Idul Fitri dan Keadaban Publik
Oleh: Muhammad Qorib, Dosen Fakultas Agama Islam UMSU dan Bendahara PWM Sumut
Indonesia merupakan Negara dimana agama menempati posisi sangat penting di masyarakat. Dalam setiap dimensi kehidupan senantiasa ditemukan peran dan fungsi agama, terlepas apakah peran dan fungsi itu bersifat simbolik-kuantitatif atau substantif-kualitatif. Banyak keunikan lahir sebagai konsekuensi logis pertemuan antara agama dan budaya asli bangsa Indonesia. Pertemuan tersebut melahirkan budaya baru dan pada konteks tertentu bertransformasi menjadi regulasi. Boleh jadi budaya itu jarang ditemukan di negara-negara lain dan menjadi keunikan tersendiri.
Substansi Idul Fitri
Hari Raya Idul Fitri dengan berbagai padanannya merupakan salah satu dari berbagai keunikan itu. Secara sosiologis, terdapat beberapa istilah lain yang senantiasa digunakan untuk menyebut Hari Besar itu, seperti “Lebaran” dan “Halal Bi Halal”. Bahkan sebelum Hari Besar itu dirayakan, masyarakat Muslim Indonesia senantiasa melakukan apa yang biasa dikenal dengan istilah “mudik” atau “pulang kampung”. Sepertinya “Idul Fitri”, “Lebaran”, dan “Halal Bi Halal” dianggap kurang sempurna tanpa aktifitas “pulang kampung”.
Elliot Aronson dalam bukunya The Social Animal (2018) menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk kreatif yang hidupnya membutuhkan kehadiran orang lain. Naluri manusia ingin selalu berkumpul, diakui dan dihargai oleh orang lain. Poin penting pulang kampung adalah aktifitas saling memberi apresiasi, berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Pulang kampung menjadi bukti bahwa manusia merupakan homo socius yang hidupnya tidak bisa jauh dari orang lain terutama keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Idul Fitri tentu saja bersumber dari tradisi profetik, yaitu tradisi yang lahir dari misi yang dibawa dan dipraktikkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Meskipun mengandung makna yang beragam, antara “kembali berbuka” atau “kembali kepada kesucian”, Idul Fitri senantiasa menjadi media perjumpaan, sumber kebahagiaan, dan alat untuk transformasi sosial. Hari Raya ini menjadi semacam paket ritual yang bersifat multi dimensional.
Idul Fitri diawali dengan pelaksanaan Puasa Ramadhan (shiyam dan shaum) selama sebulan penuh (Q.S. Al-Baqarah (2): 183). Puasa Ramadhan juga melahirkan tradisi buka puasa bersama, baik yang dilaksanakan secara personal atau pun secara kolektif. Semangatnya bersifat sosial, yaitu untuk mempererat persaudaraan atau momentum untuk mengimplementasikan aktifitas filantropi melalui kegiatan berbagi. Buka puasa bersama menjadi indikasi kuat bahwa agama menjadi sangat dinamis, adaptif dan kaya dengan mengakomodir budaya.
Sementara Lebaran lahir dari tradisi keislaman di Indonesia, yang secara sederhana diartikan dengan “selesai”. Karena Hari Lebaran menunjukkan waktu dimana Umat Islam baru menyelesaikan ibadah ritual melalui puasa Ramadhan selama satu bulan. Halal Bi Halal juga demikian, meskipun sepertinya diadopsi dari bahasa Arab, namun sebenarnya kata tersebut keliru secara struktur kebahasaan. Uniknya, Istilah itu kini telah diterima dan menjadi kesepakatan kolektif yang dimaknai sebagai aktifitas “saling mengunjungi”, “saling berbagi”, dan “saling mendoakan”.
