Ramadhan dan Prime Time Tabligh

Publish

4 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
60
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ramadhan dan Prime Time Tabligh

Penulis: Moh In’ami, Anggota PDM Kudus, Dosen UIN Sunan Kudus

Sebagaimana kita maklumi, Ramadhan merupakan bulan yang menghadirkan suasana berbeda dalam kehidupan umat Muslim. Bagaimana tidak, ritme harian berubah, masjid terasa kembali hidup, lantunan ayat suci menggema, dan hati terasa lebih peka terhadap panggilan Ilahi. Bagi kebanyakan Muslim, di bulan ini, waktu seakan memiliki nilai yang berlipat, baik dari sisi kuantitatif dalam hal pahala maupun dari sisi kualitatif dalam hal makna. Setiap hitungan waktu membuka peluang berharga bagi perbaikan diri (islah) dan kedekatan kepada Allah (taqarrub).

Dalam kerangka dakwah, penyebutan prime time tabligh untuk bulan Ramadhan merupakan momentum syiar kesalehan dan kebaikan yang paling krusial sepanjang masa. Kalau di dunia media ada istilah prime time, yaitu jam tayang utama dengan penonton paling banyak, maka dalam kehidupan umat Islam, Ramadan adalah “prime time”-nya hati. Di bulan ini, hati orang-orang lebih terbuka untuk menerima nasihat dan pesan spiritual. Ajaran Islam jadi lebih mudah menyentuh perasaan, lebih cepat menggerakkan untuk berbuat baik, dan lebih lama membekas dalam diri. 

Pada bulan ini, mimbar-mimbar masjid tidak pernah sepi. Bisa kita cermati satu per satu. Kultum setelah Subuh, kajian menjelang berbuka puasa, hingga tarawih yang disertai tausiyah menjadi agenda rutin. Prime time tabligh tidak hanya terjadi pada satu waktu, tetapi hampir sepanjang hari. Setiap menit begitu berharga. Setiap jeda ibadah adalah ruang dakwah, setiap pertemuan adalah peluang menyampaikan hikmah. 

Ramadan juga menghadirkan audiens yang lebih luas. Lihat saja, mereka yang di luar Ramadhan jarang ke masjid, di bulan ini ikut hadir –dengan segala kesadaran dan keterpanggilan . Mereka yang biasanya sibuk dengan urusan dunia, meluangkan waktu untuk mendengar ceramah. Inilah saat terbaik bagi para mubaligh untuk menggemakan pesan Islam yang mencerahkan, membumi, dan solutif. 

Patut disadari bahwa prime time tabligh di bulan Ramadhan menuntut kualitas materi yang lebih baik. Dakwah dapat dinarasikan menggugah emosi hingga dengan ungkapan yang memperkuat pemahaman dan membangun komitmen. Setidaknya, umat merasa butuh akan pencerahan terkait esensi puasa, hakikat takwa, urgensi kejujuran, dan solidaritas sosial. 

Ramadan boleh disebut momentum peneguhan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin –di tengah-tengah tantangan global yang semakin berat. Tabligh berpeluang membangun narasi terkait pahala dan dosa. Seorang mubaligh akan lebih mengena dan bijak apabila membahas keadilan, etika sosial, dan tanggung jawab kemanusiaan. Pesan-pesan tentang zakat, infak, dan solidaritas sosial menemukan relevansinya di bulan ini.

Dalam tradisi gerakan dakwah seperti Muhammadiyah, Ramadan sering dimaknai sebagai bulan tajdid ruhani –suatu upaya upgrading dan enlightening ruhani. Prime time tabligh secara verbal memperbanyak ceramah dan non verbal memperkuat gerakan nyata: santunan, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Dakwah menjadi perpaduan antara kata dan karya. 

