METRO, Suara Muhammadiyah – Peran Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah sangat teruji nyata. Bahkan salah satu tokohnya Jenderal Soedirman, selain dikenal Panglima TNI pertama, juga sebagai Bapak Kepanduan Hizbul Wathan.
“Sehingga dalam darah TNI mengalir darah Hizbul Wathan,” ujar Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (8/10) saat membuka Tanwir ke-1 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Metro, Kota Metro, Lampung.
Dalam teropongan Mu’ti, dunia masa kini dihadapkan pada tantangan yang sangat serius. Dibentangkannya berupa dinamika kehidupan global yang semakin menganga, ditambah dengan kecenderungan laku dari generasi bangsa, khususnya generasi-z dan generasi alpha.
“Ada banyak sekali tulisan dalam bentuk buku maupun jurnal yang di dalamnya dijelaskan betapa generasi-z dan generasi alpha itu tidak cukup memiliki mentalitas yang kuat,” ujarnya.
Seketika muncul di permukaan yaitu istilah generasi strawberry (strawberry generation). Yakni generasi yang dikategorisasikan kreatif dan cerdas, melainkan memiliki mentalitas yang rapuh.
Demikian diperkuat oleh Jonathan Haidt, Psikolog Sosial di Stern School of Business, Universitas New York dalam bukunya “The Anxious Generation” (Generasi yang Cemas).
“Generasi yang mentalnya sangat ringkih. Mereka tidak memiliki sikap mental yang kuat, tidak memiliki sikap yang berani menghadapi berbagai macam tantangan,” bebernya.
Dalam berbagai catatan riset kesehatan mental, Mu’ti mengatakan, masalah kesehatan mental menjadi amat serius di kalangan anak muda. Selain angka gangguan jiwa yang cukup tinggi, bersamaan dengan itu juga angka bunuh diri pun cukup tinggi.
“Ini tidak bisa kita pandang sebagai sesuatu yang sederhana. Mesti ada akarnya, yang akar-akar itu perlu kita pahami dan kemudian kita cari solusi bagaimana yang terbaik,” bebernya.
Selain itu, catatan lain dikemukakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ini. Bahwa generasi-z dan generasi alpha kurang memiliki sikap nasionalisme.
“Pergaulan dunia global di mana mereka lebih terekspos dan lebih terinspirasi dengan dunia-dunia global, kadang-kadang meluruhkan sikap cinta tanah air dan nasionalisme,” bongkarnya.
Di situlah Mu’ti mengajak perlu bergerak bersama mencari jalan keluar dari sengkarut permasalahan yang membelenggu generasi-z dan generasi alpha tersebut.
“Sesuai dengan prinsip dan motto Hizbul Wathan, yaitu fastabiqul khairat. Kita memang perlu segera melangkah bersama-sama memperbaiki permasalahan yang ada,” tegasnya.
Mu’ti tidak menginginkan tumpukan masalah itu hanya sebatas secarik quotes dan pidato semata. Akan tetapi, harus dibuktikan dengan derap langkah yang menghasilkan dampak nyata.
“Permasalahan itu adalah tantangan yang harus kita selesaikan bersama,” tukasnya. (Cris)