Halal Bi Halal hanya ditemukan di Indonesia. Masyarakat Muslim Indonesia dikenal toleran sehingga istilah itu tidak dianggap sebuah penyimpangan, melainkan kearifan nasional yang perlu dilestarikan. Ada pula yang mengartikan bahwa Halal Bi Halal adalah aktifitas yang bertujuan untuk mencairkan hati yang beku dengan cara saling memaafkan. Hidup berkelompok senantiasa diwarnai oleh berbagai perbedaan, baik perbedaan pemikiran atau keingingan. Tak jarang dengan perbedaan itu muncul gesekan, ketegangan dan salah paham. Itulah sebabnya, Halal Bi Halal menjadi waktu istimewa untuk memulihkan keadaan agar seperti semula.
Dengan demikian, Idul Fitri, Lebaran dan Halal Bi Halal mencakup tiga dimensi yang terintegrasi, yaitu dimensi ritual, dimensi sosial, dan dimensi kesemestaan. Dimensi ritual menuntun umat Islam untuk merawat kesalehan personal kepada Tuhan, dimensi sosial merupakan wujud manusia sebagai mahluk yang bermasyarakat, sementara dimensi kesemestaan menyadarkan umat Islam bahwa lingkungan harus dirawat dan tidak boleh dikotori oleh aktifitas amoral. Idul Fitri dengan demikian harus menjadi rahmat bagi setiap makhluk, bukan sejenis pesta pora atau momentum untuk meluapkan “kemerdekaan” karena lepas dari “penjara” makan dan minum di siang hari selama Bulan Ramadhan.
Selain melahirkan kebahagiaan, Idul Fitri sejatinya menjadi titik krusial untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat komitmen agar semangat Ramadhan dapat dipertahankan dari waktu ke waktu sampai datang Bulan Ramadhan tahun berikutnya. Banyak pelajaran penting yang dapat digali secara serius selama Bulan Ramadhan, misalnya konsistensi untuk menjaga aktifitas literasi dengan melakukan tadarus setiap saat. Semangat ini harus tetap melekat dan tidak boleh terbatas pada ruang dan waktu tertentu saja. Lebih dari itu, aktifitas literasi kehidupan dapat diterjemahkan dengan membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, bahkan aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan memberi advokasi untuk kaum dhu’afa dan mustadh’afin.
Idul Fitri adalah momentum penting untuk mengembalikan kesejatian diri manusia sebagai mahluk spiritual (Q.S. Al-Rum (21): 30). Karena berbagai ego yang berlebihan dan kepentingan yang mengangkangi norma, manusia jatuh menjadi makhluk yang kotor (Q.S. Al-Tin (95): 4). Hari Suci tersebut merevitalisasi predikat manusia sebagai khalifah Allah di bumi (Q.S. Al-Baqarah (2): 30). Tugas utamanya untuk merawat bumi dan memakmurkan ekosistem kehidupan sehingga lahir baldah thayyibah wa Rabbun Ghafur (negeri dan masyarakat yang harmonis dan Tuhan Yang Maha Pengampun) (Q.S. Saba (34): 15).
Relasi manusia dengan manusia sekaligus dengan alam semesta bukan bersifat dominatif dan eksploitatif seperti selama ini, melainkan relasi timbal balik yang bersifat paralel dan saling menjaga. Hakikat Idul Fitri bertujuan untuk karamah al-insan wa karamah al-‘alam (memuliakan manusia dan menjaga alam semesta beserta isinya). Sebab alam semesta merupakan makhluk yang juga mengabdi kepada Allah dengan caranya masing-masing. Seperti manusia, eksistensinya untuk melengkapi berbagai ciptaan Allah di bumi. Alam semesta beserta isinya juga punya perasaan dan dapat bersikap melalui fenomena yang kerap terjadi di sekitar kita. Hujan, panas, badai, kilat, banjir, tanah longsor, dan tanah yang subur, adalah media komunikasi alam kepada manusia.
Seyyed Hossein Nashr dalam bukunya Man And Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1997), menjelaskan bahwa keadaan alam yang carut marut pada saat ini disebabkan oleh krisis keimanan masyarakat modern. Alam yang dibentangkan oleh Allah dieksploitasi secara berlebihan atas nama supremasi umat manusia. Polusi udara, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, pembalakan liar, adalah cermin rapuhnya keimanan penduduk bumi. Pada akhirnya, perubahan negatif lingkungan tersebut akan dirasakan sendiri oleh umat manusia.
