inisiator Gerakan 1000Cahaya Muhammadiyah

Ramadhan selalu hadir sebagai bulan penyucian jiwa. Namun di tengah krisis iklim, ketimpangan sosial, dan meningkatnya kerentanan kemanusiaan, Ramadhan juga menghadirkan panggilan yang lebih luas: panggilan untuk menjadi cahaya di tengah zaman yang dibayangi krisis ekologis dan ketidakadilan.

Hari ini krisis energi dan perubahan iklim bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang kita rasakan bersama. Ia tampak dalam naiknya tarif listrik, ketergantungan pada bahan bakar fosil, polusi udara, serta kerentanan masyarakat kecil terhadap fluktuasi harga pangan dan kebutuhan dasar. Ketika biaya energi meningkat, keluarga berpenghasilan rendah, pesantren kecil, petani, dan pelaku usaha mikro menjadi kelompok yang paling terdampak. Krisis ini tidak berdiri sendiri; ia memperdalam kemiskinan dan memperlebar kesenjangan sosial.

Ketergantungan pada sumber daya yang tidak berkelanjutan membuat kita rentan secara ekonomi sekaligus ekologis. Di sisi lain, akses terhadap energi bersih dan terjangkau belum merata. Dalam situasi seperti ini, keberagamaan tidak cukup berhenti pada ibadah personal. Ia harus menjelma menjadi keberpihakan nyata pada transisi energi yang berkelanjutan dan adil—energi yang bersih, terjangkau, serta dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Allah SWT berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Surah Al-Ma’un mengajarkan bahwa iman sejati selalu berpihak kepada yang lemah. Dalam konteks hari ini, krisis lingkungan dan energi merupakan bentuk ketidakadilan baru yang dampaknya paling berat dirasakan oleh kaum miskin dan rentan. Karena itu, menjaga bumi bukan sekadar isu teknis, tetapi bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Di sinilah Fiqh Hijau menemukan relevansinya. Fiqh Hijau dimaknai sebagai Fiqh Transisi Energi Berkelanjutan. Ia memperluas pemahaman kita tentang amanah sebagai khalifah di muka bumi. Jika selama ini fiqh banyak dipahami dalam batas halal dan haram, maka pendekatan ini menambahkan dimensi keberlanjutan: apakah pilihan dan tindakan kita menjaga atau merusak bumi? Apakah sistem energi yang kita gunakan adil bagi generasi mendatang?

Ramadhan melatih kita menahan diri dan mengendalikan konsumsi. Mengapa kesadaran ini tidak kita lanjutkan dalam cara kita menggunakan energi? Menghemat listrik bukan sekadar menurunkan tagihan, tetapi bagian dari akhlak. Mengurangi pemborosan adalah bentuk tanggung jawab moral.

Bayangkan jika kesadaran ini tumbuh secara kolektif di lingkungan Muhammadiyah. Jika jutaan keluarga mulai melakukan efisiensi energi. Jika pesantren memasang panel surya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kemandirian. Jika sekolah membentuk kader energi. Jika rumah sakit dan kampus menargetkan pengurangan konsumsi listrik secara signifikan. Perubahan kecil yang dilakukan bersama bukan lagi sekadar program; ia menjadi gerakan.

Melalui berbagai inisiatif transisi energi, termasuk Gerakan 1000Cahaya Muhammadiyah, upaya penyelamatan bumi didorong agar tidak berhenti pada diskursus, tetapi tumbuh sebagai gerakan sosial dan kultural yang nyata. Transisi energi tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok mampu, melainkan harus menjadi jalan keadilan—mengurangi beban biaya masyarakat, membuka peluang kerja hijau, serta memperkuat kesejahteraan umat.

Energi bersih bukan hanya soal teknologi. Ia adalah instrumen keadilan sosial. Ketika biaya listrik menurun, dana pendidikan dapat meningkat. Ketika pesantren mandiri energi, kualitas pembelajaran membaik. Ketika keterampilan energi terbarukan diajarkan di SMK, terbuka peluang kerja baru. Ketika petani memanfaatkan tenaga surya, produktivitas meningkat tanpa merusak lingkungan.

Inilah arsitektur perubahan yang berakar pada nilai. Ia menghubungkan teologi, pendidikan, teknologi, dan kesejahteraan dalam satu ekosistem.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat langkah ini. Bulan suci ini melatih kita hidup lebih sadar, lebih hemat, dan lebih peduli. Jika kesadaran tersebut kita lanjutkan setelah Ramadhan, maka ibadah kita tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi transformasi sosial dan ekologis.

Di tengah tantangan global, kita memiliki dua pilihan: terus mengeluhkan kegelapan atau menyalakan cahaya.

Daripada mengutuk kegelapan, jadilah cahaya itu.

Karena pada akhirnya, cahaya tidak perlu berdebat dengan bayangan.
Ia cukup bersinar.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Oleh: Dr H Amirsyah Tambunan, Sekretaris Jenderal MUI  Buya Dr Haji Ahmad Rasyid Sutan Ma....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Humaniora

Hikmah Ibadah Haji 1445 H / 2024 M Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng., Dept of Informatics Engineering, Un....

Suara Muhammadiyah

26 June 2024

Humaniora

Cerpen Sucipto Jumantara Pohon-pohon di belakang rumah selalu membawa anganku terbang jauh ke suasa....

Suara Muhammadiyah

2 February 2024

Humaniora

Mengurus Amal Usaha Muhammadiyah Yes, Beramal dan Memajukan Persyarikatan juga Yes Oleh: Agus seti....

Suara Muhammadiyah

1 June 2024

Humaniora

Ramadan, Masjid, dan Pelajaran Rezeki Oleh: Hening Parlan, penulis adalah pengurus LLH PB ‘Ai....

Suara Muhammadiyah

20 February 2026