Refleksi Hardiknas dan Ngaji Politik Lingkungan: IMM AR Fakhruddin Soroti Pendidikan dan Krisis Ekologi
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 dimaknai berbeda oleh PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta. Tidak sekadar seremoni tahunan, organisasi mahasiswa ini menjadikannya sebagai ruang refleksi kritis terhadap kondisi pendidikan di Indonesia dalam satu tahun terakhir.
Refleksi tersebut dituangkan dalam Hasil Kajian Hari Pendidikan Nasional 2026 yang disusun dan dirilis oleh Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik PC IMM AR Fakhruddin. Kajian ini berupaya memotret berbagai persoalan mendasar dalam sistem pendidikan nasional, mulai dari kebijakan anggaran hingga ketimpangan akses pendidikan.
Selain merilis kajian, PC IMM AR Fakhruddin juga turut terlibat dalam Aksi Bersama Gerakan Nasional Pendidikan di Kota Yogyakarta. Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan sejumlah tuntutan sebagai bentuk kritik sekaligus dorongan perbaikan terhadap arah kebijakan pendidikan nasional.
Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik PC IMM AR Fakhruddin, Muhammad Al-Fatih, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dipahami sebatas angka partisipasi atau program populis, melainkan harus dilihat sebagai hak dasar yang harus dijamin negara secara adil dan berkelanjutan.
Dalam aksinya, PC IMM AR Fakhruddin mengajukan enam tuntutan utama. Pertama, mendesak evaluasi total terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta refokus anggaran agar tidak mengorbankan sektor pendidikan yang lebih fundamental. Kedua, menuntut penghapusan Rencana Anggaran Belanja (RAB) MBG dalam RAPBN Pendidikan 2026 karena dinilai berpotensi menggeser prioritas anggaran.
Ketiga, mendorong penggratisan biaya pendidikan pada jenjang dasar dan menengah sebagai bentuk pemenuhan hak pendidikan. Keempat, menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga honorer. Kelima, menolak penghapusan program studi yang hanya didasarkan pada kebutuhan industri.
Keenam, mendesak evaluasi hingga penghapusan jalur mandiri di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dinilai berpotensi memperlebar ketimpangan akses pendidikan.
Pergeseran Paradigma Lingkungan
Masih dalam rangkaian pengawalan isu strategis, Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta juga menggelar Ngaji Politik Lingkungan #1 bertema “Shifting Paradigma: Manusia sebagai Pusat Alam atau Manusia Bagian dari Alam?” di Rumah Baca Komunitas, Senin (4/05).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi kritis yang tidak hanya membahas persoalan lingkungan dari sisi kebijakan, tetapi juga menyoroti cara pandang manusia terhadap alam. Diskusi dipimpin langsung oleh Muhammad Al-Fatih yang juga menjadi pemateri utama.
Dalam pemaparannya, Al-Fatih menjelaskan bahwa Series Ngaji Politik Lingkungan merupakan ikhtiar dalam mengawal isu strategis organisasi, khususnya di bidang ekologi Kota Yogyakarta. Kegiatan ini dirancang dalam empat seri, mulai dari rekonstruksi pemahaman hingga pengawalan isu lingkungan pada tataran kebijakan publik.
Ia menegaskan bahwa krisis lingkungan saat ini bukan disebabkan oleh keterbatasan teknologi atau minimnya inovasi, melainkan berakar pada cara pandang manusia yang masih menempatkan diri sebagai pusat (antroposentrisme). Paradigma tersebut dinilai melahirkan logika kapitalistik yang eksploitatif terhadap alam.
Sebagai alternatif, Al-Fatih mendorong pergeseran menuju ekosentrisme, yakni cara pandang yang menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung dan harus dijaga bersama. Menurutnya, perubahan cara pandang ini menjadi langkah awal yang berdampak jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ia juga menekankan bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi harus dimulai dari kesadaran individu.
Diskusi interaktif turut memperkaya kegiatan ini. Salah satu peserta, Sinta dari IMM Cardiodental, menekankan pentingnya memulai kebiasaan ramah lingkungan dari hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Peserta lain menyoroti persoalan sampah di Yogyakarta, termasuk keterbatasan lahan dan perbedaan pemahaman masyarakat dalam pengelolaannya.
Selain itu, disampaikan pula bahwa meskipun pemerintah telah menyediakan sistem pengelolaan melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), implementasinya masih belum optimal. Sementara itu, peserta lain membagikan praktik pengolahan sampah di lingkungannya, seperti fermentasi sampah organik hingga menghasilkan alkohol serta pemanfaatan residu pirolisis sebagai media tanam.
Melalui rangkaian kegiatan ini, PC IMM AR Fakhruddin menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu pendidikan dan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa. Momentum Hardiknas diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi titik refleksi bersama dalam membangun sistem pendidikan yang adil, inklusif, serta kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan lingkungan. (MAF)