Karena itu, Idul Fitri meletakkan iman bukan di dalam ruang pengap yang asyik masyuk dengan diri sendiri dan terisolasi dari fakta sosial. Iman yang disepuh dalam momentum Idul Fitri adalah iman yang bersifat transformatif dan responsif dengan berbagai ketidakseimbangan dan ketimpangan yang terjadi di bumi. Idul Fitri juga bukan hari dimana sensasi keagamaan terasa kuat melalui kumandang suara takbir, tahlil dan tahmid yang saling bersahutan dari ribuan toa-toa masjid. Idul Fitri adalah upaya pembebasan nafsu hewani yang bertengger kokoh sekaligus melakukan perbaikan-perbaikan diri dan lingkungan yang dilakukan oleh pelaksana Puasa Ramadhan itu.
Cermin Keadaban
Idul Fitri mengasah kembali sikap disiplin setiap individu secara sosial- historis. Nilai-nilai itu lahir dari sebuah proses penempahan diri yang panjang selama Bulan Suci Ramadhan. Rasa haus dan lapar diletakkan dalam pengawasan yang kuat. Rasa itu bisa dihilangkan dalam waktu yang sudah diatur secara tertib. Sikap ini sangat vital untuk dilestarikan. Disiplin terkait dengan kemampuan mematuhi regulasi dalam berbagai aspek kehidupan di ruang-ruang publik. Disiplin bukan takdir yang diterima secara otomatis begitu seseorang menjadi Muslim, melainkan sikap yang harus diperjuangkan setiap saat.
Mudik ke kampung halaman masing-masing tidak boleh abai dengan sikap disiplin tersebut. Saling menghormati di jalanan, tidak melanggar aturan berlalu-lintas, tidak merasa yang paling berhak sebagai pengguna jalan, sampai aktifitas menjaga lingkungan agar tetap bersih, menjadi cermin mekarnya spirit Idul Fitri itu. Terkadang dalam konteks keadaban publik, terdapat kesulitan untuk membedakan mana orang-orang yang konsisten berpuasa dengan orang-orang yang tidak berpuasa. Karena kedua kategori tersebut selalu berperilaku menyimpang.
Dalam merayakan Idul Fitri, memperkuat rasa empati juga sangat penting. Empati merupakan kemampuan untuk memikirkan pikiran dan perasaan orang lain. Saat Idul Fitri tiba, Rasulullah Muhammad Muhammad SAW mengajarkan agar jangan ada orang-orang terdekat dan anggota masyarakat yang kelaparan. Perhatian beliau terhadap anak-anak yatim dan orang-orang miskin sangat besar, sebesar perhatian beliau terhadap diri sendiri. Bagi Rasulullah Muhammad SAW, Idul Fitri melampaui berbagai asesoris yang kerap ditampilkan secara simbolik. Semangat Idul Fitri juga melampaui ucapan selamat yang menghiasi berbagai media sosial. Rasulullah Muhammad SAW menegaskan bahwa Idul Fitri adalah rahmat, yang mengandung al-riqaq (kelembutan), al-ihsan (sikap rela berkorban), al-khair (kebaikan), dan al-nikmah (nikmat) yang dirasakan oleh semua.
Dalam sebuah pepatah Arab dijelaskan bahwa Idul Fitri bukan ditandai dengan berbagai asesoris seperti pakaian baru dan gemerlapnya pernak-pernik perayaannya. Kualitas Idul Fitri ditandai dengan ketakwaan yang terus meningkat. Hal itu terlihat dari perilaku yang semakin terpuji dari waktu ke waktu. Manusia bertakwa dilihat dari komitmennya untuk senantiasa berbagi dalam setiap keadaan, mengendalikan marah, memaafkan kesalahan saudaranya, dan berperilaku ihsan. Manusia takwa juga dilihat dari sikapnya yang tak pernah jemu untuk terus memperbaiki kualitas diri (Q.S. Ali-Imran (3): 133-135), lapang dada dan luas pandangan jika dikritik, rendah hati dan berprinsip ketika memiliki posisi, serta tak lupa diri saat diapresiasi. Semoga bermanfaat.
