SIDOARJO, Suara Muhammadiyah - Manusia diciptakan oleh Allah dengan paripurna. Konstruksinya sedemikian rupa, dalam maujud struktur yang terbaik, secara jasmaniah maupun ruhaniah.
Demikian ungkap Syafiq A Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (20/3) saat Khutbah Idul Fitri 1447 H di Lapangan Fasum Bunderan Perumtas 3, Grabagan, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur.
Dasarnya sangat kentara sekali: Qs at-Tiin ayat 4. Secara redaksional, ayat ini menyingkap kalau Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya.
“Kita semua manusia ini dimuliakan oleh Allah SwT,” tegas Syafiq.
Di sinilah titik temu dari Idul Fitri. Pada momen ini, Syafiq mengajak untuk kembali ke fitrah manusia. Maknanya kembali kepada agama Allah SwT.
“Kita kembali kepada tauhid yang semurni-murninya. Kita kembali menjadi manusia sosial yang harus saling tolong menolong, saling mensupport di antara kita. Dan itulah sesungguhnya esensi fitrah manusia,” tekannya.
Fitrah manusia asal muasalnya bersih dari segala benih dosa dan sifat tercela.
Namun, dalam petualangan di belantara kehidupan, niscaya ada alai-belai (bujukan) dari luar untuk melakukan pelbagai tindakan subversif dari kefitrahan manusia.
“Banyak sekali hal-hal yang membuat kita silau dengan kehidupan dunia ini, sehingga kita melupakan Allah. Kita menyimpang dari tauhid karena hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan,” bebernya.
Dampaknya sudah sangat jelas. Manusia tidak bisa menampilkan keluhuran budi. Sifat-sifat luhur seperti kejujuran mulai tereliminasi hatta syahwat nafsu dunyawiyyah yang sangat menggoda.
“Kita ingin berhasil secara instan. Bahkan, dengan cara-cara yang tidak halal, dengan cara-cara yang melukai orang lain, dengan cara-cara yang membuat orang lain menderita. Ini adalah penyimpangan dari fitrah manusia,” jelasnya.
Karena itu Idul Fitri menemukan titik urgensinya. Mengantarkan kembali ke fitrah manusia sebagaimana awal penciptaannya; bersih tanpa tercemari oleh dosa yang mendestruksi esensi fitrah itu sendiri.
“Kita kembali menjadi manusia yang mulia apabila kita berpegang teguh pada fitrah yang diiberikan oleh Allah. Oleh karena kemuliaan dan martabat yang tinggi diberikan Allah sebagai fitrah manusia,” urai Syafiq. (Cris)
