Hidup adalah Amanah: Refleksi Diri di Tengah Kelalaian Dunia
Oleh: Bobi Hidayat, M.Pd, Dosen di FKIP Universitas Muhammadiyah Metro
Perjalanan hidup manusia di dunia disertai dengan berbagai macam amanah yang harus ditunaikan. Topik ini memang memiliki tingkat pembahasan yang cukup berat. Namun di sisi lain, manusia yang memiliki sifat khilaf dan lupa akan selalu pantas untuk diingatkan tentang pentingnya menjaga amanah dalam menjalani kehidupannya di dunia.
Amanah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain, dapat dipercaya (boleh dipercaya), dan setia. Arti ini dapat dimaknai bahwa amanah diberikan kepada manusia dengan harapan ia dapat dipercaya dan setia dalam menjalankan apa pun yang dipercayakan kepadanya, sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing.
Dalam konteks kehidupan manusia di dunia, amanah yang diberikan setidaknya dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Amanah Allah (Sang Pencipta) kepada manusia,
Amanah Rasul kepada manusia, dan
Amanah manusia kepada manusia.
Ketiga amanah ini akan diuraikan secara singkat dalam tulisan ini dengan harapan dapat mengingatkan kita semua bahwa hidup di dunia ini membawa tiga tugas besar yang berbentuk amanah.
Amanah Allah kepada Manusia
Allah menciptakan manusia di dunia tentu memiliki tujuan. Sejarah penciptaan manusia yang melalui perjalanan panjang dan rumit diceritakan dalam Al-Qur'an surah Al-Mu'minun ayat 12–14 yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
Tujuan Allah menciptakan manusia di dunia setidaknya mencakup dua hal utama, yaitu untuk beribadah sebagaimana tertuang dalam Al-Qur'an surah Adz-Dzariyat ayat 56 (“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”) dan sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 30.
Dalam konteks ibadah, banyak aktivitas manusia yang dapat bernilai ibadah. Kita semua mengetahui bahwa ibadah kepada Allah digolongkan menjadi ibadah khusus (mahdhah) dan ibadah umum (ghairu mahdhah). Ibadah khusus merupakan ibadah yang ritual dan ketentuannya sudah ditetapkan secara spesifik, seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Sementara itu, ibadah umum merupakan aktivitas duniawi yang bernilai kebaikan, seperti kegiatan sosial dan urusan muamalah lainnya. Sebagai pengingat, seluruh aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali seharusnya diupayakan agar bernilai ibadah di sisi-Nya.
Selain itu, manusia juga diberi tugas oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk mengelola alam semesta guna menebarkan kebaikan tanpa merusak dan dilarang melampaui batas. Alam semesta yang di dalamnya terdapat berbagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup harus dikelola oleh manusia dengan bijak. Pengendalian sifat rakus manusia semestinya dapat dilakukan dengan selalu mengingat Allah, sehingga kerusakan alam dapat dihindari. Namun realitasnya, sebagian manusia merasa terlalu sulit untuk menjaga amanah ini. Padahal, ketidakbijakan dalam mengelola alam justru telah banyak merugikan kehidupan manusia itu sendiri.
Amanah Rasul kepada Manusia
Selain Allah, Rasulullah juga memberikan amanah kepada manusia, khususnya kepada umat beliau. Amanah utama yang diberikan oleh Rasul adalah berdakwah atau menyiarkan ajaran Islam agar terus tumbuh dan berlanjut sebagai petunjuk bagi manusia dalam mengarungi kehidupannya dari generasi ke generasi.
Perintah berdakwah ini tertuang dalam Al-Qur'an surah Ali 'Imran ayat 110:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...” Hal ini juga dipertegas oleh sebuah hadis Rasulullah yang sangat masyhur di telinga kita: “Sampaikanlah walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).
Perintah berdakwah melekat pada setiap umat Muslim. Caranya pun bermacam-macam; ada yang dengan lisannya, tulisannya, hartanya, maupun berbagai cara lain sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dakwah dengan ruang lingkup terkecil adalah menjaga diri dan keluarga dari api neraka, sebagaimana perintah dalam Al-Qur'an surah At-Tahrim ayat 6.
Menjaga diri dan keluarga artinya mendorong diri sendiri serta mengajak keluarga untuk konsisten beribadah kepada Allah, serta belajar dan mengajarkan ilmu agama. Langkah ini, baik dilakukan kepada keluarga maupun orang lain, merupakan bentuk penunaian tanggung jawab dakwah kepada orang-orang di sekitar kita, dan akan jauh lebih baik jika jangkauannya bisa lebih meluas.
Amanah Manusia kepada Manusia
Dalam menjalani hidup, manusia dibekali berbagai potensi dan kemampuan sebagai sarana untuk menjalankan amanah dari Allah, Rasul-Nya, maupun amanah dari sesama. Potensi yang dimaksud meliputi kesempurnaan fisik tubuh serta fasilitas pendukung di luar tubuh manusia. Hal ini juga mencakup amanah manusia terhadap dirinya sendiri.
Selain amanah internal tersebut, sesama manusia juga saling memberikan amanah berupa tanggung jawab sosial dalam kehidupan. Kewajiban menjaga amanah ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Anfal ayat 27 yang berbunyi:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Menjaga amanah adalah kewajiban mutlak umat manusia. Bahkan, Allah menjanjikan surga Firdaus bagi setiap Muslim yang mampu menunaikan amanah dengan baik, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Mu'minun ayat 8–11. Sebaliknya, kelalaian terhadap amanah akan mendatangkan kerugian yang besar.
Tentu saja, menjaga dan menjalankan amanah bukanlah perkara mudah. Manusia harus menyelaraskan segala aktivitas jasmani dan apa yang dimilikinya dengan syariat yang diperintahkan Allah. Kendati demikian, selalu ada jalan untuk tetap terjaga, salah satunya melalui budaya saling mengingatkan. Dengan saling mengingatkan, terus belajar, serta membiasakan diri untuk beribadah, menjaga alam, berdakwah, dan menggunakan anggota tubuh dengan baik, manusia akan tetap berjalan di atas fitrahnya dalam menunaikan amanah Allah.