Media sosial turut memperluas makna prime time tabligh. Jika dahulu dakwah terbatas di mimbar masjid, kini ia hadir di layar gawai. Potongan kajian, desain kutipan ayat, hingga siaran langsung ceramah menjadikan Ramadhan sebagai musim konten islami –ini diharapkan bisa berlanjut di luar Ramadhan. Tantangannya adalah menjaga kedalaman pesan di tengah arus informasi yang cepat. 

Prime time tabligh juga menuntut keteladanan. Ramadan bukan hanya waktu berbicara, tetapi juga waktu untuk menunjukkan integritas. Mubaligh dan tokoh umat hendaknya menjadi contoh dalam disiplin ibadah, kesederhanaan hidup, dan akhlak yang santun. Ketika pesan sejalan dengan perilaku, dakwah menjadi lebih kuat. 

Ramadan mengajarkan bahwa tabligh adalah tugas para kiai atau ustaz dan setiap Muslim, bahwa masing-masing menjadi duta kebaikan. Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti orang tua memberikan nasihat kepada anaknya, guru membimbing peserta didiknya, hingga pimpinan mengingatkan anak buahnya. Demikian juga, rumah tangga dapat menjadi ruang riil dakwah yang hangat dan penuh spirit hikmah. Momentum demikian terasa lapang untuk menyampaikan topik-topik aktual dengan sudut pandang Islam. Hal-hal dapat dibahas dalam bingkai Ramadhan, misalnya, krisis lingkungan, tantangan moral, problem generasi muda, hingga etika bermedia sosial. Diharapkan prime time tabligh responsif terhadap realitas, agar dakwah yang sedang diupayakan terasa relevan dan kontekstual. 

Ramadan disebut juga bulan Al-Qur’an, maka tabligh terbaik adalah yang mengambil referensi dari wahyu –seperti tadabbur ayat, kajian tematik, dan penguatan literasi Al-Qur’an menjadi inti dakwah. Secara komprehensif, dalam kehidupan sehari-hari, umat dapat diajak aktif melalui aksi baca, pahami dan amalkan kandungannya. 

Bahkan, prime time tabligh menjadi peluang para mubaligh untuk membangun optimisme pada setiap pribadi. Ramadhan merupakan bulan ampunan sekaligus harapan. Bagi seorang mubaligh, pesan-pesan dakwah dapat menumbuhkan spirit hijrah, memperbaiki diri, dan memulai lembaran baru. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk kembali dan mendekat kepada Allah. 

Pemanfaatan Ramadhan sebagai prime time tabligh secara optimal membawa dampak positif sepanjang. Ia akan mewujudkan masyarakat yang peduli, keluarga yang lebih harmonis, dan pribadi yang muttaqin. Ramadan menjadi titik tolak perubahan. 

Tidak luput dari perhatian, Ramadhan mengajarkan bahwa waktu adalah amanah. Prime time tabligh hanya datang sekali dalam setahun. Siapa yang memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh akan memetik buahnya sepanjang tahun. Maka, tugas setiap Muslim adalah menjadikan Ramadhan sebagai panggung dakwah terbaik, agar cahaya kebaikan terus menyala bahkan setelah hilal Syawal terlihat.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi Saya membuka kitab “Hadits Arbain” sebuah buku kumpula....

Suara Muhammadiyah

15 December 2025

Wawasan

Pemimpin Matang di Pohon Oleh : Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso dan ....

Suara Muhammadiyah

27 August 2024

Wawasan

Ancaman terhadap Demokrasi Kita Oleh: Leonita Siwiyanti Baru-baru ini masyarakat dan mahasiswa tur....

Suara Muhammadiyah

27 August 2024

Wawasan

Memaknai Ahlak dalam Pendidikan Oleh Roehan Ustman: Pengasuh PP Ibnul Qoyim Yogyakarta Dalam dunia....

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

Wawasan

Oleh : Drs M Jindar Wahyudi, MAg  Perjalanan hidup manusia tak ubahnya perjalanan waktu yang b....

Suara Muhammadiyah

19 September 2024